- Khutbah Jumat tentang Hikmah Kurban dan Hari Tasyrik Khutbah Jumat #1: Hikmah dan Landasan Ibadah Kurban Khutbah Jumat #2: Ibadah Qurban dan Kepedulian Sosial Khutbah Jumat #3: Hikmah Perintah Berkurban Khutbah Jumat #4: Idul Adha, Meneladani Pengorbanan Nabi Ibrahim AS Khutbah Jumat #5: Menumbuhkan Empati dan Solidaritas Sosial Melalui Kurban Khutbah Jumat #6: Ibadah Qurban dan Penghilangan Sifat Kikir Khutbah Jumat #7: Kurban Sebagai Simbol Kesetaraan Umat Manusia
Besok, Jumat terakhir Mei 2026 tiba. Menariknya, Jumat ini berbarengan dengan hari kedua Tasyrik alias tanggal 12 Dzulhijjah. Para khatib dapat memanfaatkan momentum unik ini untuk membawakan khutbah yang relevan.
Apa itu hari Tasyrik? Dilansir buku Rahasia Dahsyat Energi Sapu Jagat oleh M Ghofur Khalil, Tasyrik adalah sebutan yang merujuk 3 hari setelah Idul Adha, yakni 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.
Pada hari-hari Tasyrik ini, ada larangan yang perlu dipatuhi seorang muslim. Contohnya, larangan berpuasa. Ada juga amalan sunnah yang sayang bila dilewatkan begitu saja.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain hari Tasyrik, khutbah Jumat yang membahas hikmah kurban juga menarik diangkat. Terlebih, esok Jumat masih masuk hari yang dibolehkan untuk penyembelihan hewan kurban.
Nah, topik semacam ini bisa diangkat khatib lewat mimbar Jumat. Di samping mengingatkan umat Islam, juga mengedukasi serba-serbinya sehingga semakin dekat dengan petunjuk Nabi SAW.
Butuh contoh khutbahnya? Cek beberapa yang telah detikJogja himpunkan di bawah ini, yuk!
Khutbah Jumat tentang Hikmah Kurban dan Hari Tasyrik
Simak semua khutbahnya dengan saksama, ya, detikers!
Khutbah Jumat #1: Hikmah dan Landasan Ibadah Kurban
(sumber: laman resmi Muhammadiyah)
Hadirin Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah. Jalankan segala perintah-Nya. Jauhi larangan-Nya. Takwa adalah bekal terbaik. Ia menjaga kita di dunia. Juga di akhirat.
Shalawat serta salam marilah kita limpahkan kepada nabi kita, Rasulullah Muhammad Saw. Semoga kita termasuk umat pengikut jejaknya.
Hadirin Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Salah satu wujud ketakwaan adalah ibadah kurban. Ini syiar Islam yang mulia. Penuh nilai keimanan. Mengajarkan ketaatan. Menumbuhkan semangat pengorbanan. Kurban bukan sekadar ritual. Ia mendekatkan kita kepada Allah. Juga mempererat tali persaudaraan.
Ibadah kurban punya landasan kokoh. Ada dalil historis. Ada pula dalil naqli. Dalil historis berasal dari syariat umat terdahulu. Dikuatkan oleh Al-Qur'an dan Hadis. Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail jadi contoh utama. Allah firmankan dalam Surah ash-Shaffat ayat 102:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى ۖ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
"Tatkala anak itu cukup umur, Ibrahim berkata: Anakku, aku bermimpi menyembelihmu. Apa pendapatmu? Ismail menjawab: Ayah, laksanakan perintah itu. Insya Allah, aku sabar..." [QS. ash-Shaffat: 102-107].
Kisah ini sarat hikmah. Nabi Ibrahim taat pada Allah. Ia siap korbankan putra tercinta. Nabi Ismail pasrah pada perintah-Nya. Ia rela serahkan nyawa. Ketaatan mereka luar biasa. Allah ganti Ismail dengan sembelihan besar. Ini cikal bakal ibadah kurban.
Rasulullah SAW tegaskan dalam hadis. Riwayat Imam Ahmad dan Ibnu Majah, dari Zaid bin Arqam:
قَالُوا يَا رَسُولَ اللهِ مَا هَذِهِ الْأَضَاحِيُّ؟ قَالَ: سُنَّةُ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ ۖ قَالُوا: مَا لَنَا مِنْهَا؟ قَالَ: بِكُلِّ شَعْرَةٍ حَسَنَةٌ
"Mereka bertanya: Wahai Rasulullah, apa itu kurban? Beliau jawab: Sunnah ayahmu Ibrahim. Mereka tanya: Apa pahalanya? Beliau jawab: Tiap bulu mendatangkan kebaikan."
Dengan adanya hadis di atas, dalil historis ini sah dan diterima karena mendapat konfirmasi dari Al-Qur'an dan Hadis.
Hadirin Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Dalil naqli juga sangat jelas. Al-Qur'an perintahkan kurban. Dalam Surah al-Kautsar ayat 2, Allah berfirman:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
"Salatlah untuk Tuhanmu dan berkurbanlah." [QS. al-Kautsar: 2].
Ayat ini singkat tapi tegas. Salat dan kurban adalah syukur. Wujud ketaatan pada Allah. Dalam Surah al-Hajj ayat 34-35, Allah firmankan:
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللهِ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ ۚ فَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا ۗ وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ
"Bagi setiap umat, Kami syariatkan kurban. Agar mereka ingat Allah atas rezeki hewan ternak..." [QS. al-Hajj: 34-35].
Ayat ini jelaskan tujuan kurban. Mengingat Allah. Menunjukkan ketundukan. Memperkuat iman. Dalam Surah al-Hajj ayat 36, Allah tambahkan:
وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُمْ مِنْ شَعَائِرِ اللهِ
"Kami jadikan unta-unta itu bagian dari syiar Allah..." [QS. al-Hajj: 36].
Dari Hadis, Rasulullah SAW tegas. Riwayat Imam Ahmad dan Ibnu Majah, dari Abu Hurairah:
مَنْ وَجَدَ سَعَةً فَلَمْ يُضَحِّ فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا
"Siapa mampu berkurban tapi tidak melakukannya, jangan dekati tempat shalat kami."
Hadis ini peringatan keras. Kurban menjadi suatu keharusan bagi yang mampu. Rasulullah juga sabdakan, riwayat Imam Ahmad dari Jubair ibn Muth'im:
كُلُّ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ ذَبْحٌ
"Semua hari Tasyriq adalah hari menyembelih."
Hadirin yang dirahmati Allah,
Kurban ajarkan tiga nilai utama. Pertama, ketaatan. Nabi Ibrahim dan Ismail jadi teladan. Mereka serahkan segalanya untuk Allah. Kedua, pengorbanan. Kurban latih kita lepaskan yang dicintai. Demi Allah dan kebaikan. Ketiga, kepedulian. Daging kurban bantu fakir miskin. Perkuat ukhuwah Islamiyah. Ciptakan kebahagiaan bersama.
Kurban juga latih jiwa. Sembelih sifat egois. Basmi sikap kikir. Dekatkan hati pada Allah. Setiap tetes darah kurban bernilai pahala. Rasulullah bersabda:
بِكُلِّ شَعْرَةٍ حَسَنَةٌ
"Setiap bulu kurban mendatangkan kebaikan."
