Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf atau Gus Ipul mengungkap perkembangan positif siswa sejak mengikuti Sekolah Rakyat selama setahun terakhir. Gus Ipul mengaku para siswa kini berubah lebih percaya diri dan lebih sehat.
Gus Ipul mengaku anak-anak yang dijangkau untuk masuk Sekolah Rakyat awalnya memiliki kondisi psikologis yang memprihatinkan. Anak-anak dari kalangan tidak mampu memiliki semangat belajar yang belum tumbuh.
"Tapi setelah satu tahun dilaksanakan pendampingan, mereka sudah lebih percaya diri menatap masa depannya. Kemudian lebih sehat, lebih bugar, orang tuanya juga lebih semangat untuk mendampingi siswa Sekolah Rakyat," kata Gus Ipul dalam Peringatan 1 Tahun Sekolah Rakyat dan Sumpah Pemuda di GOR Sudiang, Makassar, Rabu (28/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gus Ipul menegaskan, perkembangan ini adalah kabar yang menggembirakan. Dia juga mengaku sejumlah anak-anak yang dijangkau mengikuti Sekolah Rakyat memerlukan rehabilitasi selain memperhatikan sisi edukasinya.
"Jadi ada sebagian siswa Sekolah Rakyat memiliki masalah-masalah tertentu yang harus dilakukan pemulihan terlebih dahulu, rehabilitasi dulu baru bergabung dalam pembelajaran yang ada di Sekolah Rakyat," ujarnya.
Dia menuturkan, pelaksanaan program memerlukan kecermatan dan upaya berkelanjutan dengan ujung tombaknya adalah kepala sekolah, guru, wali asrama dan wali siswa. Pemerintah daerah khususnya gubernur dan bupati/wali kota juga diminta membantu kesuksesan penyelenggaraan Sekolah Rakyat.
"Alhamdulillah sekali lagi kita lihat tadi anak-anak dari berbagai Sekolah Rakyat di Sulawesi Selatan dan beberapa lagi dari Jakarta, NTT dan Papua bergabung di sini menjadi satu," ujar Gus Ipul.
Gus Ipul mengaku terharu dengan perkembangan siswa Sekolah Rakyat setahun terakhir. Mereka telah mengikuti pembelajaran dengan baik di mana sebelumnya berasal dari latar belakang keluarga yang terbelakang.
"Ada yang sebelumnya tidak pernah sekolah, di jalanan jadi pengamen, ada yang sudah putus sekolah tiga tahun menjadi pembantu, ada yang jadi kuli, ada juga yang kerja di tempat-tempat yang tidak semestinya," ucapnya.
"Semua ini adalah anak-anak bangsa yang menurut Bapak Presiden harus mendapatkan akses untuk memperoleh pendidikan dan lingkungan yang berkualitas," tegas Gus Ipul.
Diketahui, pemerintah telah membangun 100 Sekolah Rakyat yang tersebar di berbagai provinsi di Indonesia. Sebanyak 93 unit di antaranya telah digunakan dan 7 lainnya dalam proses perampungan.
"Per hari ini sudah ada 44 ribu lebih, sebentar lagi insyaallah akan ada 45 ribu lebih yang akan sekolah di Sekolah Rakyat. Jadi ada 6 ribu yang setelah dijangkau, ternyata perlu penyerataan terlebih dulu di sentra-sentra yang kami punya," imbuh Gus Ipul.
Sekolah Rakyat Amanat Konstitusi Pasal 34 UUD 1945
Gus Ipul menegaskan kehadiran Sekolah Rakyat bagian dari spirit kerja cepat pemerintah dalam menjalankan mandat Pasal 34 Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. Pasal dalam konstitusi itu menegaskan bahwa fakir miskin dan anak-anak telantar dipelihara oleh negara.
"Sekolah Rakyat berangkat dari jantung konstitusi kita, Pasal 34 Ayat 1 Undang-Undang Dasar 1945. Fakir miskin dan anak-anak yang telantar dipelihara oleh negara," tegas Gus Ipul.
Hal ini juga sejalan dalam Pasal 31 UUD 1945 yang menegaskan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan. Selain itu wujud implementasi Pasal 33 yang menyatakan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
"Di Sekolah Rakyat tiga pasal itu bertemu satu tubuh seorang anak. Lalu bagaimana negara memelihara fakir miskin dan anak-anak yang telantar, melalui tiga jalan: perlindungan dan jaminan sosial; rehabilitasi sosial; dan pemberdayaan sosial," paparnya.































































