Menilik sejarah jejak perkembangan Islam di Negeri Matahari Terbit, terdapat seorang yang disebut-sebut sebagai orang Jepang pertama yang menunaikan ibadah haji di Kota Suci Makkah. Orang Jepang pertama yang berhaji tersebut adalah Umar Yamaoka, yang disebutkan berhaji pada tahun 1909 dengan ditemani seorang pendakwah dari suku Tartar.
Perjalanan haji Umar Yamaoka bukan hanya sekadar perjalanan spiritual menuju Tanah Suci, melainkan juga menjadi tonggak sejarah penting kaitannya dalam perkembangan Islam di Jepang.
Simak kisah Umar Yamaoka sebagai orang Jepang pertama yang berhaji pada tahun 1909 dalam ulasan berikut ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejarah Masuknya Islam di Jepang
Sejarah mencatat masuknya Islam di Jepang berkaitan erat dengan peristiwa datangnya ekspedisi diplomatik "Kapal Ertugrul" dan Kekaisaran Ottoman (Turki). Mengutip buku Sejarah Sosial Muslim Minoritas di Kawasan Asia karya Asep Achmad Hidayat, tragedi tenggelamnya Kapal Ertugrul memicu aksi pertolongan serta penggalangan dana dari rakyat Jepang untuk membantu memulangkan penumpang yang selamat. Kejadian ini mempererat hubungan diplomatik antara Jepang dan Turki.
Sementara itu menurut versi lainnya, Islam pertama kali memasuki Jepang dibawa oleh para pendakwah Tartar dari Imperium Rusia. Salah satu pendakwah pertama dari suku Tartar ialah Abdul Rashid Ibrahim yang disebutkan menjajaki Jepang pada tahun 1908.
Setelah kedatangan Abdul Rashid Ibrahim, banyak muslim dari suku Tartar yang datang ke Jepang untuk turut menyebarkan agama Islam dan berdagang, sehingga banyak orang Jepang yang mulai memeluk agama Islam.
Umar Yamaoka Jadi Orang Jepang Pertama yang Berhaji
Dijelaskan dalam buku Studi Islam Kontemporer karya Faisal Ismail, sejarah mencatat Umar Yamaoka Kotaro sebagai orang Jepang pertama yang menunaikan ibadah haji ke Makkah. Ia berhaji pada tahun 1909 dengan ditemani oleh Abdul Rashid Ibrahim, pendakwah dari suku Tartar yang telah disebutkan sebelumnya.
Sepulang dari Makkah, Umar Yamaoka mengajak dan mengimbau masyarakat Jepang untuk mulai menaruh minat dan perhatian kepada perkembangan situasi politik bangsa-bangsa Islam, yang saat itu tengah terbelenggu di bawah dominasi kekuasaan Barat.
Umar Yamaoka juga menyerukan dan menekankan pentingnya memahami agama Islam dalam perkembangan situasi dunia pada masa itu.
Perkembangan Islam di Jepang
Pada kurun waktu 1930-1945, Islam di Jepang mulai memperlihatkan gerak aktivitas yang semakin menonjol. Periode ini menandai munculnya Jepang sebagai kekuatan militer yang menjadikannya terlibat dalam peperangan.
Ekspansi-ekspansi dan kemenangan militer Jepang menjadi kesempatan jalinan hubungan antara orang-orang Jepang dengan masyarakat Islam di China, India, Indonesia, dan negara Asia Tenggara yang diokupasi kolonialisme Barat.
Pada saat itu, orang-orang Jepang semakin mencurahkan minat untuk mengkaji dan meneliti Islam lebih jauh. Seiringan dengan hal tersebut, semakin bertambah pula orang-orang Jepang yang memeluk agama Islam.
Disebutkan bahwa pada tahun 1924, Nur Tanaka Ippei tercatat sebagai orang Jepang kedua setelah Umar Yamaoka menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci Makkah.




































