Mari maknai kurban dengan benar. Bukan hanya menyembelih hewan. Tapi memperbaiki hati. Meningkatkan iman. Menyebarkan kasih sayang.
Hadirin Jamaah Jumat yang berbahagia,
Idul Adha segera tiba. Saatnya kita sambut dengan gembira. Siapkan diri untuk berkurban. Bagi yang mampu, laksanakan ibadah ini. Jadikan wujud syukur. Bukti ketaatan. Tanda cinta pada Allah. Bagi yang belum mampu, perbaiki niat. Niat tulus bernilai di sisi Allah.
Kurban bukan sekadar hewan. Ia simbol pengabdian. Ajarkan rela berbagi. Bangun kepedulian sosial. Daging kurban satukan hati. Bantu saudara yang kekurangan. Sebarkan kebahagiaan di masyarakat. Allah firmankan dalam Surah al-Hajj ayat 36:
وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُمْ مِنْ شَعَائِرِ اللهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ
"Kami jadikan unta-unta itu syiar Allah. Ada kebaikan besar di dalamnya..." [QS. al-Hajj: 36].
Kurban adalah syiar agung. Ia tingkatkan keimanan. Dekatkan kita pada Allah. Perkuat tali persaudaraan. Mari laksanakan dengan ikhlas. Pilih hewan terbaik. Bagikan daging dengan murah hati. Niatkan hanya untuk Allah.
Jangan lupa hikmah kurban. Ia latih kita sabar. Ajarkan ikhlas. Bangun empati pada sesama. Jadikan Idul Adha momen berbenah. Perbaiki akhlak. Tingkatkan ibadah. Dekatkan diri pada Allah.
Semoga kurban kita diterima. Jadi jalan menuju ridha-Nya. Bawa kita ke surga-Nya. Amin.
Khutbah Jumat #2: Ibadah Qurban dan Kepedulian Sosial
(sumber: laman Majelis Ulama Indonesia/MUI Digital)
Ma'asyiral Muslimin Jamaah Jumat Rahimakumullah,
Syukur, alhamdulillah, pada kesempatan hari ini kita tengah berada di bulan Dzulhijjah yang termasuk asyhurul hurum atau bulan-bulan yang dihormati. Bulan istimewa karena dua ibadah agung dilaksanakan pada bulan ini yang jatuh di penghujung tahun Hijriah, yaitu ibadah haji dan ibadah qurban.
Kedua ibadah tersebut disebut oleh Alquran sebagai salah satu syiar Allah SWT yang harus dihormati dan diagungkan oleh hamba-hamba-Nya. Dan mengagungkan syiar-syiar Allah merupakan pertanda dan bukti akan ketakwaan seseorang, seperti yang ditegaskan dalam firman-Nya :
ذٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللّٰهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ
"Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati." (QS. Al-Hajj: 32)
Ma'asyiral Muslimin Jamaah Jumat Rahimakumullah,
Semua itu sebagai wujud syukur kita kepada Allah SWT atas segala nikmat yang tak terhingga yang dianugerahkan kepada kita; baik nikmat sehat wal afiyat, nikmat panjang umur, nikmat istiqamah dalam beribadah kepada Allah, dan nikmat berpegang kepada sunnah-sunnah Rasul-Nya.
Begitu juga nikmat yang terbesar, yang Allah berikan kepada kita yaitu nikmat iman dan Islam. Dengan adanya nikmat iman dan Islam, sekecil atau sedikit apa pun yang kita lakukan dalam bentuk kebaikan dan ketaatan akan berarti di sisi Allah.
Namun sebaliknya, tanpa adanya nikmat iman dan Islam yang Allah karuniakan, sebanyak dan sebesar apa pun kebaikan yang kita lakukan, maka semua itu tidak akan bernilai di sisi-Nya.
Allah SWT berfirman:
فَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَا كُفْرَانَ لِسَعْيِهِ وَإِنَّا لَهُ كَاتِبُونَ
"Maka barang siapa yang mengerjakan amal saleh, sedang ia beriman, maka tidak ada pengingkaran terhadap amalannya itu dan sesungguhnya Kami menuliskan amalannya itu untuknya." (QS. Al-Anbiya: 94)
Oleh karena itu, marilah bersama-sama kita berusaha dan berupaya untuk terus meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan. Begitu juga kita tingkatkan kualitas pemahaman ilmu agama kita, agar ibadah kita mendapatkan predikat ibadah yang sah, yakni ibadah yang terpenuhi syarat dan rukunnya yang diterima Allah SWT, sebagaimana perkataan Ibnu Ruslan dalam kitab Zubad-nya:
فَكُلُّ مَنْ بِغَيْرِ عِلْمٍ يَعْمَلُ # أَعْمَالُهُ مَرْدُوْدَةٌ لَا تُقْبَلُ
"Maka setiap orang yang beribadah tanpa berlandaskan ilmu, ibadahnya akan tertolak, tidak akan diterima."
Dengan ketakwaan dan amal shaleh yang kita lakukan, maka Allah akan senantiasa membersamai kita dalam bentuk pertolongan dan bantuan-Nya, dan jelas hal ini Allah nyatakan dalam firman-Nya:
إِنَّ اللّٰهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ
"Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan." (QS. An-Nahl: 128)
Ma'asyiral Muslimin Jamaah Jumat Rahimakumullah,
Ibadah qurban mengajarkan kepada kita nilai pengorbanan, keikhlasan, dan kepedulian sosial. Ibadah qurban bukan sekadar menyembelih hewan, tetapi juga menyembelih sifat egois dan menumbuhkan rasa cinta kepada sesama.
Allah Ta'ala berfirman:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
"Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berqurbanlah." (QS. Al-Kautsar: 2)
Dan Allah juga berfirman:
لَنْ يَنَالَ اللّٰهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ
"Daging dan darah hewan qurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian." (QS. Al-Hajj: 37)
Ma'asyiral Muslimin Jamaah Jumat Rahimakumullah,
Qurban adalah ibadah yang memiliki dimensi sosial yang sangat besar. Melalui qurban, kaum fakir, dhuafa, dan masyarakat kecil dapat merasakan kebahagiaan di hari raya.
Diriwayatkan dari Sayyidah Aisyah radhiyallahu 'anha, bahwa Rasulullah SAW bersabda:
مَا عَمِلَ ابْنُ آدَمَ يَوْمَ النَّحْرِ عَمَلًا أَحَبَّ إِلَى اللّٰهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ
"Tidak ada amalan yang dilakukan anak Adam pada Hari Nahr yang lebih dicintai Allah daripada mengalirkan darah (menyembelih hewan qurban)." (HR Tirmidzi)
Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan dalam kitab Al-Majmu' Syarh al-Muhadzdzab tentang hikmah qurban, sebagai berikut:
وَالْمَقْصُودُ مِنَ الْأُضْحِيَّةِ التَّقَرُّبُ إِلَى اللّٰهِ تَعَالَى وَإِحْيَاءُ سُنَّةِ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَالتَّوْسِعَةُ عَلَى الْعِيَالِ وَالْفُقَرَاءِ
"Tujuan ibadah qurban adalah mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala, menghidupkan sunnah Nabi Ibrahim 'Alaihissalam, dan memberi kelapangan kepada keluarga serta orang-orang fakir."
