Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan potensi gelombang tinggi di sejumlah wilayah perairan Lampung. Ketinggian gelombang diperkirakan mencapai 4 meter.
Peringatan dini tersebut berlaku mulai Selasa (3/11/2026) pukul 07.00 WIB hingga Jumat (6/11/2026) pukul 07.00 WIB.
Berdasarkan prakiraan Stasiun Meteorologi Maritim Panjang, gelombang setinggi 2,5-4 meter berpotensi terjadi di Selat Sunda bagian selatan Lampung. Sementara itu, perairan barat Lampung diprakirakan mengalami gelombang setinggi 1,25-2,5 meter.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Prakirawan Stasiun Meteorologi Maritim Panjang, M. Fauzan Abdul Lathif, meminta masyarakat yang beraktivitas di laut meningkatkan kewaspadaan selama periode tersebut.
"Potensi gelombang tinggi ini perlu diwaspadai, terutama di Selat Sunda bagian selatan Lampung yang berpeluang mengalami gelombang hingga 4 meter. Masyarakat yang beraktivitas di laut harus memperhatikan perkembangan informasi cuaca maritim," ujar Fauzan, Senin (2/11/2026).
Fauzan menjelaskan, potensi gelombang tinggi dipengaruhi kondisi angin di wilayah perairan Lampung. Berdasarkan analisis BMKG, angin umumnya bergerak dari timur hingga tenggara dengan kecepatan berkisar 2-25 knot.
Kecepatan angin tertinggi terpantau di perairan barat Lampung dan Selat Sunda bagian selatan Lampung.
"Kecepatan angin di wilayah perairan Lampung berkisar 2 hingga 25 knot. Wilayah yang perlu mendapat perhatian lebih adalah perairan barat Lampung dan Selat Sunda bagian selatan Lampung karena terpantau memiliki kecepatan angin tertinggi," katanya.
BMKG turut mengingatkan adanya potensi gangguan keselamatan pelayaran akibat kombinasi kecepatan angin dan tinggi gelombang.
Perahu nelayan berisiko mengalami gangguan keselamatan saat kecepatan angin mencapai 15 knot dan tinggi gelombang 1,25 meter. Sedangkan kapal tongkang berisiko ketika angin mencapai 16 knot dengan gelombang 1,5 meter.
Adapun kapal feri perlu mewaspadai kondisi angin mencapai 21 knot dan tinggi gelombang 2,5 meter.
Fauzan meminta nelayan maupun operator kapal memperhatikan kondisi cuaca sebelum memutuskan berlayar. Aktivitas pelayaran sebaiknya tidak dipaksakan apabila kondisi laut sudah membahayakan.
"Kami mengimbau nelayan dan operator kapal untuk selalu memperhatikan kondisi cuaca serta tinggi gelombang sebelum melakukan aktivitas pelayaran. Jangan memaksakan diri melaut apabila kondisi angin dan gelombang sudah berisiko terhadap keselamatan," tuturnya.
BMKG meminta masyarakat terus mengikuti perkembangan informasi cuaca maritim selama periode peringatan dini. Prakiraan tersebut dapat diperbarui sewaktu-waktu menyesuaikan perkembangan kondisi atmosfer dan laut.
(dai/dai)



























































