Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) berhasil meraih Juara 2 kategori Perguruan Tinggi Swasta (PTS) untuk pendampingan pengentasan kemiskinan, dalam ajang Mandaya Awards 2026, Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Kemenko PM) di Jakarta, Selasa (27/10).
Prestasi nasional ini menjadi pengakuan atas upaya UMY dalam membangun program pengabdian masyarakat yang berorientasi pada dampak nyata dan keberlanjutan, salah satunya melalui pendampingan Desa Semoyo, Kapanewon Patuk, Kabupaten Gunungkidul.
Mandaya Awards sendiri merupakan ajang apresiasi nasional yang diselenggarakan Kemenko PM untuk memberikan penghargaan kepada berbagai pihak yang berkontribusi dalam pemberdayaan masyarakat dan pengentasan kemiskinan. Ajang tahun 2026 ini diikuti 350 perguruan tinggi negeri dan swasta dari seluruh Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam kategori PTS, UMY menempati posisi kedua, di bawah Universitas Bina Nusantara. Posisi berikutnya ditempati Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, Institut Teknologi dan Bisnis Widya Gama Lumajang, serta Universitas Teknologi Bandung.
UMY mengusulkan Desa Semoyo sebagai representasi keberhasilan program pengabdian masyarakat yang telah dijalankan. Desa tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana pendampingan perguruan tinggi dapat diarahkan untuk memperkuat kapasitas masyarakat, mengembangkan potensi lokal, dan mendorong kemandirian desa.
Direktur Direktorat Riset dan Pengabdian (DRP) UMY, apt. RR. Sabtanti Harimurti, S.Si., M.Sc., Ph.D., menjelaskan, penilaian dalam ajang ini tidak dilihat dari besarnya modal atau bantuan yang diberikan, melainkan dampak program terhadap kehidupan masyarakat dan keberlanjutan hasil pendampingan setelah program berjalan.
"Milestone UMY sebagai Entrepreneurial University salah satunya adalah bagaimana kita bisa berdampak bagi masyarakat. Penghargaan ini juga menunjukkan bahwa UMY dikenal mampu membangun masyarakat," ujar Sabtanti dalam keterangan tertulis, Rabu (28/10/2026).
Sabtanti bilang, keberhasilan pendampingan masyarakat membutuhkan kolaborasi lintas unsur di lingkungan perguruan tinggi. Seperti di Semoyo, pemberdayaan tidak hanya melibatkan dosen, tetapi juga mahasiswa melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang dilaksanakan selama beberapa tahun.
Keterlibatan dosen dan mahasiswa tersebut menjadi bagian dari upaya UMY mengintegrasikan pelaksanaan tridarma perguruan tinggi, khususnya pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
"Semoyo tidak hanya didampingi dosen. Mahasiswa juga beberapa kali melaksanakan KKN di sana. Memang kita kerahkan bersama-sama untuk membangun Semoyo," tuturnya.
Selain di Desa Semoyo, UMY juga mengembangkan program pemberdayaan di wilayah lain. Seperti program penguatan ketahanan pangan di kawasan lereng Merapi, Cangkringan, Sleman, yang diawali dengan pembangunan rumah kaca.
Mendapat penghargaan tak membuat UMY berhenti membuat program yang berdampak ke masyarakat. Keberhasilan pendampingan di Desa Semoyo diharapkan menjadi sumber pembelajaran untuk diterapkan di wilayah lain dengan menyesuaikan kebutuhan dan karakteristik masyarakat setempat.
Kini, UMY membidik Bangunjiwo, Bantul, yang berada relatif dekat dengan lingkungan UMY. Wilayah tersebut dinilai memiliki tantangan sosial-ekonomi yang memerlukan pendekatan pemberdayaan secara bertahap agar masyarakat semakin mandiri.
Melalui pendampingan yang berkelanjutan, masyarakat diharapkan tidak hanya menerima bantuan, tetapi juga memiliki kapasitas untuk mengelola potensi dan mengembangkan kegiatan ekonomi secara mandiri.

































