Maka, orang yang berqurban sejatinya sedang membangun solidaritas sosial, mempererat ukhuwah, dan membantu sesama.
Demikian pula Dr Hisyam al-Kamil Hamid di dalam kitab karya beliau, Is'ad al-Bariyyah fi Ahkaam al-Udhhiyyah menyatakan ada beberapa hikmah dalam ibadah qurban, sebagai berikut:
- Ibadah qurban adalah ibadah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah yang bersifat ta'abbudiyyah, yakni sami'na wa atho'na pada perintah Allah
- Sebagai bentuk syukur kepada Allah atas nikmat yang telah diberikan
- Memberikan kelapangan kepada keluarga, sahabat, dan faqir-miskin
- Kemenangan dengan mendapat pahala dan ampunan dosa
- Penguatan ikatan persaudaraan antarsesama muslim, dan tertanam ruh saling membantu dan saling mencintai
- Menghidupkan makna dan semangat qurban yang telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim
- Menghidupkan sunnah Nabi Ibrahim sebagai orang pertama yang berqurban sebagai bentuk taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah
- Sebagai ujian dari Allah kepada hamba-Nya, yang mana nafsu ini lebih cenderung menumpuk harta, sedangkan ibadah qurban harus mengeluarkan harta
- Mengajarkan kita berpegang pada waktu yang dimuliakan, sebagaimana ibadah qurban.
Ma'asyiral Muslimin Jamaah Jumat Rahimakumullah,
Demikianlah khutbah Jumat singkat perihal ibadah qurban yang tidak bisa dilepaskan dari wujud kepedulian sosial.
Semoga apa yang khatib sampaikan ini menjadi khutbah yang membawa berkah dan bermanfaat bagi kita semua. Amin ya Rabbal 'alamin.
Khutbah Jumat #3: Hikmah Perintah Berkurban
(sumber: laman NU Banten)
Hadirin Sidang Jumat yang dimuliakan Allah
Pertama dan utama marilah kita bersyukur kehadirat Allah Subhanahu wa Ta'ala yang telah memberikan berjuta-juta kenikmatan kepada kita sekalian, sehingga masih diberi kesempatan dan kekuatan untuk bisa melaksanakan Shalat Jumat di masjid yang mulia ini.
Shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad shallallahu 'alahi wa sallam yang telah membimbing kita menuju dunia yang terang, yaitu addinul Islam. Semoga kita selalu mencintainya dan bershalawat kepadanya sehingga diakui sebagai umatnya yang mendapatkan syafaatnya di hari akhir nanti, amin.
Hadirin Sidang Jumat yang dimuliakan Allah
Selaku khatib kami mengajak kepada hadirin sekalian dan diri kami pribadi, marilah kita selalu berusaha meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah dengan terus berusaha menjalankan seluruh perintahNya dan menjauhi semua laranganNya dengan cara yang diajarkanNya. Semoga Allah selalu memberikan bimbingan dan kekuatan kepada kita sehingga selau dalam keimanan dan ketakwaan kepadaNya. Amin.
Hadirin Sidang Jumat yang dimuliakan Allah
10, 11, 12, dan 13 Dzulhijjah, merupakan waktu melakukan ibadah menyembelih hewan kurban. Berkurban bisa bermakna menyembelih hewan khusus dengan niat untuk bertaqarrub kepada Allah pada waktu khusus atau menyembelih dari hewan ternak berupa kambing, sapi, kerbau, unta dan sebangsanya untuk mendekatkan diri kepada Allah pada hari nahr.
Ibadah kurban merupakan ritual tradisi umat Islam. Disyariatkan pada tahun kedua hijriah, kini ibadah kurban telah melembaga dan membudaya serta memiliki corak tersendiri bagi komunitas umat Islam di berbagai belahan dunia. Karenanya kurban memiliki hakekat yang sangat kuat dan dalam serta harus diketahui oleh seorang kaum muslimin.
Berkurban juga bisa dimaknai bentuk sedekah seorang muslim kepada sesama dan jalan mendekatkan diri kepada Allah. Bersedekah berupa memotong hewan kurban dengan membagikan daging hewan kurban kepada masyarakat di sekitar seseorang yang berkurban.
Di antara hikmah ibadah kurban adalah
Pertama, menunjukkan sikap syukur Manusia setiap detik, saat, selalu mendapat nikmat dari Allah yang tidak dapat terhitung. Ketika kita selalu mendapat nikmat Allah, maka sangat wajar dan seharusnya harus bersyukur atas nikmat yang Allah telah berikan kepada kita sekalian.
Berkurban atau menyembelih hewan kurban adalah merupakan aktualisasi dari sikap syukur kepada Allah atas nikmat yang telah diterima sehingga kita mampu membeli hewan kurban untuk dibagikan kepada masyarakat sekitar.
Allah swt berfirman:
اِنَّا اَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ. اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الاَبْتَرُ.ِ
Artinya: "Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu adalah dia yang terputus." (QS Al-Kautsar: 1-3)
Kedua, sarana belajar ikhlas Ibadah kurban dalam pengamalannya memerlukan keimanan dan keikhlasan dari orang yang berkurban. Tanpa keimanan dan keikhlasan niscaya terasa sangat berat untuk dilaknasakan. Mengingat harus mengeluarkan sebagian hartanya untuk membeli hewan kurban dan dibagikan kepada masyarakat sekitar.
Keikhlasan ditunjukkan dengan harapan mendapat ridha dari Allah. Sehingga ada kelegaan atau keikhlasan dari orang yang berkurban. Harapan mendapat ridhalah yang juga menjadi penyemangat untuk berkurban.
Allah berfirman:
لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ
"Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya." (QS Al Hajj: 37)
Ketiga, memupuk kepedulian sesama Dengan berkurban berarti peduli kepada orang lain dan saudara-saudara. Dengan kurban berarti memperhatikan saudara dan tetangga. Kurban ini juga merupakan kesempatan untuk memupuk kepedulian kepada sesama manuisa.
Kesempatan ini hanya setahun sekali. Mari kita berusaha untuk bisa melakukan ibadah kurban setiap tahun, semoga Allah memberi kemudahan kepada kita.
Allah berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
"Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara." (QS Al Hujurat [49]: 10)
Keempat, menyiarkan Islam Ibadah kurban merupakan ibadah sosial yang berarti mengandung nilai-nilai sosial kemasyarakatan. Mengapa? karena setelah menyembelih hewan kurban daging hewan kurban dibagikan kepada lingkungan sekitar.
Hal ini boleh jadi akan memberikan daging kepada orang yang hanya makan daging setahun sekali, boleh jadi sampai kepada orang yang sedang kepengin makan daging kurban dan lain sebagainya.
Intinya dapat memberikan kebahagiaan dan menyambung persaudaraan dengan yang mendapatkan daging hewan kurban. Ketika kurban disembelih inilah terbentuk suasana kerumunan karena kehadiran masyarakat yang ingin melihat hewan kurbannya dipotong dan lain sebagainya.
