Penjualan mobil low cost green car (LCGC) terus turun dari tahun ke tahun. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menilai pertumbuhan mobil listrik menekan laju mobil LCGC dan konvensional.
"Memang LCGC waktu kita launching sekitar tahun 2012-2014 itu cukup berhasil. Itu program pemerintah yang sangat sukses sampai market share-nya mencapai 24% dari total penjualan mobil. Tapi sekarang karena sudah ada teknologi lain yaitu Electric Vehicle (EV), tren kendaraan listrik memang naik. Itulah salah satu penyebab turunnya LCGC dan mobil konvensional lainnya," ujar Ketua Umum Gaikindo Putu Juli dikutip dari CNBC Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikutip dari data wholesales (distribusi pabrik ke dealer) Gaikindo, mobil LCGC sudah terdistribusi sebanyak 83.997 unit sepanjang Januari-September 2026. Angka tersebut minus 11 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Penjualan LCGC terus turun dalam tiga tahun terakhir, berikut ini datanya:
- 2023: 204.705 unit
- 2024: 176.766 unit
- 2025: 122.686 unit
- 2026 (Jan-Sept): 83.997 unit.
Bandingkan saat puncak kejayaan LCGC pada 2016 itu bisa tembus 235.171 unit, saat LCGC 7-seater keluar.
Awalnya LCGC diposisikan sebagai mobil pertama dengan harga terjangkau (di bawah Rp150 juta). Namun saat ini, banyak model LCGC tembus Rp180 juta-Rp200 juta ke atas. Kenaikan harga akibat regulasi emisi, penambahan fitur, dan biaya produksi membuat daya tarik "low cost" semakin pudar.
Situasi ekonomi yang tidak stabil membuat banyak calon pembeli menunda membeli mobil pertama. Segmen LCGC yang menyasar pembeli baru menjadi paling terdampak karena mereka sangat sensitif terhadap kenaikan harga dan suku bunga kredit.
"Penurunan daya beli masyarakat karena inflasi dan suku bunga tinggi menjadi faktor utama yang mempengaruhi penjualan mobil saat ini. Penurunan daya beli masyarakat karena inflasi dan suku bunga tinggi menjadi faktor utama yang mempengaruhi penjualan mobil, selain itu, kenaikan harga segmen terbesar LCGC juga mempengaruhi keputusan pembelian konsumen," ujar Pengamat Otomotif, Yannes Pasaribu kepada detikOto, beberapa waktu yang lalu.
Putu mengatakan mobil murah ke depan tidak harus selalu menggunakan mesin pembakaran internal atau Internal Combustion Engine (ICE). Saat ini pasar otomotif Indonesia diberikan pilihan mobil listrik dengan banderolan di bawah Rp 200 juta.
"Jadi sebenarnya ini masa peralihan. Kalau kita mau mempertahankan segmen pembeli mobil pertama (new entry), teknologinya memang harus mengarah ke Electric Vehicle. Jadi mobil murah (LCGC) itu tidak harus ICE (mesin pembakaran internal), bisa saja bentuknya Hybrid atau Plug-in Hybrid, yang penting affordability-nya (keterjangkauannya) tercapai dan harganya murah. Itu sudah kita sampaikan juga," kata Putu.






















































