Narsih Kurniawati tampak mengambil nomor antrean sebelum membeli kebutuhan rumah tangga dalam Gerakan Pangan Murah (GPM) di Kabupaten Bogor. Dari kegiatan tersebut, ia berhasil memperoleh beras, telur, minyak goreng, dan gula dengan harga yang dinilai lebih terjangkau dibandingkan harga pasar.
Selisih harga tersebut menjadi manfaat nyata yang dirasakan Narsih saat menghadiri puncak peringatan Hari Pangan Sedunia tingkat Kabupaten Bogor 2026. Kegiatan ini memang difokuskan untuk menghadirkan bahan pokok dengan harga terjangkau bagi masyarakat luas.
"Alhamdulillah, harganya lebih murah dibandingkan di pasar. Tadi saya mendapatkan beras, telur, minyak goreng, dan gula. Untuk mendapatkannya, kami mengantri terlebih dahulu mengambil nomor antrian, kemudian membayar dan menerima barang," ujar Narsih, Minggu (25/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia membandingkan harga beberapa bahan pangan dengan pengeluarannya saat berbelanja di pasar tradisional. Telur yang biasanya dibeli sekitar Rp25.000, ditawarkan seharga Rp21.000 dalam kegiatan tersebut.
Minyak goreng yang menurut Narsih biasa dijual Rp20.000 hingga Rp21.000, dapat diperoleh seharga Rp17.000. Sementara itu, gula yang biasanya dibeli sekitar Rp17.500, dijual seharga Rp14.000. Perlu dicatat, keterangan yang disampaikan tidak merinci satuan atau ukuran kemasan masing-masing komoditas.
Hasan Basri, warga lainnya, turut memanfaatkan kegiatan tersebut untuk berbelanja kebutuhan rumah tangga. Kehadiran pangan murah ini memberikan alternatif bagi pengunjung untuk memperoleh bahan pokok dengan pengeluaran yang lebih ringan.
Selain berbelanja, warga juga bisa mendapatkan bibit pohon secara gratis. Narsih mengapresiasi pembagian tersebut sebagai nilai tambah bagi masyarakat yang hadir.
Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan. Baginya, keterjangkauan harga bahan pokok sangat krusial bagi pemenuhan kebutuhan sehari-hari keluarga.
Harapannya juga mencakup aspek kesempatan kerja dan keberlangsungan sektor pertanian. Ia ingin warga semakin mudah memperoleh pekerjaan dan para petani tetap bersemangat menjalankan usahanya.
"Harapannya, harga kebutuhan pokok bisa lebih murah, mencari pekerjaan semakin mudah, dan para petani juga semakin semangat bertani," ungkapnya.
(tya/tya)























