Lantunan basmalah dan takbir dikumandangkan ketika sembelihan hewan kurban dilaksanakan. Hal ini menjadi syiar agama Islam yang boleh jadi akan menjadi jalan buat masyarakat Muslim untuk lebih kuat lagi imannya dan boleh jadi memberikan hidayah kepada orang yang belum Islam.
Allah SWT berfirman:
وَلِكُلِّ أُمَّةٖ جَعَلۡنَا مَنسَكٗا لِّيَذۡكُرُواْ ٱسۡمَ ٱللَّهِ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُم مِّنۢ بَهِيمَةِ ٱلۡأَنۡعَٰمِۗ فَإِلَٰهُكُمۡ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞ فَلَهُۥٓ أَسۡلِمُواْۗ وَبَشِّرِ ٱلۡمُخۡبِتِينَ
"Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah)." (QS al- Hajj : 34)
Kelima, meningkatkan iman dan takwa Iman memiliki sifat yazidu wayangkus/kadang naik, kadang turun. Karenanya kita harus berusaha untuk meningkatkan sekaligus memperkuat keimanan dan ketakwaan kita. Bagaimana cara meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita agar selalu tertanam dalam hati sanubari.
Tanpa usaha untuk melakukan kebaikan-kebaikan yang banyak sudah pasti iman dan takwa kita akan menurun dan boleh jadi hilang. Kemaksiatan dan mudlarat akan menjadikan kehancuran atau kelunturan iman dan takwa. Boleh jadi hal itu merupakan ujian yang diberikan Allah agar kita naik derajatnya.
Jika lulus akan naik derajatnya, naik maqomnya ke maqom atau derajat yang lebih tinggi. Selanjutnya jika kita sampai waktunya berkurban, boleh jadi itu ujian sekaligus harapan agar kita mendapat kebaikan dengan memperoleh keimanan dan ketakwaan yang kuat.
Ujian ini juga dialami oleh Nabi Ibrahim. Allah berfirman:
وَاِذِ ابْتَلٰٓى اِبْرٰهٖمَ رَبُّهٗ بِكَلِمٰتٍ فَاَتَمَّهُنَّ ۗ قَالَ اِنِّيْ جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ اِمَامًا ۗ قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِيْ ۗ قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِى الظّٰلِمِيْنَ
"Sesungguhnya Kami telah menguji Ibrahim dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu dia menunaikannya. (Ingatlah) ketika Tuhan berfirman kepadanya: Sesungguhnya Aku akan menjadikan engkau imam bagi seluruh umat manusia. Ibrahim berkata: (Jadikanlah) juga dari keturunanku (imam-imam). Tuhan berfirman: (Perjanjian-Ku) tidak akan sampai kepada orang-orang yang dzalim." (QS. Al-Baqarah: 124)
Keenam, terpelihara dari sifat kikir dan menjadi beruntung Berkurban merupakan sifat dan bukti ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Berkurban dengan harta untuk orang tertentu dan kebanyakan orang terasa berat, karena ada hubbud dunya (mencintai dunia), sehingga justru mengumpulkan dunia atau harta bukan membelanjakannya.
Berkurban merupakan pembelajaan harta di jalan Allah. Hanya ridha Allah yang diharapkan, bukan yang lain. Jika seseorang sudah ikhlas memberikan Sebagian hartanya untuk orang lain melalui ibadah kurban, maka Allah berjanji kepadanya dengan menjadikan orang yang berkurban akan dijauhkan dari sifat kikir dan selalu beruntung.
Allah berfirman:
فَاتَّقُوااللهَ مَااسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوْا وَاَطِيْعُوْا وَاَنْفَقُوْا خَيْرًا لاَنْفُسِكُمْ وَمَن يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَاُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
Artinya:"Maka bertakwaaalah kamu kepada Allah menurut kesangupanmu, dengar, dan taatlah, nafkahkanlah yang baik untuk dirimu, dan siapa yang dipelihara dirinya dari sifat kikir, merekalah orang-orang yang beruntung." (QS. At-Taghabun: 16)
Ketujuh, ibadah yang dicintai Allah Ibadah beberapa macam. Ada ibadah mahdloh (yang sudah ada ketentuannya) dan ibadah ghoiru mahdloh. Ibadah kurban termasuk ibadah yang ada ketentuannya dan juga merupakan ibadah yang lebih dicintai Allah.
Dengan ibadah kurban boleh kita berharap juga cinta yang besar dari Allah.
Rasulullah bersabda:
مَا عَمِلَ ابْنُ آدَمَ يَوْمَ النَّحْرِ عَمَلاً أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ هِرَاقَةِ دَمٍ وَإِنَّهُ لَيَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَظْفَارِهَا وَأَشْعَارِهَا وَإِنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ عَلَى الأَرْضِ فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا
"Tidak ada amalan anak cucu Adam pada Hari Raya Idul Kurban yang lebih dicintai Allah melebihi dari mengucurkan darah (berkurban). Sesungguhnya pada Hari Kiamat nanti hewan-hewan itu akan datang lengkap dengan tanduk-tanduknya, kuku-kukunya, dan bulu-bulunya. Sesungguhnya darahnya akan sampai kepada Allah -sebagai kurban- di mana pun hewan itu disembelih sebelum darahnya sampai ke tanah, maka ikhlaskanlah menyembelihnya." (HR Ibnu Majah dan Tirmidzi)
Demikian khutbah yang singkat ini, semoga bisa dipahami hikmah-hikmah berkurban. Sehingga Allah Ridha, memudahkan dan merestui kita untuk mau dan bisa berkurban. Amin.
Khutbah Jumat #4: Idul Adha, Meneladani Pengorbanan Nabi Ibrahim AS
(sumber: situs Pondok Pesantren Darunnajah)
Jamaah Jumat yang Dirahmati Allah
Pada kesempatan yang mulia ini, marilah kita senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Sesungguhnya takwa adalah bekal terbaik bagi kita dalam menjalani kehidupan di dunia ini dan untuk kehidupan akhirat kelak.
Kita telah melewati perayaan Idul Adha beberapa waktu lalu, namun hikmah dan pelajarannya selayaknya terus kita gali dan implementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Hari Raya Idul Adha merupakan momentum yang penuh makna bagi seluruh umat Islam di seluruh dunia. Hari ini mengingatkan kita pada pengorbanan agung yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS.
Hadirin yang Berbahagia
Idul Adha atau Hari Raya Kurban memiliki kaitan erat dengan kisah Nabi Ibrahim AS, seorang nabi yang dijuluki sebagai Khalilullah (kekasih Allah) dan termasuk dalam golongan Ulul Azmi karena keteguhan dan kesabarannya dalam menghadapi ujian-ujian dari Allah SWT.
Tahukah kita bahwa perjalanan hidup Nabi Ibrahim AS penuh dengan ujian dan cobaan? Sejak muda, beliau telah diuji dengan berbagai tantangan berat, mulai dari konfrontasinya dengan ayahnya yang penyembah berhala, hingga menghadapi kekejaman Raja Namrud yang memerintahkan untuk membakarnya hidup-hidup.
Namun ujian terberat yang dihadapi Nabi Ibrahim AS adalah ketika Allah SWT memerintahkannya untuk menyembelih putra kesayangannya, Ismail AS. Allah menguji keimanan Nabi Ibrahim AS melalui mimpi berturut-turut yang memerintahkannya untuk menyembelih putranya yang telah lama didambakan. Betapa beratnya ujian ini!
