Kopi tanpa gula, seperti americano, kerap menjadi minuman andalan bagi banyak orang yang sedang menjalani program penurunan berat badan. Selain rendah kalori, minuman hitam ini dipercaya ampuh menahan lapar dan mendongkrak proses pembakaran energi di dalam tubuh.
Terkait ini, spesialis gizi klinik dr Igus Ulfa Yaze, SpGK, membenarkan bahwa konsumsi americano memang diperbolehkan bagi pejuang defisit kalori. Tetapi, ada beberapa catatan medis mendasar yang wajib dipastikan, seperti riwayat asam lambung dan tingkat toleransi tubuh terhadap kafein.
"Selama kamu nggak ada alergi terhadap kafein, terus asam lambung memang aman sejauh ini, mau konsumsi americano boleh nggak ada masalah. Bahkan sebenarnya si kopi ini bisa membantu kamu untuk menekan nafsu makan sementara," kata dr Yaze dalam siaran langsung TikTok detikHealth, Kamis (22/10/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
dr Yaze menjelaskan bahwa kafein dalam americano memang dapat mendongkrak laju metabolisme tubuh walau efeknya relatif kecil. Kendati demikian, khasiat ini bukan alasan untuk mengonsumsi kopi secara berlebihan dari pagi hingga malam.
"Bukan berarti setiap hari kamu minum kopi dari pagi sampai malam, itu nggak benar juga. Tetap misalnya 1-2 cangkir per hari dan cangkirnya bukan cangkir yang 200 ml, bukan 250 ml, tapi cangkir yang 100 ml," terangnya.
Deteksi Toleransi Kafein Lewat Tes DNA
Lebih lanjut, dr Yaze menyentil bahaya laten kafein bagi individu yang sebenarnya memiliki intoleransi atau alergi kafein. Pada kelompok ini, asupan kafein justru berpotensi memicu gangguan metabolisme hingga masalah pada pembuluh darah.
Demi memetakan toleransi tubuh secara akurat, dr Yaze menyarankan masyarakat memanfaatkan teknologi pemeriksaan genetik modern.
"Untuk tahu kita itu ada alergi kafein apa nggak, itu sebenarnya bisa kita cek DNA. Jaman sekarang itu sudah ada tes nutrigenomik," ucap dr Yaze.
"Kita bisa lihat dari hasil DNA kita ternyata misalnya ada alergi kafein, misalnya ternyata dengan konsumsi kafein malah bikin peningkatan masalah pada pembuluh darah. Jadi kita sudah bisa mencegah makanan-makanan apa saja yang bisa memicu penyakit di kemudian hari," bebernya.

























































