Memasuki usia senja, aktivitas fisik berat cenderung dihindari demi menjaga keamanan tubuh. Anggapan keliru ini sering kali membuat para lanjut usia (lansia) memilih untuk menghabiskan waktu dengan berdiam diri atau menghindari segala bentuk latihan fisik.
Padahal, keputusan untuk pasif bergerak justru menjadi pintu gerbang bagi penurunan fungsi tubuh yang drastis.
Dalam dunia medis orthopedi, menjaga kebugaran di usia lanjut bukan lagi bertujuan untuk membentuk fisik yang kekar, melainkan mempertahankan kemandirian fungsional agar tetap dapat menikmati hari tua dengan kualitas hidup yang optimal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gerakan fisik yang terarah terbukti menjadi kunci utama dalam melawan proses degenerasi otot dan tulang.
Melawan Stigma Bahwa Lansia Harus Banyak Diam
Pandangan umum sering kali menyarankan agar orang yang telah berusia di atas 70 tahun untuk banyak beristirahat dan tidak melakukan aktivitas yang melelahkan.
Padahal, tubuh manusia dirancang untuk terus bergerak, dan kurangnya stimulasi fisik justru akan mengirimkan sinyal kepada tubuh untuk "mematikan" fungsi-fungsi otot secara perlahan.
Dokter spesialis ortopedi dan traumatologi, dr Dohar Apul Lumban Tobing, SpOT, K-Spine dari Siloam Hospital Mampang menegaskan, prinsip dasar kehidupan fisik berakar dari keterlibatan aktif seseorang dalam menjaga mobilitasnya sehari-hari.
"Karena ada istilah bahasa Prancis Le mouvement c'est la vie. Maksudnya, gerakan itu adalah hidup. Gerakan itu hidup. Jadi, manusia yang rajin bergerak itu dia hidup," jelasnya ketika ditemui wartawan dalam acara Osteoporosis Day 2026 di Jakarta, Jumat (30/10/2026).
Ancaman Nyata Sarcopenia dan Atropi Akibat Kurang Bergerak
Ketika seseorang memilih untuk malas bergerak atau dipaksa berdiam diri sepanjang hari, tubuh secara otomatis akan merespons dengan menyusutkan massa otot dan menurunkan kepadatan tulang.
Sindrom hilangnya massa otot seiring bertambahnya usia ini dikenal sebagai sarcopenia, yang sering kali datang bersamaan dengan pengeroposan tulang (osteoporosis).
Akibatnya, lansia akan kehilangan kekuatan dasarnya, menjadi rentan jatuh, dan mengalami kesulitan dalam menjalani rutinitas harian yang paling mendasar.
"Orang kalau udah umurnya 70 itu disuruh diem aja makin susut lagi semuanya. Bukan cuma tulangnya, ototnya juga susut," katanya.
Target Kemandirian Fungsional Sehari-Hari
Berbeda dengan anak muda yang pergi ke pusat kebugaran untuk membentuk otot tubuh yang besar, program latihan beban bagi lansia memiliki esensi dan target yang jauh lebih fungsional.
Latihan ini dirancang secara spesifik dengan bimbingan profesional agar para orang tua dapat mempertahankan kemandirian mereka dalam melakukan aktivitas dasar rumah tangga.
Target utama dari latihan penguatan ini adalah memastikan lansia dapat bangun dari tempat tidur, berdiri dari kursi, hingga melakukan ibadah tanpa hambatan fisik yang berarti.
"Pada orang tua sangat dianjurkan mereka melakukan exercise terutama exercise beban. Cuma, sebelum melakukan itu harus memeriksakan dulu karena kita harus pastikan dia tulangnya aman atau enggak," tuturnya.
"Ketika semuanya oke, maka seseorang bisa melakukan exercise. Tentu exercisenya jangan sendiri, harus ada orang profesional yang melatih. Karena tahapannya harus bertahap banget," lanjutnya.
Simak Video "Dokter Ortopedi soal 'Kretek Tulang': Sangat Tidak Dianjurkan"
[Gambas:Video 20detik](aur/up)

























