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an surat Ash-Shaffat ayat 102:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
"Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, 'Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi menyembelihmu, maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!' Dia (Ismail) menjawab, 'Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.'" (QS. Ash-Shaffat: 102)
Jamaah yang Dimuliakan Allah
Mari kita renungkan secara mendalam respons Nabi Ismail AS terhadap berita yang disampaikan ayahnya. Tanpa ragu, tanpa protes, tanpa berkeluh kesah, beliau justru mendukung ayahnya untuk melaksanakan perintah Allah SWT. Ini menunjukkan kematangan spiritualnya meskipun usianya masih sangat muda.
Saat keduanya telah berserah diri sepenuhnya kepada Allah dan Nabi Ibrahim AS bersiap melaksanakan perintah tersebut, Allah SWT menggantikan Ismail AS dengan seekor domba besar. Allah SWT berfirman:
فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ، وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ، قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ، إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ، وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ
"Maka ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) membaringkan anaknya atas pelipisnya, (untuk melaksanakan perintah Allah). Kami panggil dia, 'Wahai Ibrahim! Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu.' Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar." (QS. Ash-Shaffat: 103-107)
Hadirin Jamaah Jumat yang Dirahmati Allah
Kisah pengorbanan Nabi Ibrahim AS mengajarkan kepada kita beberapa nilai penting yang harus kita implementasikan dalam kehidupan sehari-hari:
Pertama, ketaatan tanpa syarat kepada Allah SWT. Nabi Ibrahim AS menunjukkan ketaatan total kepada perintah Allah SWT meskipun perintah tersebut bertentangan dengan kecintaannya terhadap putranya. Beliau mengutamakan kecintaan kepada Allah di atas segalanya. Hal ini mengingatkan kita pada firman Allah SWT:
قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
"Katakanlah: 'Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.' Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik." (QS. At-Taubah: 24)
Kedua, keikhlasan dalam beribadah. Apa yang dilakukan Nabi Ibrahim AS merupakan bentuk keikhlasan tertinggi dalam beribadah. Beliau rela mengorbankan apa pun, bahkan anaknya sendiri, demi mendapatkan ridha Allah SWT. Inilah esensi dari ibadah kurban yang kita laksanakan pada hari raya Idul Adha, yaitu keikhlasan dalam berkorban untuk Allah SWT.
Jamaah yang Berbahagia
Kisah pengorbanan Nabi Ibrahim AS juga mengajarkan kita tentang pengasuhan anak yang baik. Perhatikan bagaimana komunikasi yang dibangun antara Nabi Ibrahim AS dan putranya ketika menghadapi ujian berat ini. Beliau tidak memaksakan kehendaknya, melainkan berdiskusi dan meminta pendapat putranya.
Rasulullah SAW bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
Dari Abu Hurairah RA, ia berkata: "Rasulullah SAW bersabda: 'Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.'" (HR. Bukhari)
Hadits ini menunjukkan betapa besarnya pengaruh orang tua dalam pembentukan karakter dan nilai-nilai anak. Nabi Ibrahim AS telah berhasil menanamkan nilai-nilai ketaatan dan pengorbanan yang begitu kuat pada putranya sehingga ketika dihadapkan pada ujian berat, Nabi Ismail AS siap mengorbankan nyawanya dengan ikhlas.
Jamaah yang Dimuliakan Allah
Selain itu, kisah ini juga mengajarkan kita tentang pentingnya tawakal atau berserah diri kepada Allah SWT. Nabi Ibrahim AS menghadapi semua ujian dengan tawakal, yakin bahwa Allah SWT akan memberikan jalan terbaik. Dan memang, Allah SWT tidak menginginkan pengorbanan Ismail AS, melainkan hanya menguji ketaatan dan keikhlasan Nabi Ibrahim AS.
Allah SWT berfirman:
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
"Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu." (QS. At-Talaq: 3)
Hadirin yang Dirahmati Allah
Pengorbanan Nabi Ibrahim AS juga memiliki dimensi sosial. Dalam pelaksanaan ibadah kurban, kita diperintahkan untuk membagikan daging kurban kepada fakir miskin dan kaum yang membutuhkan. Ini mengajarkan kita tentang kepedulian sosial dan berbagi dengan sesama.
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا دَخَلَتْ الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلَا يَمَسَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلَا مِنْ بَشَرِهِ شَيْئًا
Dari Ummu Salamah RA, ia berkata: "Rasulullah SAW bersabda: 'Jika telah masuk sepuluh hari (pertama Dzulhijjah) dan salah seorang di antara kalian ingin berkurban, maka janganlah ia memotong rambut dan kukunya.'" (HR. Muslim)
Hadits ini menunjukkan persiapan spiritual yang harus dilakukan sebelum melaksanakan ibadah kurban, yang menegaskan bahwa kurban bukan sekadar ritual, melainkan bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT.
Jamaah Jumat yang Dimuliakan Allah
Dalam kehidupan modern ini, kita sering dihadapkan pada dilema antara ketaatan kepada Allah SWT dan kecintaan pada dunia. Kisah Nabi Ibrahim AS mengingatkan kita untuk senantiasa mendahulukan ketaatan kepada Allah SWT di atas segalanya.
Pengorbanan tidak selalu berarti mengorbankan nyawa seperti yang siap dilakukan oleh Nabi Ismail AS. Dalam konteks kehidupan kita sehari-hari, pengorbanan bisa bermakna:
- Mengorbankan waktu untuk beribadah dan berbuat kebaikan.
- Mengorbankan harta untuk membantu sesama dan berjuang di jalan Allah.
- Mengorbankan keinginan pribadi demi kebaikan keluarga dan masyarakat.
- Mengorbankan kesenangan duniawi untuk mendapatkan kebahagiaan akhirat.
Semua bentuk pengorbanan ini memerlukan keikhlasan dan ketaatan kepada Allah SWT, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim AS.
Hadirin Jamaah Jumat yang Dirahmati Allah
Marilah kita merefleksikan diri: Sejauh mana kita telah menerapkan nilai-nilai pengorbanan dalam kehidupan kita? Apakah kita sudah siap mengorbankan kepentingan pribadi demi ketaatan kepada Allah SWT? Apakah kita telah menjadi teladan yang baik bagi anak-anak dan keluarga kita dalam hal ketaatan dan pengorbanan?
Semoga Allah SWT memberikan kekuatan kepada kita untuk bisa meneladani pengorbanan Nabi Ibrahim AS dalam kehidupan sehari-hari. Mari kita jadikan momentum Idul Adha yang telah kita lewati sebagai pengingat akan pentingnya nilai-nilai ketaatan, keikhlasan, dan pengorbanan dalam kehidupan kita sebagai hamba Allah SWT.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيمُ.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Setelah kita membahas tentang kisah pengorbanan Nabi Ibrahim AS dan hikmahnya bagi kehidupan kita, marilah kita implementasikan nilai-nilai tersebut dalam keseharian kita. Pengorbanan sejati adalah ketika kita merelakan apa yang kita cintai demi mendapatkan keridhaan Allah SWT.
