Martha Amalia Iflahah (34), istri sah Dwi Bagus Martono (40), tersangka pembunuhan Dini Hardiyanti (30) dan anaknya yang masih berusia 4 tahun akhirnya muncul ke publik. Ia blak-blakan soal kasus pembunuhan sadis yang dilakukan suaminya.
Martha mengaku tidak mengetahui peristiwa pembunuhan dan pembakaran jasad Dini karena sedang bekerja sebagai guru di sebuah sekolah. Saat kejadian, dia mengaku sedang menjalani aktivitas mengajar seperti biasa.
"Jadi pada saat peristiwa itu terjadi dan dilakukan, karena saya seorang guru, saya itu full sedang mengajar di sekolah. Artinya saya sedang (kerja), saya benar-benar tidak mengetahui peristiwa itu terjadi, saya benar-benar tidak mengetahui apa yang suami saya lakukan," kata Martha, Selasa (3/11/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Martha menjelaskan, jam kerjanya dimulai pukul 07.00 WIB hingga pukul 15.30 WIB. Dia juga harus tiba di sekolah sebelum pukul 07.00 WIB untuk melakukan absensi.
Dia menegaskan tidak mengetahui apa yang dilakukan suaminya di halaman belakang rumah mereka yang berada di Jalan Kunir, Kelurahan Ngegong, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun.
"Jadi kalau misalnya memang itu semua dilakukan oleh suami saya di rumah kami di halaman belakang itu, saya benar-benar tidak mengetahui peristiwa itu terjadi dan apa yang suami saya lakukan," imbuh Martha.
Didampingi pengacara, Marta juga menjelaskan bahwa selama ini rumah tersebut hanya dihuni dirinya bersama Dwi Bagus. Selain bekerja sebagai guru, dia mengaku memiliki kesibukan lain dengan menjalankan usaha bimbingan belajar di rumah.
"Yang tinggal di rumah itu saya dengan suami saya saja," papar Martha.
Saat ditanya apakah peristiwa tersebut dilakukan suaminya pada siang atau malam hari, Marta mengaku tidak mengetahui secara pasti. Dia menyebut informasi yang diterimanya menyatakan peristiwa itu terjadi ketika dirinya sedang mengajar di sekolah.
"Saya tidak pernah mengerti detail bagaimana karena saya tidak mengkonfirmasi juga secara langsung begitu ya. Tapi dari informasi yang memang kami ketahui, diinformasikan itu pada saat saya bekerja, artinya pada saat siang hari saat saya berada di sekolah, begitu," ujar Martha.
Ia lantas menyinggung soal mesin giling dan cerobong yang dibuat oleh Bagus di rumahnya. Martha mengaku tahu soal mesin giling yang dibeli oleh suaminya. Namun ia tak mengetahui pasti alat tersebut untuk menggiling jasad Dini dan anaknya.
Jadi beli mesin pencacah itu saya tahu juga mesin pencacah itu datang, ada dua temannya yang membantu menurunkan. Tapi saya juga tidak tanya itu untuk apa, bagaimana penggunaannya?" kata Martha.
Martha juga mengetahui setelah mesin giling itu dikeluarkan dari rumahnya. Namun lagi-lagi, ia tak sempat menanyakan ke Bagus kenapa dikeluarkan dari rumah dan kegunaannya.
"Kemudian pada saat mesin pencacah itu dibawa keluar juga saya membuka pintu juga orang yang dimintai tolong untuk membawa alat itu keluar begitu. Saya pun menawari kopi di situ, buat kopi juga, tapi saya kemudian ke dalam lagi," ujar Martha.
"Jadi kalau pertanyaannya adalah apakah saya mengetahui mesin pencacah itu ada, iya, saya mengetahui, tapi saya tidak tahu apa penggunaannya dan untuk apa," imbuhnya.
Sedangkan untuk tungku bakar atau cerobong, Martha juga mengaku tak menaruh curiga dengan bangunan itu. Namun, ia sempat menanyakan ke tukang bangunan yang kebetulan dikenalnya yang katanya untuk keperluan membakar sampah.
"Kemudian untuk cerobong, saya tahu cerobong itu dibuat karena kan memang ada tukang yang datang di situ dan saya juga kenal dengan tukangnya. Jadi, ya (tanya) mau bikin apa, cerobong untuk sampah ya sudah hanya sebatas itu," ungkap Martha.
"Karena memang kalau dia (Bagus) di rumah memang ya rajin bersih-bersih kemudian apa, misalnya saat turunin bonsai ataupun motong-motong apa, itu memang biasanya berakhir memang dibakar begitu di pojokan sana," tandas Martha.
