Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 merupakan salah satu tonggak sejarah yang mengabadikan semangat pemuda-pemudi bangsa dalam memperjuangkan kemerdekaan. Sumpah Pemuda tidak hanya ditandai sebagai peristiwa kebangsaan, melainkan juga menjadi momentum refleksi spiritual keagamaan.
Hal ini karena peristiwa Sumpah Pemuda tidak luput dari perjuangan organisasi Islam yang turut berperan aktif dalam membela Tanah Air.
Berikut adalah jejak organisasi Islam dalam peristiwa Sumpah Pemuda dan perjuangan kemerdekaan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jejak Organisasi Islam dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia
Perjuangan kemerdekaan Indonesia tak luput dari peran organisasi Islam di dalamnya, salah satunya adalah Jong Islamieten Bond (JIB). Menukil dari buku Jejak Perjuangan Para Tokoh Muslim Mengawal NKRI karya Lukman Hakiem, JIB hadir untuk menjadi wadah semangat para pelajar dan pemuda Islam.
JIB lahir dengan tujuan kepentingan agama dan negara, sehingga organisasi ini memiliki kedudukan penting mengenai nasib bangsa Indonesia. JIB menjadi pendukung utama ketika muncul gagasan untuk menyelenggarakan Kongres Pemuda yang menjadi cikal bakal peristiwa Sumpah Pemuda.
Kongres Pemuda Terlaksana Atas Semangat Persatuan
Dijelaskan dalam buku Jejak Sejarah Indonesia oleh Sigit Pandu dkk, setelah Kongres Pemuda I terlaksana, para pemuda menyadari perjuangan kemerdekaan Indonesia hanya akan tercapai melalui persatuan.
Oleh karena itu, Kongres Pemuda II kemudian dilaksanakan dalam tiga sesi di tiga tempat berbeda yang melibatkan berbagai lapisan masyarakat dan organisasi, termasuk organisasi Islam JIB. Di antaranya Jong Java, Jong Batak, Jong Celebes, Jong Sumatranen Bond, Jong Ambon, hingga pengamat dari kalangan pemuda Tionghoa.
Hasil rumusan dari Kongres Pemuda II melahirkan ikrar Sumpah Pemuda yang dibacakan pada tanggal 28 Oktober 1928. Peristiwa pembacaan ikrar inilah yang hingga kini ditetapkan sebagai peringatan nasional Hari Sumpah Pemuda.
Peran JIB dalam Peristiwa Sumpah Pemuda
Dilansir dari laman resmi Kementerian Agama (Kemenag) RI, perumusan peristiwa Sumpah Pemuda tidak luput dari peran nyata JIB.
Dalam pelaksanaan Kongres Pemuda II, JIB mengirimkan delegasi yang berperan aktif menyumbangkan pemikiran ajaran Islam. Menurut arsip Kolonial Instituut Amsterdam dan catatan De Indonesische Student, sumpah sebagai bentuk ikrar dipengaruhi oleh tradisi baiat (baiah) diturunkan dari ajaran Islam yang dekat dengan lingkungan santri dan organisasi Islam.
Selain itu, banyak peserta kongres yang berasal dari kalangan santri pergerakan, seperti Soekarno. Disebutkan pula bahwa perumus naskah Sumpah Pemuda, Mohammad Yamin sering berdiskusi dengan tokoh-tokoh JIB dan Sarekat Islam tentang makna kesatuan bahasa dan bangsa dalam perspektif Islam.
Hal ini menunjukkan bahwa semangat Sumpah Pemuda tidak tumbuh hanya dari rasa nasionalisme, melainkan juga dari cerminan moral dan nilai-nilai agama Islam.
(kri/kri)




































































