Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, mengatakan bahwa pendidikan adalah proses yang memungkinkan generasi muda di Indonesia mengembangkan profesi di berbagai sektor. Pada gilirannya, itu bisa memperbesar kemungkinan mendapatkan kesejahteraan dalam hidup mereka.
Mu'ti mengatakan ini kepada 3.030 lulusan SMK dan Lembaga Kursus dan Pelatihan (LPK) yang dilepas untuk berangkat magang dan kerja di luar negeri. Ia juga berpesan agar semua anak bisa menjaga identitas Indonesia.
"Kepada saudara-saudara sekalian yang nanti berangkat ke luar negeri, tentu saya berpesan, selain tadi disampaikan oleh Pak Tatang (Dirjen Dikmendiksus), juga oleh Pak Staf Ahli, bagaimana kalian semua tetap menjaga identitas Indonesia," ucapnya dalam acara yang digelar di Performance Hall FBSB, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Kamis (29/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang nanti mau pulang ke dalam negeri, bagus juga. Tapi seandainya, apabila Anda memutuskan untuk tidak pulang, juga tidak apa-apa. Ini tidak berarti saya mengusir ya," tambahnya.
Sebab, dalam pengalaman kunjungan Mendikdasmen, sering menemui orang Indonesia yang akhirnya tinggal di luar negeri setelah lama bekerja di sana. Banyak yang bekerja di hotel besar di Jerman, membuka warung makan menu Indonesia, dan terbaru, keturunan Indonesia menjadi wali kota di Kanada.
Anak-anak Sekolah Belum Ada yang Bicara Ingin Jadi Petani
Dalam kesempatan tersebut, Mu'ti menceritakan momen dirinya berkunjung ke sekolah-sekolah dan berdialog dengan para siswa SD hingga SMP. Saat siswa ditanya tentang cita-cita mereka, belum ada yang menjawab ingin menjadi petani.
Padahal, lanjut Mu'ti, Indonesia dikenal sebagai bangsa maritim dan memiliki kekayaan alam melimpah. Namun, pengelolaan regenerasi untuk sektor pertanian dan perikanan masih belum maksimal.
"Ketika saya berkunjung ke daerah-daerah, saya selalu berusaha menyempatkan diri berdialog dengan anak-anak. Kalau saya ketemu anak-anak SD, anak SMP, saya tanya, 'Apa cita-cita kalian?' Saya belum pernah menemukan ada yang bercita-cita menjadi petani, yang bercita-cita menjadi nelayan," ungkapnya.
Mu'ti mengungkapkan bahwa kebanyakan dari siswa menyebut ingin menjadi dokter, polisi, tentara, bahkan anggota dewan. Meski begitu, ia pernah menemukan jawaban unik sekaligus menggembirakan dari siswa SD di Wonosobo.
"Pernah saya menemukan sekali, ada yang unik di Wonosobo. Itu ada anak SD kelas 5 saya tanya, 'Apa cita-citanya?' 'Menjadi juragan sapi.' Itu unik," lanjutnya.
Saat berdialog, Mu'ti menjelaskan kepada para siswa bahwa peran petani sangat penting. Bahkan semua pekerjaan membutuhkan produk para petani.
"Saya kemudian bertanya, 'Kalau kalian menjadi dokter, dokter perlu makan enggak?' Perlu. Makanan dari mana? Dari petani. Nah, kalau tidak ada yang jadi petani, dokter mau makan apa?" ungkapnya.
Pertanian Juga Bisa Pakai Alat Canggih
Di banyak negara seperti Jepang, bidang pertanian kekurangan tenaga kerja. Maka itu, banyak orang Indonesia yang bekerja di Jepang sebagai petani.
Generasi muda Jepang juga menunjukkan hal yang sama. Mereka banyak yang meninggalkan sektor pertanian.
Mu'ti menyebut, dalam hal ini, kekayaan alam Indonesia mungkin tidak bisa diolah oleh generasi muda karena tidak ada yang berminat. Maka itu, program keahlian terus diupayakan oleh Kemendikdasmen, salah satunya bidang pertanian.
"Sehingga kebijakan kita untuk program keahlian yang masih kita buka adalah program keahlian yang berkaitan dengan pertanian, kelautan, bahkan kita berikan afirmatif untuk dua program ini (agar) semakin banyak peminatnya," terangnya.
Mendikdasmen juga menyadari bahwa upaya membawa generasi muda ke sektor pertanian tidaklah mudah. Namun, ada hal positif ketika teknologi canggih bisa menarik anak muda.
"Tentu memang tidak mudah karena anak muda sekarang itu biasanya ketika membayangkan petani itu adalah belepotan lumpur, kemudian kulitnya hitam legam, apalagi? Nyangkul, gitu, dan seterusnya," kata Mu'ti.
"Padahal ada banyak pertanian modern yang sudah menggunakan mesin-mesin yang canggih, menggunakan teknologi yang canggih," imbuhnya.
Mu'ti mengatakan bahwa cerita ini menekankan bahwa lulusan SMK yang ke luar negeri tidak hanya sekadar mencari kerja. Mereka membawa misi membesarkan nama Indonesia dan dengan keterampilan yang diraih, bisa berprestasi di berbagai bidang.
"Mudah-mudahan bermanfaat, mudah-mudahan kalian semua sukses di mana pun kalian berada, sukses mencapai cita-cita, dan jangan lupa di mana pun kalian berada, di dada Anda tetaplah Merah Putih. Jangan lupa untuk senantiasa memberikan yang terbaik untuk kemajuan bangsa dan negara kita," pungkasnya.






























































