Sisa-sisa Desa Derwent di Derbyshire, Inggris, kembali terlihat setelah permukaan Waduk Ladybower menyusut drastis. Kekeringan berkepanjangan membuat bangunan dan jejak permukiman yang telah puluhan tahun berada di bawah air perlahan tersingkap.
Derwent sengaja ditenggelamkan pada era 1940-an bersama desa tetangganya, Ashopton. Langkah tu dilakukan sebagai bagian dari pembangunan Waduk Ladybower.
Kini, ketika volume air waduk turun, jejak kehidupan masyarakat yang pernah tinggal di kawasan tersebut kembali terlihat. Fondasi bangunan berbahan batu, bekas pondok batu kapur, gereja hingga sejumlah rumah pertanian menjadi bagian dari reruntuhan yang muncul ke permukaan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikutip dari Independent, Rabu (28/10/2026), pemandangan itu bikin orang-orang kepo. Mereka ingin melihat langsung sisa permukiman bersejarah itu.
Waduk Ladybower dibangun pada 1935-1943 untuk memenuhi kebutuhan air bersih kota-kota industri yang berkembang, termasuk Sheffield, Derby, Nottingham dan Leicester. Proyek tersebut membuat seluruh Lembah Derwent harus ditenggelamkan, keputusan yang sempat mendapat penolakan keras dari masyarakat setempat.
Namun, pengunjung yang datang untuk melihat reruntuhan diminta tidak sembarangan mendekati area tersebut. Pengelola waduk, Severn Trent Water, mengingatkan masyarakat agar tetap mengikuti jalur yang telah ditentukan.
"Kami mengimbau masyarakat yang mengunjungi kawasan ini untuk tetap berada di jalur yang telah ditentukan," kata juru bicara Severn Trent Water.
Dasar waduk yang kini terbuka juga disebut sangat berlumpur sehingga berbahaya jika dilalui dengan berjalan kaki. Kondisi tersebut terjadi ketika kapasitas Waduk Ladybower turun hingga sedikit di bawah 32 persen akibat kekeringan sepanjang musim panas.
Kekeringan di Inggris kali ini bukan sekadar persoalan satu waduk. Periode April hingga September 2026 tercatat sebagai salah satu periode dengan curah hujan terendah dalam lebih dari satu abad terakhir.
Desa Derwent di wilayah Derbyshire, Inggris saat air melimpah (Getty Images/Alex Manders) |
Badan Lingkungan Hidup Inggris mencatat sekitar 82 persen wilayah negara itu masih berada dalam kondisi kekeringan. Bahkan, sebanyak 18 kelompok waduk utama hanya memiliki cadangan kurang dari separuh kapasitas normalnya.
Doug Clarke, penanggung jawab sumber daya air di Severn Trent, mengatakan kondisi tersebut membuat pemulihan cadangan air tidak bisa berlangsung dalam waktu singkat.
"Kami telah mengalami enam bulan dengan curah hujan di bawah rata-rata dan suhu di atas rata-rata. Oleh karena itu, ketinggian air waduk membutuhkan waktu untuk kembali pulih," kata Clarke.
Menurut Clarke, waduk menyumbang sekitar sepertiga kebutuhan pasokan air. Selebihnya berasal dari sungai dan air tanah.
"Kami terus bekerja sepanjang waktu untuk mengolah lebih banyak air dan memperbaiki kebocoran dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya," ujarnya.
Hujan pada musim gugur diharapkan dapat membantu menaikkan kembali permukaan waduk. Namun, masyarakat di wilayah yang terdampak tetap diminta menghemat penggunaan air untuk menjaga ketersediaan cadangan hingga memasuki musim dingin.



























































