Keberadaan jalur kereta api peninggalan Hindia Belanda meninggalkan jejak dalam perkembangan kota-kota di Indonesia, terlebih di kota besar. Bukan hanya untuk mendukung transportasi saja tetapi juga mempengaruhi lini kehidupan lainnya.
Dalam sebuah panel diskusi daring yang digelar oleh Bumi Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI), Kamis (29/10/2026) peneliti dan juga kandidat doktoral di Universitas Groningen Belanda, Arida Fitriana Yasmin, menjabarkan pembangunan jaringan kereta api pada masa Hindia Belanda awalnya ditujukan untuk mengangkut hasil perkebunan ke pabrik dan pelabuhan.
"Perluasan jaringan kereta api tidak hanya ditujukan untuk kepentingan ekonomi, tetapi juga untuk menjalankan fungsi politik. Dengan membuat wilayah-wilayah terpencil menjadi lebih mudah dijangkau, jaringan ini memfasilitasi kendali administratif sekaligus memperkuat kekuasaan kolonial," jelas Arida.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seiring waktu, kereta api tidak hanya mengangkut hasil perkebunan seperti tebu, kopi, dan karet. Moda transportasi ini juga melayani penumpang dan mengubah pola perjalanan masyarakat.
"Kehadiran kereta api dan trem mengubah pola mobilitas serta menciptakan peluang baru untuk bepergian, berdagang dan berinteraksi secara sosial," lanjutnya.
Pengaruhnya terlihat di sejumlah kota di Pulau Jawa. Di Batavia, misalnya, ia menyebut jaringan kereta api dan trem menghubungkan kawasan pusat kota dengan wilayah pinggiran.
Kemudian, di Surabaya kehadiran trem listrik turut mendorong perkembangan kawasan permukiman. Adapun, jaringan kereta api penumpang di Semarang yang ikut mendukung perluasan kota.
Peran kereta api juga menonjol di kota-kota pedalaman seperti Bandung dan Malang. Menurut Arida, akses transportasi tersebut mendorong perkembangan kawasan industri dan permukiman.
Diskusi daring BPPI dengan tajuk 'Perkeretaapian dalam Transformasi Kota-kota di indonesia'. (Muhammad Lugas Pribady/detikcom) |
"Jalur kereta api tidak hanya membebaskan kawasan tersebut dari keterasingan, tapi juga mendorong berkembangnya berbagai kegiatan, mulai dari sektor militer, industri hingga permukiman," ujar Arida.
Pada awal pembangunannya, sejumlah stasiun berada di pinggiran kota karena pertimbangan harga lahan dan efisiensi biaya. Namun, ketika kota berkembang, jalur kereta api justru menjadi bagian penting dari struktur perkotaan.
Hingga kini, warisan perkeretaapian kolonial masih dapat ditemukan dalam bentuk stasiun, jalur bersejarah, dan bangunan pendukung. Tetapi, sebagian jalur sudah tidak aktif.
"Sejak era pascakolonial, banyak jalur yang terhenti. Hampir dua ribu kilometer jalur sudah tidak aktif lagi. Namun, banyak juga infrastruktur yang sudah dilestarikan, ada juga beberapa stasiun yang diubah menjadi museum," sambungnya.
Pemanfaatan Warisan Jalur Kereta Api
Dewasa ini, Arida menyebut warisan terkait jalur kereta api Hindia Belanda masih rentan, sehingga perlu dipahami sebagai bagian dari sejarah perkembangan kota, bukan sekadar peninggalan fisik.
Sejumlah kawasan mulai memanfaatkan warisan perkeretaapian untuk mendukung pengembangan kota. Di Kota Tua Jakarta, misalnya, Stasiun Jakarta Kota dan area di sekitarnya dapat menjadi bagian dari konektivitas kawasan bersejarah.
Sementara di Kota Lama Semarang, sisa lahan terbuka perusahaan trem dilestarikan sebagai bagian dari museum yang menceritakan sejarah perkembangan kawasan tersebut.
"Penting mengembalikan kereta api dalam konteks perkotaannya karena akan ada peluang besar, tidak hanya untuk melestarikan warisan perkeretaapian untuk masa depan. Tetapi juga untuk memanfaatkannya sebagai katalis yang mendukung perkembangan perkotaan di Indonesia," katanya.
Simak Video "Video: RI Mau Tambah 14.000 Km Jalur Kereta Baru, Butuh Anggaran Rp 1.200 T"
[Gambas:Video 20detik](upd/wsw)



























































