Keluarga dokter yang dituduh memukul pramugara dalam penerbangan Lombok-Jakarta pada 25 Oktober 2026 buka suara. Keluarga membantah sang dokter melakukan pemukulan dan menyampaikan versi kejadian dari sudut pandang dokter.
Klarifikasi tersebut disampaikan puri dr. Alexander Saudale, Sp.PD. melalui akun Threads @gracesaudale_. Dia mengatakan ingin meluruskan informasi yang sebelumnya beredar karena dinilai belum memuat keterangan dari keluarga.
"Di sini saya ingin menghubungi pihak yang bersangkutan untuk mengklarifikasi apa yang terjadi dari POV papa saya, karena menurut saya informasi yang diberikan masih kurang dan sangat menyudutkan," tulisnya dikutip detikTravel, Kamis (29/10/2026) dan telah diizinkan oleh pemilik akun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut keluarga, penerbangan saat itu mengalami keterlambatan hampir tiga jam. Setelah penumpang diperbolehkan masuk ke pesawat, dokter naik melalui pintu belakang dan menanyakan lokasi kursi 22C kepada seorang pramugara.
Dokter disebut membawa tiga tas kabin dan satu tas ransel saat berjalan melewati lorong pesawat. Dia kemudian menanyakan kembali soal keterlambatan penerbangan.
Keluarga menyebut tangan dokter mengenai bagian perut pramugara ketika melewati lorong pesawat yang sempit.
"Karena lorongnya sempit, tangan papa saya tidak sengaja mengenai perut pramugara tersebut," tulisnya.
Dia mengatakan sang ayah kemudian langsung meminta maaf. "Papa saya kaget dan langsung berkali-kali minta maaf," dia menambahkan.
Setelah itu, dokter melanjutkan ke tempat duduknya dan mengira persoalan telah selesai. Namun, beberapa saat kemudian dokter dipanggil ke bagian depan pesawat.
Menurut keluarga, dokter diberitahu bahwa dirinya dituduh melakukan pemukulan karena pramugara mengeluhkan bagian perutnya terasa sakit.
"Papa saya kembali meminta maaf berkali-kali," tulisnya.
dr Alex kemudian disebut diminta turun dari pesawat dan bertemu dengan petugas keamanan bandara. Di sebuah ruangan, dokter diminta menjelaskan kronologi dan membuat pernyataan tertulis.
Keluarga mengatakan dokter juga sempat diberi pilihan untuk memanggil pramugara tersebut.
"Papa saya ditawarkan untuk memanggil pramugara tersebut turun, tetapi papa saya tidak mau karena merasa kasihan dengan pramugara yang masih muda dan takut dia mendapat masalah," tulisnya.
dr Alex kemudian disebut melakukan video call dengan pramugara itu, yang sudah lebih dulu menyampaikan keluhannya setelah usai peristiwa itu melalui akun @exmanef. Kemudian, dokter tersebut diminta membuat video pernyataan.
Menurut keluarga, dokter sempat mempertanyakan kembali pembuatan video tersebut karena sebelumnya sudah memberikan keterangan tertulis. Namun, dia tetap mengikuti permintaan tersebut karena ingin segera menyelesaikan persoalan dan melanjutkan perjalanan.
"Papa saya diberitahu bahwa video tersebut hanya untuk perusahaan," tulisnya.
Dalam unggahannya, anak dokter juga menjelaskan kondisi sang ayah saat kejadian. Dia menyebut ayahnya mengalami hipoglikemia setelah penerbangan mengalami keterlambatan.
"Papa saya mengalami hypoglycemia karena delay tersebut, papa baru suntik insulin dan hanya makan satu roti," tulisnya.
Keluarga kemudian membantah narasi bahwa sang dokter mengakui telah memukul pramugara.
"Permintaan maaf papa saya bukan berarti papa saya mengakui telah memukul," dia menambahkan.
Keluarga juga mempersoalkan penggunaan gambar berbasis AI yang menggambarkan kejadian tersebut seolah-olah pemukulan benar-benar terjadi.
"Apalagi dengan adanya AI image yang menggambarkan seolah-olah kejadian tersebut benar-benar terjadi," tulis dia.
Putri dr Alex juga menyebut keluarganya mengalami kerugian akibat kejadian tersebut, mulai dari kehilangan waktu hingga harus membeli tiket penerbangan baru karena tiket sebelumnya tidak dapat digunakan.
Di akhir unggahannya, keluarga meminta persoalan tersebut diselesaikan berdasarkan bukti dan prosedur yang berlaku.
"Kami berharap masalah ini dapat diselesaikan secara objektif berdasarkan bukti yang ada, bukan berdasarkan narasi yang berkembang di media sosial," tulisnya.
Keluarga juga mempertanyakan penyebaran video pernyataan dokter dan data pribadinya. Mereka menyatakan siap mengambil langkah hukum apabila narasi bahwa dokter telah mengakui melakukan pemukulan terus disebarkan.


























































