Upaya menurunkan berat badan sering kali mendorong seseorang untuk mencoba berbagai tren diet populer yang menjanjikan hasil instan.
Salah satu metode yang paling sering dilirik adalah diet ekstrem dengan membatasi nutrisi tertentu secara drastis, seperti diet keto yang menghindari total konsumsi karbohidrat dan hanya mengandalkan asupan tinggi lemak.
Di balik popularitasnya, pola pembatasan makanan yang terlalu ketat ini menyimpan berbagai tantangan biologis maupun psikologis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para ahli kesehatan menegaskan, diet ekstrem semacam ini umumnya sangat sulit untuk dipertahankan dalam jangka panjang karena mengabaikan prinsip keseimbangan nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh manusia.
Risiko Kekurangan Nutrisi Esensial
Menerapkan pola makan ekstrem seperti hanya mengonsumsi lemak tinggi tanpa karbohidrat sama sekali sering kali dianggap sebagai jalan pintas terbaik untuk merampingkan tubuh.
Padahal, tubuh manusia tetap memerlukan berbagai komponen gizi seimbang agar metabolisme dapat berjalan secara optimal.
Dokter spesialis gizi klinik, dr Christopher Andrian, M.Gizi, SpGK, menjelaskan, pembatasan jenis makanan secara ekstrem dalam jangka panjang justru sangat sulit diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika seseorang menghindari kelompok makanan tertentu secara total, efisiensi penyerapan vitamin larut lemak seperti vitamin A, D, E, dan K dapat terganggu, yang pada gilirannya berdampak buruk pada kekebalan tubuh hingga kesehatan tulang.
"Karena kalau misalnya kita cuman makan makanan tertentu doang contohnya kayak keto diet, makan cuman lemak doang yang tinggi karbohidrat kita limit sama sekali, dalam jangka panjang itu agak sulit," jelasnya saat ditemui di Jakarta, Kamis (5/11/2026).
"Siapa sih bisa terapin makan lemak terus panjang hari, sepanjang hidup kita? Itu satu. Kedua, komponen makanan itu juga sulit kita bisa dapatkan. Ketiga, dan itu nggak long lasting, kenapa? Karena kita tetep memerlukan yang namanya karbohidrat, kita tetep memerlukan yang namanya lemak," imbuhnya.
Beban Mental di Balik Pembatasan Makanan yang Terlalu Ketat
Selain masalah metabolisme fisik, pembatasan makanan yang terlampau kaku juga memicu tekanan psikologis tersendiri bagi yang menjalaninya.
Rasa cemas berlebih terhadap jenis makanan tertentu kerap kali beririsan dengan gangguan perilaku makan atau masalah kesehatan mental yang lebih luas.
Dokter spesialis kesehatan jiwa, dr Putri Nugraheni, SpKJ, menyoroti, pola restriksi makanan yang tidak diiringi dengan pendekatan psikologis yang sehat sering kali berakar dari tekanan emosional atau trauma masa lalu.
Oleh karena itu, penanganan berat badan yang ideal tidak boleh hanya berfokus pada pelarangan makanan semata, melainkan harus melibatkan keseimbangan emosi dan dukungan profesional secara holistik.
"Biasanya tipe gangguan stres dan cemas yang mengakibatkan orangnya takut makan, jadi sangat merestriksi makanan. Nasi takut, ayam takut, buah-buahan takut, sayur-sayuran takut, jadi banyak sekali yang hanya makan misalnya putih telur saja, dua butir sehari," ungkapnya.
Simak Video "Video: Diet Khusus Atlet Bisa Ditiru Warga Biasa?"
[Gambas:Video 20detik](aur/up)



























































