Kram otot kaki atau exercise-associated muscle cramps (EAMC) agaknya menjadi salah satu "momok" bagi para pelari. Biasanya, masalah ini kerap muncul ketika race day.
Namun, masih banyak yang meyakini bahwa cooling spray yang memiliki sensasi dingin ketika disemprotkan dapat menjadi "obat" untuk mengobati kram otot tersebut. Karenanya, banyak yang panik ketika tim medis kehabisan spray sementara betis mulai terasa kencang.
Lantas, benarkah cooling spray efektif mengatasi kram?
Menanggapi hal ini, praktisi kebugaran, dr Maria Lestari, B.Med.Sc, P.G.Dip.SEM, SpKO mengatakan bahwa sampai saat ini, belum ada bukti ilmiah yang kuat bahwa penggunaan spray anti-nyeri tersebut efektif untuk menghentikan kontraksi otot yang mengalami kram.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Penanganan awal kram saat olahraga justru lebih dianjurkan dengan menghentikan aktivitas sementara, melakukan peregangan statis scr perlahan pada otot yg mengalami kram, mengevaluasi kondisi atlet," kata dr Maria kepada detikcom, Rabu (28/10/2026).
Biasanya, jenis spray yang banyak disemprotkan ke pelari yang mengalami kram adalah topical anti-inflammatory spray. Ini cukup mudah dibeli di apotek atau e-commerce.
"Jika mengandung obat anti-inflamasi nonsteroid atau NSAID, spray dapat membantu mengurangi nyeri akibat kondisi muskuloskeletal tertentu, seperti keseleo atau cedera otot ringan," kata dr Maria.
"Berbeda dengan cooling spray, produk ini memiliki efek farmakologis anti-inflamasi. Tapi manfaatnya ga bisa disamakan dengan kemampuan menghentikan kram otot," sambungnya.
dr Maria menekankan bahwa penggunaan spray untuk menutupi rasa nyeri agar atlet bisa memaksakan diri melanjutkan lomba justru berpotensi bikin kondisi cedera nggak teridentifikasi dengan baik.
(dpy/up)


























