Dalam kehidupan modern ini, banyak tantangan dan godaan yang dapat mengalihkan kita dari ketaatan kepada Allah SWT. Namun, semangat pengorbanan Nabi Ibrahim AS harus tetap kita jaga dan terapkan. Ketika kita dihadapkan pada pilihan antara menuruti hawa nafsu atau menaati perintah Allah, kita harus memilih ketaatan kepada Allah meskipun itu berarti harus mengorbankan keinginan pribadi kita.
Mari kita teladani pula sikap Nabi Ismail AS yang dengan ikhlas menerima takdir Allah. Dalam kehidupan kita pasti ada ujian dan cobaan, namun dengan keikhlasan dan ketabahan, kita akan mampu melewatinya dengan baik.
Semoga Allah SWT memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua agar bisa meneladani sifat-sifat mulia Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS, serta mengamalkan nilai-nilai pengorbanan dalam kehidupan sehari-hari.
Khutbah Jumat #5: Menumbuhkan Empati dan Solidaritas Sosial Melalui Kurban
(sumber: laman NU Online)
Ma'asyiral Muslimin, Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah,
Alhamdulillahi rabbil 'alamin. Segala puji hanya milik Allah Swt. Atas limpahan nikmat-Nya, manusia tidak akan mampu menghitung karunia yang telah Dia berikan, sekecil apa pun nikmat itu. Karena itu, setiap Muslim wajib menghadirkan rasa syukur, bukan hanya melalui ucapan lisan, tetapi juga melalui amal dan ketaatan dalam kehidupan sehari-hari.
Wujud syukur yang paling nyata ialah ketika seseorang meningkatkan ketakwaannya kepada Allah Swt. dengan sungguh-sungguh. Ia menjalankan setiap perintah-Nya dengan penuh kesadaran dan menjauhi setiap larangan-Nya dengan penuh keikhlasan. Dalam Islam, ketakwaan tidak cukup hadir dalam ibadah ritual semata, tetapi juga harus tampak dalam kepedulian sosial terhadap sesama manusia.
Salah satu perintah Allah Swt. yang sangat ditekankan ialah berbagi rezeki kepada orang lain, terutama kepada mereka yang hidup dalam kekurangan. Sebaliknya, Allah Swt. melarang manusia memiliki sifat individualistis, gemar menimbun harta, serta enggan membantu sesama.
Allah Swt. berfirman:
لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتّٰى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنَ ۗوَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ شَيْءٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِهٖ عَلِيْمٌ
Artinya: "Kamu sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Apa pun yang kamu infakkan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui tentangnya." (QS. Ali 'Imran: 92).
Ayat tersebut menegaskan bahwa kebajikan tidak lahir dari banyaknya harta yang dimiliki, melainkan dari keikhlasan seseorang dalam berbagi. Islam tidak mengajarkan umatnya untuk hidup hanya bagi dirinya sendiri. Sebaliknya, Islam mengajarkan kepedulian, empati, dan semangat saling menolong.
Karena itu, Allah Swt. juga memberikan peringatan keras kepada orang-orang yang gemar menumpuk harta dan merasa aman dengan kekayaannya. Dalam Al-Qur'an, Allah Swt. berfirman:
وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍۙ ࣙالَّذِيْ جَمَعَ مَالًا وَّعَدَّدَهٗۙ يَحْسَبُ اَنَّ مَالَهٗٓ اَخْلَدَهٗۚ
Artinya: "Celakalah setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya. Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya." (QS. Al-Humazah: 1-3).
Ma'asyiral Muslimin, Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah,
Di tengah kehidupan saat ini, manusia menghadapi krisis kepedulian yang kian nyata. Teknologi memang mempermudah hidup, tetapi pada saat yang sama juga perlahan menjauhkan manusia dari empati dan kebersamaan. Media sosial membuat kehidupan orang lain mudah terlihat, tetapi tidak selalu membuat hati menjadi lebih peduli.
Hari ini, banyak orang sibuk memamerkan kemewahan hidup, tetapi abai terhadap tetangga yang kesulitan makan. Banyak orang berlomba membangun citra diri, tetapi lalai membantu saudara yang sedang tertimpa musibah. Akibatnya, individualisme tumbuh semakin kuat, hubungan antarwarga makin renggang, dan semangat gotong royong perlahan memudar.
Tidak sedikit orang hidup dalam kecukupan, tetapi tidak mengenal kondisi masyarakat di sekitarnya. Ada yang tidur dalam keadaan kenyang, sementara tetangganya menahan lapar. Ada pula yang menghabiskan harta demi gaya hidup berlebihan, sedangkan anak yatim dan kaum dhuafa masih menanti uluran tangan.
Karena itu, Islam mengajarkan umatnya untuk membangun kepedulian sosial. Kesalehan seorang Muslim tidak cukup diukur dari ibadah pribadinya, tetapi juga dari manfaat yang ia hadirkan bagi sesama. Sebab, keberkahan hidup tidak lahir dari banyaknya harta, melainkan dari seberapa besar manfaat yang mampu diberikan kepada orang lain.
Menghadapi kondisi ini, semangat kurban perlu kita hidupkan kembali. Ibadah kurban tidak hanya memperkuat kesalehan pribadi, tetapi juga menumbuhkan kesalehan sosial. Kurban mengajarkan solidaritas, kepedulian, dan kecintaan untuk berbagi.
Saat daging kurban dibagikan kepada sesama, Islam menghadirkan pemerataan kebahagiaan. Mereka yang kurang mampu ikut merasakan nikmat yang mungkin jarang mereka dapatkan pada hari-hari biasa. Islam tidak menghendaki kebahagiaan hanya dinikmati oleh sebagian orang.
Lebih jauh, Islam mengajarkan setiap Muslim untuk menjadi pribadi yang memberi manfaat bagi orang lain, sebagaimana sabda Rasulullah Saw.:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
Artinya: "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya."(HR Ahmad).
Ma'asyiral Muslimin, Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah,
Ibadah kurban yang disyariatkan setiap bulan Dzulhijjah semestinya menjadi titik kebangkitan kepedulian sosial di tengah masyarakat. Kurban pada Hari Raya Idul Adha tidak cukup dimaknai sebagai ritual tahunan semata, tetapi harus dilanjutkan dengan "kurban-kurban" lain dalam kehidupan sehari-hari: mengorbankan ego, menumbuhkan keikhlasan, serta membiasakan diri membantu sesama.
Momentum Idul Adha sejatinya menjadi sarana pendidikan ruhani, sosial, dan kemanusiaan. Dari ibadah kurban, umat Islam belajar tentang keikhlasan, pengorbanan, kepatuhan kepada Allah Swt., sekaligus kepedulian terhadap sesama manusia.
Karena itu, mari kita hidupkan kembali budaya berbagi, saling membantu, dan memperkuat ukhuwah Islamiyah. Jangan sampai kesibukan dan gemerlap kehidupan modern menjadikan kita pribadi yang abai terhadap penderitaan sesama.
Allah berfirman;
إِنّا أَعْطَيْناكَ الْكَوْثَرَ (١) فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَاِنْحَرْ (٢) إِنَّ شانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ (٣)
Artinya: "Sesungguhnya Kami telah memberimu (Nabi Muhammad) nikmat yang banyak, 2. Maka, laksanakanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah!, 3. Sesungguhnya orang yang membencimu, dialah yang terputus (dari rahmat Allah)." (QS Al-Kautsar: 1-3).
