Kecerdasan buatan (AI) dan teknologi robotik semakin banyak dikembangkan untuk membantu tindakan medis, termasuk operasi. Teknologi ini dapat membantu dokter melakukan tindakan dengan lebih presisi. Namun, benarkah AI bisa menggantikan peran dokter?
Ketua Komite Nasional Teknologi Robotik Bidang Kesehatan, Ir Agus Tjahajana Wirakusumah, S.E, M.Sc, IPU, menjelaskan robot di bidang kesehatan tidak selalu berupa mesin yang dapat bergerak atau melakukan aktivitas secara mandiri. Robot medis justru digunakan untuk membantu dokter dalam melakukan tindakan medis.
Ia mencontohkan, teknologi robotik dapat membantu dokter melakukan operasi dengan teknik minimal invasif, yaitu melalui beberapa sayatan kecil untuk memasukkan kamera dan instrumen bedah. Dengan cara ini, jumlah sayatan dapat dikurangi dibandingkan operasi terbuka.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau dulu yang sebutnya bedah terbuka, perut dibongkar, baru dilihat yang ini, yang ini oh yang ini diperbaiki, dijahit dan sebagainya, nah dengan teknologi itu kita bisa melakukan kita bolongin saja di beberapa tempat, kamera masuk, gunting masuk, stapler masuk, jadi jumlah daripada sayatan itu menjadi sangat sedikit, jadi minim," ujarnya dalam diskusi detikcom Leaders Forum, Selasa (27/10/2026).
BACA JUGA
Menurutnya, perkembangan AI juga dapat meningkatkan kemampuan teknologi robotik dalam membantu dokter. Meski demikian, teknologi tersebut tidak dapat mengambil alih seluruh peran dokter karena setiap pasien memiliki kondisi tubuh yang berbeda.
"Robot itu bukan alat untuk bisa segalanya, tetapi dokter yang memperolehi. Dokter punya pengetahuan kemudian pengetahuan itu dia pakai untuk mempercepat," ujarnya.
Agus menjelaskan, AI dapat membantu mengumpulkan dan membandingkan data hasil operasi yang tersimpan dalam sistem berbasis cloud. Data tersebut kemudian dapat digunakan untuk memberikan rekomendasi kepada dokter mengenai tindakan yang mungkin diperlukan pada pasien.
Namun, rekomendasi AI tidak selalu memiliki tingkat kepastian 100 persen. Menurut Agus, tingkat kepastian berdasarkan statistik bisa berada di kisaran 80-90 persen. Karena itu, dokter tetap dibutuhkan untuk mengevaluasi rekomendasi dan menentukan tindakan yang tepat.
"Oleh karena itu fungsi dokter adalah menentukan di akhir dan menentukan kualitas daripada itu. Alat itu hanya bisa dipakai pertama mempercepat, membuat lebih teliti, dan membuat kepastian yang lebih bisa diukur, tapi mengatakan yes or no dan menentukan dan keamanan dan sebagainya itu adalah para spesialis itu," pungkasnya.
Dengan demikian, AI dan robotik berperan sebagai teknologi pendukung untuk membantu meningkatkan presisi dan efisiensi tindakan medis. Keputusan akhir, penilaian kondisi pasien, dan pertimbangan keamanan tetap berada di tangan dokter.

























































