Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) memaparkan capaian dalam pemeringkatan keberlanjutan global. Selain meningkatkan reputasi di tingkat internasional, UMY menekankan upaya keberlanjutan melalui pengembangan kampus hijau, perluasan akses pendidikan, hingga penguatan kontribusi mahasiswa kepada masyarakat.
"Kami meyakini bahwa di dalam mewujudkan SDGs sesuai dengan tupoksi perguruan tinggi dalam Tri Dharma, kami tidak bisa sendiri. Semakin banyak mitra yang bisa kami kolaborasi, maka semakin luas kontribusi yang bisa diberikan ataupun dirasakan," ujar Wakil Rektor Bidang Mutu, Reputasi, dan Kemitraan UMY, Slamet Riyadi, saat jumpa pers di Kampus UMY, Bantul, Rabu (28/10/2026).
Dalam pemaparannya, UMY menempati peringkat ke-133 dunia dan ke-12 nasional dalam UI GreenMetric. Pada Times Higher Education (THE) Impact Rankings, UMY berada di posisi 601-800 dunia dan peringkat ke-15 nasional. Sementara dalam QS Sustainability Rankings, UMY berada di peringkat 1.071-1.080 dunia dan ke-16 nasional.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Slamet mengatakan, pencapaian tersebut tidak terlepas dari kolaborasi dengan berbagai pihak. UMY tercatat memiliki kerja sama dengan perguruan tinggi serta kerja sama dengan mitra dunia usaha, industri, dan dunia kerja. Menurutnya, pemeringkatan eksternal menjadi salah satu indikator untuk melihat kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan berkelanjutan.
"Ini adalah bukti pengukuran yang dilakukan oleh lembaga eksternal atas kontribusi UMY di dalam mewujudkan, berperan serta di dalam mewujudkan sustainable development goals," katanya.
UMY Kembangkan Kampus Hijau
Sekretaris UMY, Bachtiar Dwi Kurniawan, menjelaskan upaya keberlanjutan juga diterapkan melalui pengembangan kampus hijau. Salah satunya dengan mendorong pemanfaatan energi terbarukan, efisiensi penggunaan air, serta pengelolaan lingkungan kampus.
UMY saat ini telah memasang sekitar 48 unit panel surya. Jumlah tersebut direncanakan bertambah pada tahun anggaran berikutnya untuk meningkatkan pemanfaatan energi surya di lingkungan kampus.
"Panel surya sekarang sudah terpasang sekitar 48 unit, dan tahun anggaran ke depan kami akan transformasi lebih radikal lagi supaya semakin banyak panel surya untuk mengganti energi yang ada di UMY," ujar Bachtiar.
Selain energi surya, kata Bachtiar, UMY juga merencanakan pembangunan stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) di lingkungan kampus bagian utara dan selatan, termasuk kawasan UMY Mall. Fasilitas tersebut ditujukan untuk mendukung penggunaan kendaraan listrik oleh dosen, karyawan, dan mahasiswa.
"Selain panel surya, karena transformasi energi listrik, tentu kami akan membangun SPKLU yang ada di lingkungan kampus, sehingga nanti dosen, karyawan, atau mahasiswa yang menggunakan kendaraan dengan energi listrik tidak kehabisan, dan tidak ketakutan kalau habis energinya," katanya.
"Kami juga melakukan efisiensi air, beberapa gedung sudah menggunakan air daur ulang. Kemudian, kami menyediakan 210 sepeda di titik-titik kampus dan ke depan akan kami tambah seiring dengan pengembangan kampus ke utara dan selatan. Kami juga memperbaiki jalur pedestrian, termasuk memperlebar jalur yang terganggu oleh akar pohon," lanjutnya.
Dalam pengelolaan sampah, UMY menjalankan sejumlah program pengelolaan limbah, termasuk limbah berbahaya dan biomedis. Kampus juga mengampanyekan gerakan pengurangan sampah plastik melalui slogan no plastic, no panic.
"Untuk pengelolaan limbah, termasuk limbah berbahaya dan biomedis. Kami juga mengampanyekan no plastic, no panic sampai 2050," tegas Bachtiar.
Perluas Akses Pendidikan dan Pengabdian Mahasiswa
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan UMY, Faris Al-Fadhat, mengatakan keberlanjutan tidak hanya berkaitan dengan lingkungan dan reputasi institusi, tetapi juga akses pendidikan serta kontribusi mahasiswa kepada masyarakat.
UMY menyiapkan 40 skema beasiswa pada 2025, baik melalui sumber internal maupun eksternal. Menurut Faris, sekitar 19,4 persen mahasiswa UMY memiliki keterbatasan ekonomi. Selain itu, sekitar 30 persen mahasiswa merupakan generasi pertama di keluarga mereka yang menempuh pendidikan tinggi.
"UMY memberi akses pendidikan dengan kualitas baik, tetapi juga punya sasaran yang juga membantu untuk keberlanjutan. Misalnya kalau kita lihat 40 skema beasiswa kita siapkan di tahun 2025, di mana internal dan eksternal, dan ini ternyata meng-cover begitu banyak anak-anak muda kita," kata Faris.
Menurutnya, akses pendidikan yang lebih luas dapat membuka peluang bagi mahasiswa untuk meningkatkan kualitas hidup keluarga sekaligus berkontribusi kepada masyarakat.
"Jadi salah satu upaya kita untuk menyiapkan atau menyelesaikan challenge tadi adalah bagaimana mahasiswa ini aktif dalam kegiatan dan juga prestasi. Kalau tahun lalu kita melihat ada 659 total prestasi, baik akademik maupun non-akademik," jelasnya.
"Indikator ini adalah indikator di mana mereka beraktivitas, meraih prestasi. Tapi lebih dari itu, UMY ingin dengan prestasi itu kemudian bertransformasi menjadi dampak nyata. Jadi kita tidak hanya melihat mereka berprestasi saja, tetapi bagaimana prestasi itu membangun karakter," tuturnya.
Faris mengatakan, perluasan akses pendidikan berkualitas dan pembentukan karakter menjadi tantangan yang perlu dijawab perguruan tinggi. Dia menyoroti masih terbatasnya akses masyarakat Indonesia terhadap pendidikan tinggi, termasuk lulusan SMA yang tidak melanjutkan kuliah.
"UMY ini akan mempersiapkan mahasiswa, lulusan yang betul-betul punya kualitas ilmu pengetahuan, tetapi dia juga harus punya landasan keislaman dan kemuhammadiyahan untuk kemaslahatan bagi sebanyak mungkin orang," tutupnya.

































































