Kulit buah dan sisa sayuran biasanya berakhir di tempat sampah. Padahal, bahan organik tersebut bisa diolah melalui proses fermentasi menjadi cairan yang dikenal sebagai eco enzyme.
Cairan ini kerap diperkenalkan sebagai salah satu cara memanfaatkan sampah organik rumah tangga. Penggunaannya juga beragam, mulai dari kebutuhan rumah tangga hingga perawatan tanaman.
Namun, apa sebenarnya eco enzyme dan bagaimana awal mula cairan fermentasi ini dikenal?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apa Itu Eco Enzyme?
Eco enzyme merupakan sebutan populer untuk cairan hasil fermentasi bahan organik, seperti kulit buah dan sisa sayuran, yang dicampur dengan gula dan air. Proses fermentasi tersebut berlangsung selama periode tertentu hingga menghasilkan cairan dengan karakteristik khas.
Dalam praktik yang umum diperkenalkan komunitas eco enzyme, bahan-bahan tersebut difermentasi selama sekitar tiga bulan atau 90 hari. Salah satu takaran yang kerap digunakan adalah perbandingan 1:3:10, yakni satu bagian gula, tiga bagian sisa buah dan sayuran, serta sepuluh bagian air.
Berawal dari Garbage Enzyme, Bagaimana Sejarahnya?
Sebelum dikenal dengan nama eco enzyme, cairan fermentasi ini juga populer dengan sebutan garbage enzyme, yang secara harfiah berarti enzim sampah.
Eco enzyme pertama kali dikenalkan oleh Dr. Rosukon Poompanvong dari Thailand, yang dikenal sebagai pendiri Asosiasi Pertanian Organik Thailand dengan nama garbage enzyme. Metode ini diperkenalkan sebagai salah satu upaya memanfaatkan limbah organik, terutama untuk kebutuhan yang berkaitan dengan pertanian dan lingkungan.
Gagasan dasarnya adalah mengolah sisa bahan organik melalui fermentasi agar tidak langsung dibuang. Seiring penyebarannya, praktik pembuatan cairan ini kemudian dikenal oleh berbagai komunitas dan diperkenalkan untuk berbagai keperluan, termasuk cairan pembersih rumah tangga.
Apa Saja Bahan untuk Membuat Eco Enzyme?
Secara umum, bahan yang digunakan untuk membuat eco enzyme meliputi:
- Kulit buah dan sisa sayuran segar.
- Gula atau molase (tetes tebu).
- Air.
Bahan organik tersebut dicampur sesuai takaran, lalu difermentasi dalam wadah yang sesuai. Selama proses berlangsung, gas dapat terbentuk sehingga wadah perlu dikelola dengan benar agar tekanan tidak menumpuk dan menyebabkan kebocoran atau kerusakan.
Lama fermentasi dan kondisi bahan juga dapat memengaruhi karakteristik cairan yang dihasilkan. Karena itu, pembuatan eco enzyme tidak cukup hanya dengan mencampurkan bahan, tetapi juga membutuhkan perhatian terhadap kebersihan, kondisi wadah, dan proses fermentasi.
Beragam Klaim Manfaat Eco Enzyme
Eco enzyme kerap dimanfaatkan oleh komunitas penggiatnya untuk berbagai keperluan, seperti membantu membersihkan permukaan rumah tangga dan mendukung perawatan tanaman.
Namun, klaim manfaat tersebut tidak bisa digeneralisasi untuk semua produk atau kondisi penggunaan. Efektivitasnya perlu dinilai berdasarkan tujuan, konsentrasi, serta cara pemakaian.
Eco enzyme juga tidak seharusnya digunakan sebagai pengganti obat atau perawatan medis yang telah terbukti. Penggunaan pada luka terbuka maupun untuk menangani penyakit perlu dihindari tanpa bukti keamanan dan efektivitas yang memadai.
Apakah Eco Enzyme Ramah Lingkungan?
Pengolahan kulit buah dan sisa sayuran untuk eco enzyme berpotensi menjadi salah satu cara memanfaatkan sebagian sampah organik rumah tangga. Akan tetapi, manfaat lingkungan secara keseluruhan tetap bergantung pada proses produksi, penggunaan hasil fermentasi, serta pengelolaan residunya.
Pembuatan eco enzyme juga bukan satu-satunya cara mengurangi sampah organik. Mengurangi sisa makanan, menggunakan kembali bahan yang masih layak, membuat kompos, dan memilah sampah sesuai jenisnya tetap menjadi pilihan yang dapat disesuaikan dengan kondisi rumah tangga.
Pada akhirnya, eco enzyme dapat dipahami sebagai salah satu praktik pengolahan bahan organik melalui fermentasi. Meski menarik dari sisi pemanfaatan sampah, klaim manfaatnya tetap perlu diperiksa berdasarkan bukti, terutama jika berkaitan dengan kesehatan manusia.
Simak Video "Video: Budidaya 'Belatung' Maggot untuk Bersih-bersih Sampah Organik"
[Gambas:Video 20detik](amf/up)


























































