Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng) masih mengakibatkan asap yang mengepung langit. Oleh karena itu, Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melakukan upaya Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Namun, kali ini OMC memanfaatkan bahan semai dry ice atau es kering untuk membantu mengganggu lapisan inversi atmosfer yang berpotensi memerangkap asap. Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani mengatakan dry ice sudah diuji juga pada kasus karhutla di Sumatera Selatan.
"Kami berharap upaya ini dapat membantu mengurangi dampak kabut asap dan mendukung peningkatan kualitas udara bagi masyarakat," kata Faisal dikutip dari laman BMKG, Kamis (29/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apa Fungsi Dry Ice pada Asap Karhutla?
Lebih jelas, Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto menerangkan bahwa lapisan inversi terjadi saat suhu udara meningkat seiring bertambahnya ketinggian pada lapisan atmosfer tertentu.
Kondisi demikian dapat menyebabkan pencampuran udara secara vertikal terhambat. Alhasil, asap dan polutan semakin terperangkap dekat permukaan.
Penyemaian dry ice akan mendorong perubahan kondisi pada lapisan atmosfer dan mendukung pergerakan udara jadi lebih baik. Berdasarkan catatan BMKG, dalam beberapa hari, OMC mampu menurunkan tingkat polusi partikel PM 2.5 sekitar 30-58%. Suhu isotherm pun cenderung menghilang.
OMC Bantu Asap Berkurang
Data dari Stasiun Meteorologi Tjilik Riwut pada 25 Oktober 2026 pukul 00.00-16.00 WIB menunjukkan bahwa OMC mendorong kabut asap berkurang. Jarak pandang yang awalnya 900 meter menjadi 200 meter.
"Data ini menjadi salah satu dasar evaluasi bersama parameter kualitas udara dan hasil pengamatan atmosfer pada lapisan atas," ujarnya.
Direktur Operasional Modifikasi Cuaca, Budi Harsoyo, menjelaskan operasi difokuskan di sekitar Kota Palangka Raya dan Bandara Tjilik Riwut guna mengganggu lapisan inversi di atmosfer. Hingga saat ini, BMKG juga terus memantau jarak pandang, konsentrasi PM2.5 dan sebaran hujan.
Selain itu, pengamatan dilakukan juga lewat radar cuaca dan satelit. Data radar PAC 24H Pangkalan Bun menunjukkan hujan dengan intensitas ringan hingga sedang di wilayah Seruyan dan Kotawaringin Timur.
Adapun hujan dengan intensitas ringan hingga sedang terjadi di wilayah Barito Timur, Katingan, dan Kotawaringin Timur.
"Data satelit GSMaP juga mendeteksi hujan ringan di Seruyan dan Kotawaringin Timur," ujar Budi.
12,8 Ton Dry Ice Telah Dipakai
Dalam melaksanakan OMC, BMKG dibantu oleh delapan pesawat yang terdiri dari pesawat Casa 212 dengan registrasi A-2107, A-2103, dan A-2119; satu pesawat CN-295 dengan registrasi A-2904; satu pesawat Hercules dengan registrasi A-1328; dua pesawat Caravan; serta satu pesawat Pilatus.
"Tim menyesuaikan penggunaan bahan semai dengan kebutuhan operasi dan kondisi atmosfer. Selain dry ice, BMKG menggunakan natrium klorida (NaCl) untuk penyemaian yang disesuaikan dengan pertumbuhan awan di wilayah sasaran," ungkap Budi.
OMC penyemaian dry ice sudah dilakukan sejak 18 Oktober hingga 23 Oktober 2026. BMKG sudah menggunakan total 12,8 ton dry ice dan 3,6 ton NaCl hingga 23 Oktober 2026.
Upaya tersebut dinilai mendorong curah hujan yang cukup signifikan di Kalimantan Tengah dalam tiga hari terakhir. Curah hujan telah membasahi lahan gambut dan menurunkan jumlah titik panas (hotspot) secara drastis.






























































