Islam mulai dikenal di Jepang melalui hubungan dengan negara-negara muslim, salah satunya Kesultanan Utsmaniyah. Shōtarō Noda menjadi salah satu tokoh yang tercatat dalam sejarah awal Islam di Jepang setelah memeluk Islam pada 21 Mei 1891.
Jurnalis Jepang itu masuk Islam saat tinggal di Istanbul dan memakai nama Abdulhalim. Perjalanannya ke Istanbul bermula dari misi mengantarkan bantuan bagi korban kapal perang Ertuğrul.
Berawal dari Tragedi Kapal Ertuğrul
Dikutip dari Turkiye Today, hubungan Jepang dan Kesultanan Utsmaniyah berkembang pada masa Kaisar Meiji. Salah satu peristiwa penting yang mendekatkan kedua negara adalah kunjungan Pangeran Komatsu Akihito ke Istanbul pada 1887.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagai balasan, Sultan Abdulhamid II mengirim delegasi ke Jepang menggunakan kapal perang Ertuğrul pada 1889. Kapal itu tiba di Yokohama pada Juni 1890. Komandan armada Osman Pasha menyerahkan surat dan hadiah dari sultan kepada Kaisar Jepang.
Namun, perjalanan pulang delegasi tersebut berakhir tragis. Pada 16 September 1890, kapal Ertuğrul diterjang cuaca buruk, menabrak karang, lalu tenggelam saat menuju Kobe.
Tragedi itu mendapat perhatian luas di Jepang. Sejumlah surat kabar menggalang dana untuk membantu 69 korban selamat. Jiji Shinpō, tempat Noda bekerja, menjadi salah satu penyumbang terbesar.
Noda kemudian ditugaskan mengantarkan bantuan kepada pemerintah Utsmaniyah. Dia berangkat bersama para korban selamat menggunakan kapal perang Jepang Hiei dan Kongō pada 11 Oktober 1890.
Setibanya di Istanbul pada 6 Januari 1891, Noda menyerahkan 88.497 kurus, mata uang yang digunakan pada era Utsmaniyah, kepada Rıza Hasan Pasha selaku ketua perkumpulan bantuan bagi korban. Peristiwa itu diberitakan oleh berbagai surat kabar Istanbul.
Belajar Bahasa Turki hingga Memeluk Islam
Selama berada di Istanbul, Noda tetap menulis untuk Jiji Shinpō dan memberikan wawancara kepada media lokal maupun Eropa. Kehadirannya menarik perhatian karena dia merupakan warga Jepang yang tinggal di ibu kota Utsmaniyah.
Ketika kapal Jepang hendak kembali, Sultan Abdulhamid II meminta seorang perwakilan Jepang menetap di Istanbul untuk mengajarkan bahasa Jepang kepada para perwira Utsmaniyah sekaligus mempelajari bahasa Turki. Noda terpilih menjalankan tugas tersebut.
Dia mengajar dua perwira dan enam siswa di Akademi Militer Utsmaniyah. Sebagai gantinya, para perwira mengajarinya bahasa Turki. Salah satu muridnya, Mustafa Asım Efendi, bahkan menyusun kamus tiga bahasa, yakni Turki, Jepang, dan Prancis.
Selama tinggal di Istanbul, Noda mempelajari sejarah Islam dan Kesultanan Utsmaniyah serta membaca buku-buku tentang Islam. Perlakuan baik yang diterimanya turut memengaruhi keputusannya memeluk Islam.
Pada 21 Mei 1891, Noda masuk Islam dan memakai nama Abdulhalim. Dia juga menjalani khitan. Kabar tersebut disambut baik di Istanbul, sementara sejumlah surat kabar Utsmaniyah menerbitkan foto dirinya.
Peristiwa itu membuat Noda tercatat sebagai orang Jepang pertama yang diketahui memeluk Islam.
Kembali ke Jepang pada 1892
Selama tinggal di Istanbul, Noda juga menjadi penerjemah bagi sejumlah tokoh Jepang, termasuk Kiyoura Keigo yang kelak menjadi perdana menteri Jepang dan pengusaha Yamada Torajiro.
Yamada datang ke Istanbul untuk menjajaki hubungan perdagangan Jepang dan Utsmaniyah. Noda membantu menerjemahkan percakapannya dengan Menteri Luar Negeri Sait Pasha.
Menjelang akhir 1892, Noda meninggalkan Istanbul dan kembali ke Tokyo melalui Eropa serta Amerika Serikat. Setelah kembali ke Jepang, dia melanjutkan kariernya sebagai jurnalis.
Dikutip dari Daily Sabah, Noda menulis surat kepada Sultan Abdulhamid II pada 5 Februari 1893 untuk menyampaikan terima kasih atas pelajaran bahasa Turki yang diterimanya selama tinggal di Istanbul.
Beberapa tahun setelah itu Noda meninggal pada 27 April 1904 di usia 35 tahun. Kisahnya menjadi catatan awal pertukaran budaya dan agama antara Jepang dan Kesultanan Utsmaniyah.




































































