Kisah Nabi Musa AS terkenal dengan terbelahnya laut merah ketika Firaun beserta pasukannya mengejarnya. Sebagai utusan Allah SWT, beliau diperintahkan untuk berdakwah kepada bani Israil dan penguasa Mesir Raja Firaun.
Diceritakan dalam Qashashul Anbiya susunan Ibnu Katsir terjemahan Umar Mujtahid, Musa AS adalah anak angkat Firaun. Dahulu, Firaun memerintahkan rakyatnya membunuh anak laki-laki yang lahir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tetapi, ibu kandung Musa AS berpikiran meletakkan Musa kecil di sebuah peti dengan diikat tali. Singkat cerita, peti itu tiba-tiba hanyut ditemukan istri Fiarun yang bernama Asiyah.
Menurut buku Kisah Nabi Musa AS karya Abdillah, Asiyah ingin mengadopsi Musa bayi. Mulanya Firaun tidak setuju, namun setelah dibujuk akhirnya Nabi Musa AS menjadi anak angkat Firaun.
Ketika beranjak dewasa, Musa AS diperintahkan berdakwah. Beliau menyampaikan ajaran tauhid dengan didampingi saudaranya, Nabi Harun AS.
Saat tiba waktunya Nabi Musa AS diperintahkan berdakwah kepada Firaun, sang nabi berusaha sebisa mungkin menyampaikan ajaran tauhid dengan lembut. Tetapi, Firaun membangkang.
Kemudian, Allah SWT memberikan Musa AS mukjizat berupa tongkat yang berubah menjadi ular serta tangan yang bercahaya. Hal itu ditunjukkan tepat di depan Firaun, namun ia tetap murka dan mengingkari ajaran Allah SWT.
Firaun lalu meminta tukang sihirnya menunjukkan kemampuan seperti yang dilakukan Nabi Musa AS dengan mengeluarkan ular. Namun, ular-ular penyihir itu dilahap habis oleh ular milik Musa AS.
Peristiwa itu membuat pengikut Firaun percaya kepada Nabi Musa AS dan beriman kepada Allah SWT. Asiyah, ibu angkat Musa AS juga memilih kembali ke ajaran yang benar.
Sayangnya, Firaun semakin marah meski Nabi Musa AS telah menunjukkan mukjizatnya. Ia lantas menyiksa semua pengikut Musa AS, termasuk sang istri Asiyah hingga meninggal dunia.
Allah SWT memerintahkan Nabi Musa AS untuk meninggalkan Mesir. Namun, pengikut Firaun yang tidak beriman terus mengejar Musa AS hingga ke Laut Merah.
Sang nabi bingung karena tak ada jalan selain melintasi laut. Atas izin Allah SWT, Musa AS diperintahkan memukul tongkatnya ke Laut Merah hingga akhirnya lautan itu terbelah dan membentuk jalan.
Bersama pengikutnya, Nabi Musa AS berlari melewati laut itu hingga tiba ke seberang lautan. Firaun dan pengikutnya yang mengejar Musa AS enggan menyerah dan terus mengejarnya lewat jalan laut.
Setelah Nabi Musa AS dan pengikutnya sampai di seberang lautan, Nabi Musa AS kembali diperintahkan memukul tongkatnya ke laut. Jalan yang sebelumnya ada tiba-tiba menutup kembali menjadi lautan hingga menenggelamkan Firaun dan pengikutnya.
Allah SWT berfirman dalam surah Al Baqarah ayat 50,
وَإِذْ فَرَقْنَا بِكُمُ ٱلْبَحْرَ فَأَنجَيْنَٰكُمْ وَأَغْرَقْنَآ ءَالَ فِرْعَوْنَ وَأَنتُمْ تَنظُرُونَ
Artinya: "Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Firaun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan."




































