Semoga Allah Swt. menerima amal ibadah kurban kita, membersihkan hati kita dari sifat sombong dan cinta dunia yang berlebihan, serta menjadikan kita hamba-hamba yang ikhlas, peduli, dan bertakwa. Amin ya rabbal 'alamin.
Khutbah Jumat #6: Ibadah Qurban dan Penghilangan Sifat Kikir
(sumber: situs Suara Muhammadiyah)
Hadirīn rahimakumullāh
Pada kesempatan kali ini, marilah kita selalu meningkatkan iman dan taqwa kita, karena sebaik-baik bekal untuk menuju dan dekat kepada Allah adalah taqwa. Shalawat dan salam terlimpah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Saw, para kerabat dan sahabat beliau serta orang-orang yang memenuhi titah perintahnya hingga akhir jaman.
Hadirin sidang jumat yang berbahagia
Ibadah qurban merupakan ibadah khusus bagi orang yang berpunya. Hukumnya sunnah muakkadah. Adapun bagi mereka yang mampu, tetapi tidak bersedia melakukannya, dicela oleh rasul Rasulullah Saw. dengan larangan untuk tidak mendekati tempat shalat. Ini sebuah kiasan, bahwa seakan-akan tidak diakui dan dikucilkan dari pengikut Nabi Saw.
مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا
Artinya:
"Barangsiapa yang memiliki kelapangan untuk berqurban namun dia tidak berqurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami." (HR. Ibnu Majah no. 3123, Ahmad no. 8273, Al-Hakim.)
Menurut Abu Hanifah, yang dikatakan mampu itu adalah orang yang memiliki kemampuan setara dengan nishab (ukuran wajib mengeluarkan harta zakat) yakni 200 dirham (lihat al-Nawawi, al-Majmu', juz.9, hal. 290)
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah
Pada saat kehidupan dan penghasilan ekonomi sangat memprihatinkan, ibadah qurban yang jatuh pada hari idul adha nanti, sangat berarti sekali, terutama bagi mereka yang sangat jarang menikmati hidangan berupa daging hewan dan sejenisnya. Alangkah mulia, jika para agniya, atau orang-orang mampu, bisa berbagi. Sehingga tidak terasa kesenjangan melebar dan rasa keadilan terayomi bagi sesama.
Pada saat seperti inilah, dikala orang sangat memerlukan, ada yang melaksanakan qurban. Ingatlah ada sebuah riwayat, di akhir jaman nanti, orang sangat kesulitan untuk melakukan kebaikan. Pada saat itu, setiap orang memiliki kekayaan yang melimpah, sehingga ketika akan melaksanakan pembayaran zakat atau donasi lainnya akan mengalami kesulitan, karena tidak ada lagi orang yang sudi menerima. Tidak ada fakir miskin yang bersedia menerima zakat. Binatang qurban sangat banyak, tetapi tidak ada yang bersedia menerima pembagian daging kurban.
Hadirin Jamaah Jumat yang terhormat
Sebelum masa itu datang, kesempatan besar sekarang ini, untuk melaksanakan ibadah qurban. Apalagi hampir tidak ada orang yang menolak ketika diberi daging kurban, bahkan dagingnya yang tidak kecukupan. Bersyukurlah bagi orang yang dapat mengerjakannya saat ini, terlebih karena saat ini, orang sangat menghajatkannya.
Orang yang mampu berqurban, adalah orang-orang yang dekat kepada Allah. Bila dirinya dekat dengan Allah, maka doanya akan mudah dan cepat dikabulkan oleh-Nya. Sehingga segala biaya yang ia keluarkan untuk ibadah qurban pasti akan dikembalikan dengan lipat ganda dan akan mendapat ketentraman batin yang luar biasa. Terlebih bagi orang-orang yang ikhlas melakukannya. Orang yang berqurban adalah orang yang menyambut seruan Allah dan Rasulnya. Ia mengamalkan surat Al-Anfal, ayat: 24:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱسۡتَجِيبُواْ لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمۡ لِمَا يُحۡيِيكُمۡۖ
Artinya:
"Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu...".
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah
Di dalam ajaran Islam, qurban setidaknya mengandung dua aspek pelajaran:
Sebagai bukti tanda cinta kepada Allah dan taqwa
Sehubungan dengan ini, Allah berfirman dalam surah al-Hajj, ayat 37, yang artinya:
لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقۡوَىٰ مِنكُمۡۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمۡ لِتُكَبِّرُواْ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمۡۗ وَبَشِّرِ ٱلۡمُحۡسِنِينَ
Artinya: "Daging-daging (qurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya".
Seorang yang bertaqwa akan sangat hati-hati menjaga segala perintah Allah, supaya dia tidak meninggalkannya. Hati-hati menjaga larangan-Nya, agar dia tidak melanggarnya. Sehingga dia selamat hidup di dunia, dan di akhirat kelak.
Sebagai tanda penghayatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.
Orang yang berqurban itu adalah orang yang mempunyai kemampuan untuk menguasai dan mengendalikan milik dan harta yang disayanginya untuk dipersembahkan kepada Allah dan dibaktikan pada kepentingan kemanusiaan.
Hadirin jamaah jumat Rahimakumullah!
Orang yang tidak mau melaksanakan ibadah qurban--walaupun sebenarnya ia mampu-adalah orang yang kikir dan di dalam jiwanya terdapat sifat egois dan tamak terhadap harta. Untuk menghilangkan sifat ini, maka harus dilawan dengan kedermawanan dan kasih sayang. Kedermawanan dan kasih sayang ini ditandai dengan melaksanakan ibadah qurban. Jika sifat egois ini hilang akan berdampak signifikan bagi kemaslahan umat. Karena orang yang hilang egonya akan menjadi manusia yang rendah hati, suka menolong dan memberi kemanfaatan bagi sesama.
Negeri kita terkenal dengan kesuburannya, alamnya kaya, dihiasi dengan berjuta flora dan fauna. Pujangga berkeinginan hidup seribu tahun lagi, biduan bersenandung bahwa tongkat dilempar akan jadi tanaman, para penjiwa seni berujar negeri ini laksana untaian mutiara di katulistiwa, zamrud dan manikam di belahan dunia. Gunakan senjata tajam yang kita miliki untuk menyembelih hewan kurban sebagai pelambang membunuh sifat-sifat hewani yang ada pada diri manusia. Bagikan daging-daging kurban itu dengan senyuman sebagai tanda saling mengasihi dan sapaan persaudaraan sesama umat manusia.
Bagi yang belum mampu tahun ini berquraban, niatkan di dalam hati, semoga pada tahun tahun mendatang akan dapat juga mengikuti orang-orang sudah berqurban.
Islam itu indah, maka berindah-indah pula lah dalam Islam. Jangan rusak citra Islam lantaran kita tidak mampu mengikis sifat dan tabiat hewani. Dari ibadah qurban kita belajar dengan kesungguhan hati untuk menjadi makhluk terpuji, taat dan patuh pada Allah, sekaligus dekat kepada sesama manusia..
Hadirin yang dimuliakan oleh Allah swt!
