Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyesalkan langkah Pemerintah Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) yang tetap menerbitkan izin penyelenggaraan konser penyanyi tenor kawakan, Andrea Bocelli. Pertunjukan dalam rangkaian Romanza 30th Anniversary World Tour itu dijadwalkan bakal menggelar pentas di Candi Borobudur, Magelang, serta JIExpo Kemayoran, Jakarta.
Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Prof Sudarnoto Abdul Hakim, membeberkan bahwa keputusan tersebut bertentangan dengan komitmen Kementerian Pariwisata RI. Menurutnya, pemerintah sempat berjanji bakal mengikuti arahan serta keputusan MUI terkait agenda konser musisi ternama asal Italia tersebut.
"Saya sangat menyesalkan keputusan pemerintah yang ternyata tidak 'tegak lurus' (istilah yang disebut pejabat Kementerian Pariwisata usai pertemuan dengan MUI) dengan sikap dan pernyataan resmi MUI serta aspirasi masyarakat," tegas Prof Sudarnoto di Jakarta, Rabu (28/10/2026), dikutip dari laman MUI.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penolakan MUI dan berbagai elemen masyarakat berlandaskan rekam jejak Bocelli yang tercatat pernah mengisi acara penggalangan dana untuk pasukan militer Israel (IDF) pada 2010 silam. Prof Sudarnoto menegaskan bahwa aksi penolakan ini semata-mata berorientasi pada misi kemanusiaan dan penolakan terhadap aksi agresi penjajahan di Palestina.
"Bocelli memang bukan zionis dan lirik-lirik lagunya bagus, melainkan tindakannya tampil bernyanyi di acara penggalangan dana IDF membuktikan dukungannya kepada mesin pembunuh zionis," katanya.
Ia mengkritik keras sikap pemerintah yang memberi panggung bagi sosok pendukung tentara penjajah. Padahal, Pembukaan UUD 1945 mengamanatkan komitmen tegas Indonesia dalam menentang segala bentuk penjajahan di atas dunia.
MUI juga menilai alibi promotor terkait program bantuan 100 ribu pasang sepatu untuk anak-anak Palestina tidak relevan dan tak sebanding dengan penderitaan serta korban jiwa di Gaza akibat tindakan IDF.
Di tengah hitungan hari menjelang acara, MUI masih mendesak Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto dan jajaran pemerintah untuk mengkaji ulang izin keramaian tersebut. MUI turut menuntut Bocelli menyampaikan penyesalan secara terbuka atas keterlibatannya dalam penggalangan dana IDF di masa lalu jika ia benar-benar peduli pada nilai kemanusiaan.
Di lain pihak, promotor Shoemaker Live memastikan pertunjukan tetap bergulir sesuai rencana, yakni pada 31 Oktober 2026 di Magelang dan 3 November 2026 di Jakarta. Founder Shoemaker Live, Prajna Murdaya, mengklaim keputusan ini diambil usai mempertimbangkan berbagai masukan masyarakat serta efek strategis bagi sektor pariwisata, kebudayaan, dan ekonomi kreatif.
"Kami mendengarkan setiap pandangan tersebut dengan hati terbuka. Maestro Bocelli senantiasa menjunjung nilai-nilai kemanusiaan dan ingin menyampaikan harapan akan perdamaian, terutama bagi mereka yang hingga hari ini belum dapat merasakannya," tutur Prajna, dikutip Antara.
Pihak promotor mengeklaim konser ini membawa pesan damai lewat aransemen lagu khusus yang didedikasikan bagi anak-anak korban perang. Promotor juga menggalang bantuan 100 ribu pasang sepatu bagi anak-anak di area konflik, termasuk Palestina, serta membuka peluang kerja sama dengan musisi orkestra dan UMKM lokal.




































































