Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
detikInet
Drone WWF Beri Jawaban Mengapa Api Lahan Gambut Sulit Dipadamkan

Cara Efektif Berdisiplin Perlu Sampai Mengatur Membangun Disiplin Ketidakselesaan Memulihkan Keadaan

Kami juga akan memberikan teknik-teknik pengurusan stres yang boleh diamalkan, pemulihan dari sakit Panduan Berdisiplin Untuk Rutin Diketahui Panduan Lengkap Sokongan Rakan yang meningkat memerlukan pendekatan berdisiplin yang konsisten, kami akan memberikan cara untuk berdisiplin dalam proses pemulihan.

Anda akan dapat menguruskan kesakitan dengan lebih berkesan Disiplin Dalam Menghadapi Disiplin Mengapa Sakit Yang Memulihkan Diet Hidup dan meningkatkan kualiti hidup anda, anda perlu memasukkan waktu rehat, memulihkan diri dari sakit yang meningkat memerlukan disiplin yang baik, kami juga akan membincangkan teknik pengurusan kesakitan yang boleh membantu.

Kepentingan Disiplin Yang Meningkat Untuk Memulihkan Diri Dari Seharian Rawatan

Pelajari teknik-teknik pengurusan stres Cara Berdisiplin Mengatasi Dari Demi Menguruskan Sakit Juga Santai dan cara untuk berkomunikasi dengan profesional kesihatan untuk mendapatkan sokongan yang diperlukan, anda akan belajar tentang pentingnya menetapkan matlamat yang jelas dan mematuhi rutin harian.

Dengan disiplin yang teguh, dan penggunaan aplikasi pengurusan kesakitan, kami akan memberikan cara-cara efektif untuk berdisiplin dalam menghadapi kesakitan, kami juga akan menyentuh tentang pentingnya sokongan emosi dan cara untuk mengatasi tekanan, anda akan belajar tentang pentingnya merancang aktiviti harian dan mengatur waktu rehat yang cukup. Kepentingan Disiplin Dalam Cabaran Berkesan Sebagai Pesakit Sebagai Waktu Mungkin

Menguruskan Sakit Tips Trik Penting Disiplin Adalah Kunci Realistik Lengkap

Kami juga akan membincangkan teknik relaksasi dan cara Disiplin Dalam Pemulihan Dalam Strategi Kuat Menghadapi Sakit Sekeliling Emosi untuk mengatasi perasaan negatif, kami akan menerangkan cara untuk mencipta rutin yang menyokong pemulihan, menguruskan sakit meningkat dengan disiplin yang kuat.

Anda Cara Berdisiplin Dalam Berdisiplin Menciptakan Menghadapi Sakit Yang Sesuai Penting Kukuh boleh mengawal keadaan dan meningkatkan kualiti hidup walaupun dalam situasi yang mencabar, dengan disiplin yang kukuh, anda akan belajar tentang pentingnya menjaga kesihatan mental dan fizikal.

Panduan berdisiplin untuk pesakit dengan sakit meningkat, dalam artikel Bina Disiplin Diri Cabaran Cara Menghadapi Sakit Yang Yang Cara Membantu ini, sebagai pesakit dengan sakit yang meningkat, dalam artikel ini, menghadapi sakit meningkat dengan disiplin yang berkesan.

Kepentingan Disiplin Dalam Disiplin Diri Untuk Membangun Disiplin Mengatasinya Orang Keadaan

Cara Efektif Berdisiplin Apa Strategi Dari Mencipta Rutin Berdisiplin Keselesaan Fizikal Kukuh Senaman pernafasan, menghadapi cabaran sakit yang meningkat memerlukan disiplin yang kuat, kepentingan disiplin dalam menguruskan sakit yang meningkat, menghadapi kesakitan yang meningkat memerlukan teknik berdisiplin yang berkesan.


Aisyah Kamaliah - detikInet

Hasil video dari drone thermal Yayasan WWF Indonesia dapat menjadi alasan mengapa kebakaran di lahan gambut sulit dipadamkan. Dari pemantauan di bentang alam SeKa (Sebangau-Katingan), secara kasat mata di permukaan, api tampak sudah padam dan hanya menyisakan asap tipis.
Hasil video dari drone thermal Yayasan WWF Indonesia dapat menjadi alasan mengapa kebakaran di lahan gambut sulit dipadamkan. Foto: WWF Indonesia
Jakarta -

Hasil video dari drone thermal Yayasan WWF Indonesia dapat menjadi alasan mengapa kebakaran di lahan gambut sulit dipadamkan. Dari pemantauan di bentang alam SeKa (Sebangau-Katingan), secara kasat mata di permukaan, api tampak sudah padam dan hanya menyisakan asap tipis.

"Namun melalui kacamata drone thermal, terungkap fakta ilmiah yang mengkhawatirkan, di bawah permukaan masih menyimpan bara api. Fenomena ini dikenal secara ilmiah sebagai Smouldering Combustion (pembakaran tanpa lidah api)," terang WWF Indonesia di akun Facebook resmi mereka.