Kesimpulan khutbah ini adalah ibadah qurban sangat baik sekali dilakukan karena banyak memiliki hikmah atau manfaat yaitu sebagai pembuktian cinta kepada Allah dan rasa penghayatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan, serta sebagai tanda penghayatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang pada akhirnya bisa menghilangkan sikap egoisme seseorang demi keselamatan umat.
Semoga khutbah ini ada manfaatnya bagi kita semua. Āmīn yā rabbal ālamīn.
Khutbah Jumat #7: Kurban Sebagai Simbol Kesetaraan Umat Manusia
(sumber: laman NU Lampung)
Hadirin sidang Jumat yang berbahagia,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah swt dengan menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Semoga dengan ketakwaan yang tulus, hidup kita penuh berkah, hati kita menjadi tenang, dan amal kita diterima di sisi-Nya.
Hari ini kita berada di bulan Dzulhijjah, bulan yang penuh keutamaan, bulan di mana kaum Muslimin di seluruh dunia melaksanakan ibadah kurban dan saudara-saudara kita yang berhaji ke Makkah sedang menyelesaikan rangkaian ibadah hajinya, dan seluruh umat Muslim bertakbir, mengagungkan nama Allah swt.
Di tengah kemuliaan bulan ini, mari kita renungkan salah satu nilai agung yang terkandung dalam ibadah kurban: kesederajatan manusia di hadapan Allah. Dalam momentum ini, mari kita tegaskan kembali bahwa dalam Islam, tidak ada keutamaan seseorang atas yang lain kecuali karena takwa.
Allah swt berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 13:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ ١٣
Artinya: Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti (Al-Hujurat: 13).
Ayat ini dengan sangat jelas menegaskan bahwa seluruh manusia memiliki derajat yang sama. Tidak ada perbedaan nilai kemanusiaan antara si kaya dan si miskin, antara bangsawan dan rakyat biasa, antara kulit putih dan kulit hitam, atau antara bangsa Arab dan non-Arab.
Ma'asyiral Muslimin,
Ibadah kurban adalah simbol dari keikhlasan, pengorbanan, dan ketaatan kepada Allah. Nabi Ibrahim 'alaihissalam yang bersedia akan menyembelih putranya Ismail 'alaihissalam atas perintah Allah, tidak mempertanyakan kedudukannya sebagai Nabi atau status keluarganya.
Ismail, meskipun anak dari seorang Nabi, tidak menolak perintah Allah. Keduanya menunjukkan bahwa dalam menjalankan perintah Allah, semua manusia adalah hamba yang setara, yang dinilai bukan dari keturunan atau status sosial, tetapi dari ketaatan dan ketakwaan.
Rasulullah saw juga menegaskan dalam khutbah hajinya:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَلَا إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ، أَلَا لَا فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى أَعْجَمِيٍّ وَلَا لِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ وَلَا لِأَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ وَلَا أَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ إِلَّا بِالتَّقْوَى
Artinya: Wahai sekalian umat manusia, ketahuilah sesungguhnya Tuhanmu satu (esa). Nenek moyangmu juga satu. Ketahuilah, tidak ada kelebihan bangsa Arab terhadap bangsa selain Arab (Ajam), dan tidak ada kelebihan bangsa lain (Ajam) terhadap bangsa Arab. Tidak ada kelebihan orang yang berkulit merah (puith) terhadap yang berkulit hitam, tidak ada kelebihan yang berkulit hitam dengan yang berkulit merah (putih), kecuali dengan takwanya (HR Ahmad, 22978).
Betapa mulianya ajaran Islam ini. Di saat dunia masih terjerat oleh stratifikasi sosial dan rasisme, Islam telah membebaskan manusia dari belenggu perbedaan lahiriah dan menekankan nilai manusia pada akhlak dan amalnya.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Penyembelihan hewan kurban juga mengajarkan kepada kita tentang keadilan sosial. Daging kurban dibagikan tidak hanya kepada keluarga, tapi juga kepada fakir miskin, tetangga, dan siapa saja yang membutuhkan. Ini menjadi wujud nyata dari kesetaraan dan solidaritas sosial dalam Islam. Tidak ada yang lebih mulia di hadapan Allah hanya karena kekayaannya, dan tidak ada yang hina karena kemiskinannya.
Di hari raya ini, kita melihat anak-anak miskin bisa menikmati daging yang mungkin hanya mereka temui setahun sekali. Ini menunjukkan bahwa dalam kebersamaan dan kepedulian, kita menghapus batas-batas sosial yang seringkali membatasi ukhuwah sesama manusia.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Namun sayangnya, di tengah masyarakat kita, kesetaraan ini masih sering terabaikan. Masih ada yang memandang rendah orang lain karena status ekonomi, warna kulit, latar belakang pendidikan, atau bahkan perbedaan mazhab dan golongan. Padahal, Allah tidak menilai seseorang dari hal-hal tersebut.
Jika kita benar-benar ingin meneladani semangat ibadah kurban, maka kita harus menghapus semua bentuk kesombongan, diskriminasi, dan ketidakadilan. Kita harus memperlakukan semua manusia dengan adil, penuh kasih sayang, dan menghargai perbedaan sebagai rahmat.
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Di hari raya kurban ini, mari kita perkuat kembali nilai ukhuwah Islamiyah kita. Mari kita tanamkan dalam diri bahwa kita semua adalah saudara. Tidak ada yang lebih tinggi derajatnya kecuali dengan takwa.
Mari kita jadikan momen hari raya ini sebagai ajang introspeksi, sejauh mana kita telah memperlakukan sesama manusia dengan adil. Apakah kita sudah menghapus kesombongan dan prasangka buruk? Apakah kita sudah memuliakan saudara-saudara kita yang berbeda status sosial? Apakah kita sudah menjadi umat yang benar-benar meneladani Rasulullah dalam memperlakukan manusia secara setara?
Jangan biarkan ibadah kurban hanya menjadi rutinitas tahunan yang kehilangan makna. Mari kita hayati setiap simbol dan pesan di baliknya. Seperti pisau yang mengalirkan darah hewan kurban, mari kita sembelih pula rasa sombong, angkuh, dan fanatisme golongan dari dalam diri kita.
Hadirin sidang Jumat yang dirahmati Allah Semoga kita termasuk orang-orang yang pasrah dan berserah terhadap perintah Allah. Apa pun yang Allah perintahkan, termasuk perintah untuk menjadi hamba yang bermanfaat bagi umat Islam lainnya.
Mari kita semua perkuat persaudaraan kita. Kita satu bangsa, kita keturunan Adam dan Hawa. Sesungguhnya, berbuat baik kepada orang lain tidak akan pernah rugi. Dengan kebaikan tersebut, kita terlepas dari sifat sombong dan jauh dari sifat-sifat kehewanan. Sesungguhnya Allah pasti sudah menyiapkan balasan dan keberkahan bagi siapa pun yang menjalankan perintah-Nya. Amin ya rabbal alamin.
Nah, itulah 7 khutbah Jumat akhir Mei 2026 tentang hikmah kurban dan hari Tasyrik. Semoga bermanfaat!

































































