Perjalanan meraih pendidikan tinggi tidak selalu berjalan mulus bagi setiap orang. Ada yang harus menghadapi berbagai keterbatasan, seperti yang awalnya dirasakan oleh Saryono.
Namanya kini sudah diikuti gelar Dr Saryono, SPd, MPd. Gelar ini dulu tak pernah ia bayangkan bersanding dengan namanya karena mengingat ia sempat putus sekolah.
Selain itu, Saryono pernah bekerja sebagai tukang kebun. Kini, Saryono sudah menyelesaikan S3 Program Doktor Pendidikan Kewarganegaraan (PKNH), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pernah Putus Sekolah-Jadi Tukang Kebun
Sebelum menyandang gelar doktor, Saryono pernah mengalami masa-masa sulit dalam menempuh pendidikan, demikian dikutip dari laman UNY pada Senin (2/11/2026). Saat masih duduk di kelas II SMP, ia memutuskan merantau ke Jakarta.
Dalam perjalanan hidupnya, Saryono harus meninggalkan bangku sekolah dan bekerja sebagai tukang kebun untuk memenuhi kebutuhan hidup. Keadaan tersebut membuatnya tidak bisa melanjutkan ke jenjang berikutnya.
Meski demikian, keinginannya untuk mengenyam pendidikan tidak pernah benar-benar padam. Saryono tetap menyimpan cita-cita untuk melanjutkan sekolah dan meraih pendidikan yang lebih tinggi.
Ia kemudian mencari jalan untuk kembali belajar melalui pendidikan kesetaraan. Saryono menempuh Paket B dan Paket C hingga akhirnya berhasil menyelesaikan pendidikan setara SMP dan SMA.
Harus Bagi Waktu antara Pekerjaan, Keluarga, dan Kuliah
Setelah melewati tahapan tersebut, ia melanjutkan pendidikan ke jenjang sarjana, magister, hingga doktor. Perjalanan ini baginya sangat bermakna dan membutuhkan perjuangan yang besar karena di samping belajar, ia juga harus bekerja dan mengurus keluarga.
Ketiga hal tersebut menjadi kesulitan terbesarnya saat menjalani kuliah. Meski begitu, ia harus tetap menjalaninya secara bersamaan sehingga membutuhkan pengaturan waktu yang cermat.
Bahkan, Saryono harus rela mengorbankan waktu istirahat malam untuk menyelesaikan berbagai tugas perkuliahan dan kewajiban akademiknya. Namun, rasa lelahnya sirna jika melihat keluarga yang selalu mendukungnya.
Lulus 3 Tahun dengan IPK 3,95
Saryono resmi jadi doktor pada usia 40 tahun. Ia berhasil meraih gelar doktor dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,95.
Pencapaian tersebut menjadi buah dari perjalanan panjang yang penuh perjuangan. Selain itu, Saryono berhasil menyelesaikan pendidikan doktoralnya dalam waktu 36 bulan 28 hari.
Bagi Saryono, kesempatan untuk memperoleh pendidikan tetap dapat diperjuangkan melalui berbagai jalan. Gelar doktor yang kini diraih pun menjadi awal bagi Saryono untuk memberikan kontribusi lebih luas bagi masyarakat lewat bidang pendidikan.
(cyu/nwk)






























































