Sebuah mal berusia puluhan tahun di Dhaka, Bangladesh akhirnya tutup. Hal ini terjadi perubahan gaya belanja masyarakat hingga penurunan angka penjualan.
Namanya adalah Karnaphuli Garden City. Mal yang sudah berdiri sejak 1998 ini akhirnya dijual karena terus merugi. Per Oktober 2026, hanya ada 25 toko yang beroperasi dari yang sebelumnya 198 toko.
Dikembangkan oleh Karnaphuli Group, kompleks ini menempati area lantai dasar (basement) dan empat lantai pertama dari sebuah bangunan setinggi 20 lantai, dengan apartemen di bagian atasnya. Toko-toko di dalamnya menjual pakaian jadi, sepatu, kosmetik, perhiasan, dan berbagai barang lainnya, serta dilengkapi dengan pujasera (food court).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketua Asosiasi Pemilik Toko di Karnaphuli Garden City, AKM Iqbal, mengatakan para pemilik toko memutuskan untuk menjual properti tersebut.
"Kami menjualnya. Semua pemilik toko membuat keputusan ini bersama. Tempat ini bisa diubah menjadi rumah sakit, pusat diagnostik, stasiun televisi, atau jenis kantor lainnya," katanya dikutip dari The Daily Star, Kamis (29/10/2026).
Kompleks utama telah ditutup, meskipun beberapa toko di dekat pintu masuk masih beroperasi untuk menghasilkan pendapatan sewa guna menutupi pengeluaran penting, termasuk gaji petugas keamanan dan manajer. Iqbal mengungkapkan bahwa para pemilik bahkan harus meminjam uang untuk memenuhi biaya-biaya tersebut.
Menurut pihak berwenang, penutupan ini tidak berdampak pada apartemen yang terletak di lantai-lantai atas.
Penutupan pusat perbelanjaan ini menyoroti tantangan yang dihadapi oleh destinasi belanja lama di Dhaka, di mana perubahan kebiasaan berbelanja, persaingan yang semakin ketat, serta penurunan angka penjualan terus menggerogoti kelangsungan bisnis mereka.
Perubahan Gaya Belanja Masyarakat
Iqbal mengatakan bahwa pasar ritel di Dhaka telah mengalami perubahan yang signifikan. Hadirnya pusat perbelanjaan baru, toko-toko dengan merek ternama, dan layanan belanja online memberikan banyak pilihan untuk para konsumen.
"Saat ini, konsumen dapat membandingkan harga serta kualitas produk di berbagai toko maupun platform daring. Mereka tidak lagi harus selalu mendatangi pusat perbelanjaan konvensional," ujarnya.
Penurunan jumlah pengunjung juga membuat pemilik toko semakin sulit untuk menutup biaya sewa, biaya layanan, gaji karyawan, dan tagihan listrik.
Sementara itu, presiden Asosiasi Pemilik Toko Bangladesh, Md Helal Uddin mengungkapkan bahwa sektor perdagangan mengalami penurunan selama hampir dua hingga dua setengah tahun terakhir. Menurutnya, ada pedagang yang bahkan tidak mencatatkan satu pun penjualan selama tiga hingga lima hari berturut-turut.
Banyak pelaku usaha tidak lagi mampu membayar gaji karyawan dari pendapatan mereka, sehingga terpaksa menggunakan modal usaha untuk menutupi biaya tersebut. Bahkan, mereka yang bersedia menjual barang tanpa mengambil keuntungan pun tetap kesulitan untuk mempertahankan kelangsungan usahanya.
Helal Uddin memperingatkan bahwa dua atau tiga pusat perbelanjaan lainnya mungkin akan tutup dalam dua hingga tiga bulan ke depan jika kondisi tidak membaik. Perwakilan dari dua pusat perbelanjaan baru-baru ini menyampaikan kepadanya bahwa mereka tidak lagi sanggup mempertahankan bisnis mereka.
Ia menuturkan bahwa sektor usaha kecil dan menengah hanya menerima sedikit dukungan dari pemerintah selama masa sulit ini. Ia mengklaim bahwa mereka tidak merasakan manfaat dari langkah-langkah bantuan yang didanai oleh pajak masyarakat sejak pandemi Covid-19.
Ia memperingatkan bahwa penutupan pusat-pusat perbelanjaan ini dapat melenyapkan investasi bernilai ratusan crore taka dan menyebabkan ribuan pekerja kehilangan mata pencaharian, sementara peluang kerja alternatif sangatlah terbatas.





























































