Menjadi petugas kesehatan jemaah haji bukan hanya soal menangani keluhan medis. Ada banyak cerita menarik yang dialami dokter saat mendampingi jemaah selama menjalankan ibadah di Tanah Suci. Salah satunya dialami dr Gia Pratama ketika mendapat amanah menjaga 500 jemaah haji Indonesia.
Dalam acara Talkshow: Gen Z Naik Haji di Jakarta International Convention Center pada Kamis (15/10/2026), dokter sekaligus penulis ini mengaku memiliki target sederhana selama menjalankan tugasnya, yakni memastikan seluruh jemaah yang menjadi tanggung jawabnya berangkat dan kembali ke Tanah Air dengan selamat.
"Ketika itu saya diamanahkan menjaga 500 jemaah haji Indonesia. Jadi saya goalsnya adalah berangkat 500, pulang juga harus 500," ujar dokter yang memiliki 3,2 juta pengikut di sosial medianya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, kenyataan di lapangan justru menghadirkan cerita yang tidak terduga. Jumlah jemaah yang didampinginya saat kembali ke Indonesia ternyata bertambah satu orang.
"Betul, nggak boleh kurang apalagi nambah," seru Inayah Wahid, selaku moderator dalam acara tersebut.
"Oh nambah. Nambah itu gimana ceritanya mbak? Jadi pas pulang, ternyata jadi 501. Ada yang hamil di sana. Udah muntah-muntah, saya kasih obat buat lambung enggak sembuh-sembuh. Bu, boleh nggak tolong respek? Pas tespek positif garis dua. Masyaallah Allah," jelas dokter Gia.
Kisah tersebut menjadi salah satu pengalaman unik yang dialami dokter Gia selama bertugas mendampingi jemaah haji Indonesia.
Tempatkan Jemaah Lansia di Kamar yang Sama
Dalam menjalankan tugasnya, dokter Gia tidak hanya menangani jemaah yang mengalami gangguan kesehatan. Ia juga melakukan pemetaan berdasarkan tingkat risiko kesehatan agar kondisi jemaah dapat dipantau dengan lebih baik.
Dari 500 nama jemaah yang menjadi tanggung jawabnya, dokter Gia mengelompokkan mereka ke dalam kategori risiko tinggi, sedang, dan rendah.
Perhatian khusus diberikan kepada jemaah lanjut usia. Bahkan, beberapa jemaah berusia 80 tahun ke atas ditempatkan dalam satu kamar bersama dirinya agar lebih mudah dipantau.
"Ada jemaah yang usianya 80, 81, 82, 83, 84. Itu saya bikin satu kamar sama saya. Jadi biar bisa kepantau. Dan jemaah yang usianya 84 tahun itu demensia. Jadi lupa hari itu, ngapain," jelasnya.
Di tengah tanggung jawab tersebut, dokter Gia juga memiliki pengalaman mengharukan sekaligus mengundang tawa bersama seorang jemaah berusia 84 tahun yang mengalami demensia.
Setiap pagi, jemaah tersebut selalu melontarkan pertanyaan yang sama kepada dokter Gia. Dengan bahasa Jawa, ia bertanya, "Kowe sopo?" yang berarti "Kamu siapa?"
Karena mengalami demensia, jemaah tersebut selalu lupa dengan jawaban yang diberikan sehari sebelumnya. Alhasil, dokter Gia pun mencoba memberikan jawaban berbeda setiap kali ditanya.
"Jadi lucu, setiap pagi bangun pagi, mbah itu bangun terus dia lihat saya terus nanya pakai bahasa Jawa 'Kowe Sopo?' Terus besoknya lupa lagi kan, terus bangun pagi nanya lagi. Dan setiap dia nanya, saya jawabnya ganti-ganti," ujar dokter Gia.
Kehabisan Jawaban Saat Ditanya 'Kowe Sopo?'
Dokter Gia menceritakan, pada awalnya ia memperkenalkan diri sebagai dokter Gia. Namun, karena pertanyaan yang sama terus berulang setiap pagi, ia mulai mencoba jawaban-jawaban lain.
"Pas nanya pertama, saya jawab, 'Saya dokter Gia mbah.' Terus saya bilang 'Saya suaminya Syafira mbah.' 'Saya anaknya Amir Hamzah.' Ketika ditanya berkali-kali 'Kowe Sopo'? Aku kehabisan identitasku. Lalu jawabanku 'Tanya gusti Allah,' Ya Allah aku siapa, ya Allah?"
Pengalaman tersebut menjadi cerita tersendiri bagi dokter Gia selama mendampingi jemaah haji, terutama ketika berhadapan dengan jemaah lansia yang membutuhkan perhatian lebih.
Hingga akhirnya, dokter Gia mencoba membalikkan pertanyaan kepada jemaah tersebut.
Alih-alih terus menjawab pertanyaan yang sama, ia bertanya kepada sang jemaah saat hendak pulang ke Tanah Air, "Mbah aku sopo?"
Di luar dugaan, jemaah tersebut menjawab, "Dokter."
Dari berbagai jawaban yang pernah diberikan dokter Gia, rupanya hanya satu identitas itulah yang masih diingat oleh sang jemaah.
Pengalaman ini memperlihatkan bahwa tugas petugas kesehatan haji tidak berhenti pada penanganan medis. Mereka juga dituntut memberikan pendampingan, perhatian, dan kesabaran, terutama kepada jemaah lansia yang membutuhkan pengawasan lebih selama menjalankan ibadah di Tanah Suci.




































































