Pembangunan sebuah sekolah dasar di Leipzig, Jerman, membawa kejutan bagi para arkeolog. Sebelum fondasi bangunan didirikan, penggalian di lokasi proyek justru mengungkap makam berusia sekitar 7.000 tahun. Temuan ini menjadi makam tertua yang pernah diidentifikasi di wilayah Kota Leipzig.
Dikutip dari Daily Galaxy, Minggu (8/11/2026) penemuan tersebut berasal dari penggalian arkeologi di kawasan Leipzig-Möckern. Selain kerangka manusia, para peneliti juga menemukan jejak permukiman prasejarah berupa sejumlah rumah kayu yang diperkirakan berasal dari periode Neolitikum.
Kerangka manusia itu ditemukan dalam posisi meringkuk, berbaring miring ke kiri dengan kedua kaki ditekuk mendekati tubuh. Hingga kini, arkeolog belum dapat memastikan usia maupun jenis kelamin individu tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal yang membuat penemuan ini istimewa adalah kondisi tulangnya yang masih terawetkan dengan baik. Di sebagian besar wilayah Saxony, tempat Leipzig berada, kondisi tanah membuat tulang manusia purba sulit bertahan selama ribuan tahun.
Saxony State Office for Archaeology atau Kantor Negara Bagian Saxony untuk bidang Arkeologi menjelaskan dalam pengumumannya bahwa temuan tersebut merupakan keberuntungan langka.
"Ini merupakan keberuntungan yang jarang terjadi, karena pelestarian tulang sangat buruk di sebagian besar wilayah Saxony sehingga makam hanya dapat diidentifikasi melalui benda-benda yang ditempatkan di dalamnya dan bentuk lubang makam," demikian penjelasan otoritas arkeologi tersebut.
Menariknya, makam ini tidak memiliki benda bekal kubur seperti tembikar maupun barang lainnya. Namun, posisi kerangka serta keterkaitannya dengan sisa permukiman di sekitarnya membantu peneliti mengidentifikasi periode kebudayaannya.
Kerangka tersebut dikaitkan dengan Linear Pottery Culture atau budaya tembikar berpita (Linearbandkeramik), salah satu komunitas pertanian awal di Eropa yang berkembang sekitar 5.500-4.500 SM.
Nama kebudayaan ini berasal dari pola dekorasi berupa garis-garis bergelombang dan spiral pada wadah keramik yang mereka buat. Sebaran peninggalannya ditemukan di wilayah luas, mulai dari Hungaria hingga Cekungan Paris di Prancis.
Masyarakat dalam kebudayaan tersebut hidup pada masa peralihan besar dalam sejarah manusia. Mereka mulai meninggalkan pola hidup yang bergantung pada berburu dan meramu, kemudian mengembangkan pertanian, beternak, serta membangun permukiman permanen.
Salah satu ciri khas kehidupan mereka adalah rumah-rumah kayu berukuran panjang. Hal ini juga ditemukan di lokasi pembangunan sekolah di Leipzig.
Arkeolog mengidentifikasi jejak beberapa bangunan melalui lubang-lubang tiang yang masih terlihat pada lapisan tanah. Lubang tersebut dulunya menjadi tempat berdirinya tiang kayu untuk menopang dinding dan atap rumah.
Salah satu bangunan yang berhasil diidentifikasi memiliki panjang sekitar 30 meter. Selain itu, ditemukan pula jejak setidaknya dua rumah lainnya.
Penemuan makam di tengah permukiman memberikan gambaran bahwa lokasi tersebut bukan sekadar tempat pemakaman terpisah, melainkan bagian dari kawasan tempat manusia pernah tinggal dan beraktivitas.
Para arkeolog juga menilai penggalian di kawasan perkotaan tetap penting karena pembangunan modern tidak selalu menghilangkan seluruh jejak kehidupan masa lalu yang tersimpan di bawah tanah. Arkeolog negara bagian Saxony, Dr Regina Smolnik, menekankan pentingnya penelitian semacam ini.
"Penelitian kami di Leipzig-Möckern menunjukkan dengan sangat jelas betapa pentingnya keterlibatan arkeologi, bahkan di kawasan perkotaan. Meskipun lokasi-lokasi tersebut kini telah menjadi bagian dari kawasan kota dan dibangun selama bertahun-tahun, bukti penting permukiman prasejarah dan sejarah awal masih dapat didokumentasikan di sana," ujarnya.
Penggalian dilakukan sejak Juli 2026 dan berlangsung hingga pertengahan Oktober. Area yang sudah selesai diteliti secara bertahap diserahkan kembali untuk pembangunan sekolah.
Sementara itu, temuan kerangka dan sisa permukiman akan menjalani analisis ilmiah lebih lanjut di Kantor Negara Bagian Saxony untuk Arkeologi. Penelitian tersebut diharapkan dapat mengungkap lebih banyak informasi mengenai kehidupan masyarakat yang menghuni kawasan Leipzig sekitar 7.000 tahun silam.















