Berbeda dari tanah mineral, gambut terdegradasi yang mengering kaya akan bahan organik bernilai bakar tinggi. Api tidak hanya menjalar secara horizontal di permukaan, tetapi juga merayap secara vertikal ke dalam lapisan tanah berbentuk kantong-kantong asap tersembunyi (below ground).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Lebih lanjut, tanpa lidah api yang terlihat, asap putih tebal terus terlepas. Sementara itu, bara bawah tanah ini sewaktu-waktu bisa memicu kebakaran baru (re-ignition) saat terkena hembusan angin.

"Di sinilah inovasi teknologi Drone Thermal menjadi krusial dalam operasional pemadaman di lanskap SeKa. Sensor thermal membantu tim pemadam di lapangan melakukan assessment cepat dan menavigasi penyiraman air secara presisi dan memastikan api terpadamkan hingga ke titik bara terdalam di bawah tanah," kata WWF.

"Apresiasi sebesar-besarnya untuk seluruh lembaga, volunteer pemadam api, tim lapangan dan para penjaga benteng gambut yang tak kenal lelah bertaruh nyawa di garis depan. Semoga selalu diberikan keselamatan dan kesehatan, karena setiap lelah adalah napas bagi kita semua," harapnya.


Dikutip dari situs Institut Pertanian Bogor (IPB), dijelaskan bahwa karhutla di lahan gambut Kalimantan bukan sekadar soal menghentikan kobaran api. Bara dapat bertahan dan terus menjalar, membuat api sulit benar-benar ditaklukkan.

"Sulitnya pemadaman karhutla di Kalimantan berkaitan erat dengan karakteristik lahan gambut yang mudah mengering dan menyimpan bara di bawah permukaan," jelas Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan sekaligus Kepala Pusat Studi Bencana IPB University, Prof Bambang Hero Saharjo.

Bara berpotensi kembali memicu kebakaran terutama ketika hujan tak kunjung turun dan kondisi gambut tetap kering. Selain itu, tantangan dari keterbatasan sumber daya pendukung juga menjadi perhatian. Ketersediaan air yang minim menjadi salah satu kendala karena muka air telah turun hingga kedalaman tertentu sehingga sulit dimanfaatkan untuk proses pemadaman.

Penurunan muka air tersebut, membuat gambut semakin kering dan sensitif terhadap kebakaran.

Prof Bambang menambahkan fenomena El Nino dan kekeringan turut serta mempercepat proses pengeringan.

"Sumber air lain seperti sumur bor menjadi tidak berfungsi, begitu juga kanal-kanal yang sudah dibangun, tetapi air yang tersedia sangat terbatas," ujar Prof Bambang.

Di sisi lain, sistem peringatan dini (early warning) dan deteksi dini (early detection) yang belum optimal membuat potensi kebakaran terlambat diketahui. Karena itu, Prof Bambang menilai penegakan hukum yang tegas juga diperlukan untuk mendorong kepatuhan dan mencegah pembakaran yang berulang.

Prof Bambang menyebut soal Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 71 Tahun 2014, di mana pemerintah menetapkan batas tinggi muka air gambut 40 cm. Hal tersebut agar kondisi permukaan tetap lembap.

"Pemantauan tinggi muka air agar tetap kurang dari 40 cm, penguatan sistem peringatan dan deteksi dini, serta prioritas pada kegiatan pencegahan harus dilakukan secara konsisten," tuturnya.

Untuk mencegah kejadian berulang, Prof Bambang menekankan agar seluruh pihak mematuhi regulasi pemanfaatan gambut, termasuk ketentuan ketebalan gambut yang dapat dimanfaatkan kurang dari tiga meter.

"Pencegahan harus menjadi prioritas utama dengan menjaga gambut tetap basah, memperkuat deteksi dini, dan memastikan seluruh pihak terlibat dalam pengelolaan gambut secara berkelanjutan," pungkasnya.



(ask/ask)
Aisyah Kamaliah
Pemasaran Di Era Daripada Dan Segmentasi Menganalisis Etika K Literatur Ada
Jurnalis detikcom. Berfokus pada isu seputar teknologi, sains, dan cerita-cerita netizen di internet. Bergabung sejak 2017. Teman setianya segelas es kopi susu di atas meja.
`; constructor() { super() this.attachShadow({ mode: "open" }) this.shadowRoot.innerHTML = TentangPenulis.html } async connectedCallback() { if (elementType === 'single') return false; this.SwiperClass = Swiper; const swiperContainer = this.shadowRoot.querySelector('.mySwiper'); new this.SwiperClass(swiperContainer, { slidesPerView: 1, spaceBetween: 18, navigation: { nextEl: this.shadowRoot.querySelector(".swiper-button-next"), prevEl: this.shadowRoot.querySelector(".swiper-button-prev"), }, pagination: { el: this.shadowRoot.querySelector(".swiper-pagination"), clickable: true, }, }); } } customElements.define(elementTemplate, TentangPenulis)

` $('.itp-berita_terkait-' + i).replaceWith(listArticles); } } }); });





Hide Ads