Martha menuturkan bagaimana awalnya ia mengetahui perbuatan suaminya. Ia menyebut baru mengetahui kasus yang menyeret Bagus setelah ditangkap Polda Jatim pada 25, Oktober 2026.
"Saya mengetahui jelasnya itu pada saat Mas Bagus tertangkap itu. Berarti di tanggal 25 ya. Itu pun saya tidak mengerti, saya tidak dijelaskan secara detail apa yang dia lakukan," kata Martha, Senin (2/11/2026).
"Bahkan saya mengikuti informasi ini juga dijelaskan oleh Pak Arief kuasa hukum saya dan juga adik saya dan juga melihat di berita begitu. Saya pun tidak sampai hati membayangkan ini semua terjadi begitu," imbuhnya.
Menurut Martha, setelah menghabisi dan menghilangkan jasad Dini dana anaknya, Bagus berprilaku seperti biasanya. Namun setelah dirinya mengetahuinya, ia mengaku syok.
"Kami berinteraksi secara normal selayaknya suami istri tidak ada yang berubah dari gerak-gerik dan juga perilaku suami saya. Saya pun tidak merasa ada kecurigaan sama sekali. makanya saya pun sangat shock dan terpukul ketika kenyataannya ataupun faktanya berkata kalau suami saya melakukan hal demikian," jelasnya.
Martha mengaku perasaannya sedih, marah dan kecewa bercampur jadi satu. Ini karena ia harus menerima bahwa selama ini, ia telah dikhianati Bagus, tak hanya itu ia juga mendapat tuduhan ikut terlibat pembunuhan yang tak pernah diketahuinya itu.
"Jadi kalau dinilai saya sakit hati kemudian bekerja sama dengan suami saya seperti itu bahkan untuk menerima fakta saya dikhianati saya selama ini ternyata saya tidak mengetahui apapun," imbuhnya.
Selain soal tuduhan terlibat, Martha juga menepis anggapan bahwa selama ini mengetahui soal pernikahan siri Bagus dengan Dini. Ia menyebut pengakuan pernikahan siri itu justru didapatkan setelah Bagus menghabisi Dini dan anaknya pada tanggal 10 Oktober 2026. Sedangkan pembunuhan terjadi pada tanggal 20 September 2026.
"Saya baru mengetahui itu langsung dengan pernyataan suami saya itu di tanggal 10 Oktober 2026. Itu harinya saya ingat di hari Sabtu malam Minggu, waktunya di sekitar pada Maghrib, itu tadi sudah saya ceritakan juga (saat) di teras halaman belakang rumah," kata Martha.
"Dia minta maaf sambil bersujud-sujud dan menangis kepada saya karena dia punya perempuan lain dan sudah 2 tahun dia nikahi, dia nikah sendiri begitu," imbuhnya.
Untuk itu, Martha membantah bahwa dirinya ikut terlibat dalam pembunuhan tersebut. Sebaliknya, ia telah dikhianati oleh Bagus dengan pernikahan sirinya dengan Dini.
Sebagai informasi, Dwi Bagus Martono ditangkap karena telah membunuh Dini dan anaknya usai dilaporkan hilang sejak 20 September 2026. Kasus tersebut sempat menjadi perhatian publik setelah informasi mengenai hilangnya kedua korban beredar di media sosial.
Dalam informasi yang beredar, Dini disebut sempat bertengkar dengan suami sirinya di sebuah rumah makan ayam penyet di Ponorogo, Jawa Timur. Pertengkaran itu disebut melibatkan ponsel yang dibanting dan berujung pada dugaan Dini ditinggalkan di jalan.
Keluarga kemudian mencari keberadaan Dini dan anaknya selama lebih dari sebulan. Namun, penyelidikan polisi menemukan sejumlah kejanggalan hingga mengarah kepada Dwi Bagus, yang juga diketahui menghilang.
Bagus kemudian ditangkap pada Minggu (25/10) di Jombang. Setelah ditangkap, Bagus kemudian mengaku telah membunuh Dini di hotel menyusul kemudian anaknya. Untuk menghilangkan jejak kejahatannya, jasad Dini dan anaknya lalu dihilangkan dengan sadis oleh Bagus dengan dimutilasi dan dibakar.
"Kemudian setelah dibakar dimasukkan ke dalam penggilingan daging ya. Kemudian setelah itu dibakar lagi dan baru rencananya dibuang," tutur Roy kepada awak media di Mapolda Jatim, Senin (26/10/2026).























































