Nama Ibnu Al-Haitsam dikenal sebagai salah satu ilmuwan muslim yang memberikan sumbangan besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Pemikirannya dalam bidang fisika dan matematika, khususnya ilmu optik, menjadi salah satu landasan penting bagi pemahaman manusia tentang cahaya dan penglihatan.
Dikutip dari buku Tokoh-Tokoh Besar Islam Sepanjang Sejarah karya Syaikh Muhammad Said Mursi, Ibnu Al-Haitsam memiliki nama asli Muhammad bin Hasan bin Haitsam biasa dipanggil Abu Ali. Dalam perjalanannya, ia dikenal dengan nama Ibnu Haitsam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sartun, salah seorang ilmuwan barat mengatakan, "Ibnu Haitsam adalah ilmuan terkenal di Arab, bahkan pakar ilmu alam terbesar di dunia pada abad pertengahan."
Merujuk buku Sumbangan Peradaban Islam Pada Dunia yang ditulis Prof. Dr. Raghib As-Sirjani, Ibnu Haitsam adalah orang pertama yang meletakkan teori-teori pantulan dan kecondongan dalam ilmu cahaya, mengulas pecahnya cahaya dalam perjalanannya, yaitu pecah yang terjadi disebabkan sarana-sarana seperti air dan kaca serta udara.
Ibnu Haitsam dalam hal ini telah mendahului apa yang dikatakan ilmuan Inggris, Isaac Newton.
Mengenal Sosok Ibnu Al-Haitsam
Ibnu Al-Haitsam lahir di Basra, Irak, pada 354 H atau sekitar tahun 965 Masehi.
Dalam sejumlah literatur sejarah ilmu pengetahuan, namanya juga ditulis sebagai Ibn al-Haytham. Sementara itu, masyarakat Eropa mengenalnya dengan sebutan Alhazen atau Alhacen.
Sejak muda, Ibnu Al-Haitsam dikenal memiliki ketertarikan terhadap berbagai bidang ilmu. Ia mempelajari matematika, fisika, astronomi, dan filsafat alam. Ketertarikannya terhadap ilmu pengetahuan kemudian membawanya melakukan berbagai penelitian yang menghasilkan pemikiran penting.
Ibnu Al-Haitsam tidak hanya mengembangkan teori berdasarkan pemikiran rasional. Ia juga melakukan pengamatan dan percobaan untuk menguji kebenaran suatu pendapat.
Ia kemudian dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah metode ilmiah karena menekankan pentingnya bukti eksperimen dalam penelitian.
Setelah menempuh pendidikan di Basra dan Baghdad, ia pernah bekerja dalam pemerintahan dan disebut pernah menduduki jabatan sebagai hakim.
Ibnu Al-Haitsam wafat di Kairo sekitar tahun 1040 atau 1041 Masehi.
Kitab Al-Manazir, Karya Besar Ibnu Al-Haitsam
Salah satu peninggalan terbesar Ibnu Al-Haitsam adalah Kitab Al-Manazir atau dikenal dalam bahasa Inggris sebagai The Book of Optics.
Karya ini terdiri dari tujuh jilid yang membahas berbagai persoalan terkait cahaya dan penglihatan. Pembahasannya meliputi sifat cahaya, cara kerja mata, persepsi visual, pemantulan cahaya, dan pembiasan.
Melalui buku tersebut, Ibnu Al-Haitsam berusaha menjelaskan proses manusia melihat suatu benda berdasarkan pengamatan dan pembuktian.
Ia juga mengkritik sejumlah teori penglihatan yang berkembang sebelumnya. Pada masa itu, terdapat pandangan bahwa mata mengeluarkan sinar menuju benda sehingga manusia dapat melihatnya.
Ibnu Al-Haitsam justru menjelaskan bahwa penglihatan terjadi ketika cahaya dari sumber tertentu mengenai benda, kemudian cahaya yang dipantulkan benda tersebut masuk ke mata.
Gagasan ini menjadi salah satu perubahan penting dalam pemahaman manusia mengenai proses penglihatan.
Karya Kitab Al-Manazir kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Latin sekitar abad ke-13 dengan judul De Aspectibus. Terjemahan tersebut membantu menyebarkan pemikiran Ibnu Al-Haitsam ke Eropa dan menjadi rujukan bagi perkembangan ilmu optik selanjutnya.




































































