Makan selaras jam biologis tubuh disebut berpotensi menjaga kesehatan metabolik. Caranya gampang, kamu hanya perlu makan lebih awal sepanjang hari.
Pola makan sirkadian, atau puasa sirkadian, menyelaraskan waktu makan dengan ritme sekitar 24 jam yang mengatur proses di dalam tubuh.
Untuk diketahui, jam pusat di otak, yang disinkronkan cahaya matahari pagi, menyiapkan tubuh aktif pada siang hari dan memulihkan diri pada malam hari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Andrew W. McHill, PhD dari Oregon Health and Science University School of Nursing, makan lebih awal membuat siklus organ pencernaan, seperti hati dan usus, lebih selaras dengan jam pusat.
Sebaliknya, makan larut malam dapat menimbulkan ketidakkonsistenan. Mireille Serlie, MD, PhD, profesor kedokteran internal Yale School of Medicine, menyebut ketidakselarasan sirkadian berkaitan dengan perkembangan penyakit.
Makan dengan mengikuti jam biologis tubuh ternyata punya banyak manfaat. Foto: Getty Images |
Dikutip dari Health (14/10/2026), pekerja shift yang kerap makan saat tubuh seharusnya beristirahat, berisiko lebih tinggi mengalami obesitas, resistensi insulin, diabetes tipe 2, hingga penyakit kardiovaskular.
Sementara itu, sejumlah studi mengindikasikan jadwal makan lebih awal dapat memperbaiki sensitivitas insulin, lemak tubuh, tekanan darah, dan kadar gula darah.
Namun, Amy Shah, MD, dokter sekaligus ahli gizi, mengatakan sebagian besar penelitian berskala kecil dan berjangka pendek.
Belum jelas pula apakah manfaat itu berasal dari pola makannya atau karena kalori yang dikonsumsi berkurang.
Untuk menerapkan pola makan selaras jam biologis tubuh, Serlie menyarankan makan utama pada siang hari, 3 kali sehari dengan camilan seminimal mungkin, serta menjaga jendela makan agar tubuh berpuasa 12-14 jam.
Salah satu yang disarankan ialah menyesuaikan waktu sarapan di pagi hari. Foto: Getty Images/hxyume |
Sarapan bergizi dengan protein cukup dianjurkan untuk mencegah makan berlebihan nanti. Sebab sensitivitas insulin lebih tinggi di awal hari, sehingga makanan kaya karbohidrat kurang dianjurkan.
Namun, pola makan seperti ini tidak cocok untuk semua orang. Shah mengingatkan, pembatasan makan sebaiknya dihindari oleh penderita atau penyintas gangguan makan, pengguna insulin atau obat penurun glukosa, ibu hamil atau menyusui, anak-anak, lansia, dan individu sangat aktif seperti atlet.
Pengguna obat penurun berat badan golongan GLP-1 juga perlu berhati-hati karena obat tersebut menekan nafsu makan.
Joan Salge Blake, EdD, RDN, profesor klinis program nutrisi di Boston University, menyarankan konsultasi dengan ahli gizi terdaftar sebelum mengubah pola makan secara besar-besaran.




























































Zalina Hashim Terkini Penerangan Baru Zalina Hashim Menunjukkan Mendatang Dimiliki
Refleksi Praktik Pembelajaran Diri Azra Content Shah Alam Jawapan Kenyataan