Para peternak di Gunungkidul mengeluhkan harga kambing yang terjun bebas dari jutaan menjadi ratusan ribu per ekor. Peternak menuding hal ini disebabkan karena pakan mahal dan peminat kambing berkurang.
"Iya betul, harga kambing turun parah, drastis sekali," kata peternak sekaligus penjual kambing asal Logandeng, Lindu (20) kepada detikJogja via telepon, Selasa (27/10/2026).
Lindu mengatakan kondisi tersebut sudah berlangsung sekitar satu tahun terakhir. Lindu menyebut harga kambing untuk akikah yang semula Rp 2,5 juta per ekor saat ini turun menjadi Rp 1,5 hingga Rp 1,6 juta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bahkan saat pasaran Wage kemarin saya beli seekor kambing ukuran siap untuk disembelih itu Rp 280 ribu," ujarnya.
Sedangkan untuk harga kambing indukan saat ini Rp 700-800 ribu per ekor. Sementara untuk kambing berukuran kecil seharga Rp 550-600 ribu per ekornya.
"Turunnya harga kambing itu karena faktor harga pakan mahal dan peminat kambing berkurang. Di sisi lain daya beli masyarakat kurang karena pakan mahal, karena harga komboran saja sekarang Rp 300 ribu," ucapnya.
Lindu menyebut penjualan kambing saat ini tidak menentu. Oleh karena itu, Lindu tidak bisa menentukan omzet bulanan dari berjualan kambing.
"Sebulan bisa jual berapa ekor itu sekarang tidak tentu, kalau pas dapat yang bisa dijual. Seperti tadi saya bisa jual tiga kambing ke Karangmojo," katanya.
Lindu pun berharap harga kambing bisa kembali normal. Sebab, bagi peternak dan penjual kambing, turunnya harga berdampak pada pemasukan sehari-hari.
"Harapannya semoga harga kambing cepat pulih, itu saja," ujarnya.
Terpisah, Kepala Bidang Peternakan DPP Gunungkidul, Sigit Haryanto membenarkan harga kambing di Gunungkidul sedang mengalami penurunan.
"Iya, betul, memang harga kambing sedang turun," ucapnya.
Menyoal penyebabnya, Sigit menyebut karena stok kambing terlalu berlimpah. Sedangkan saya beli masyarakat terhadap kambing cenderung turun.
"Penyebabnya karena stok kambing di pasar berlimpah tapi permintaan turun," ujarnya.
Sementara itu, pihaknya juga melakukan intervensi terhadap harga pakan ternak yang mahal. Di antaranya melakukan pembinaan kepada peternak untuk memproduksi hijauan pakan ternak (HPT).
"Kita ada pembinaan untuk beberapa kelompok ternak terkait HPT. Jadi kita kasih bantuan bibit HPT dan pupuk untuk HPT kepada kelompok peternak. Selain itu kita kasih pembinaan cara menanam HPT yang benar," pungkas Sigit.

































































