Stevia merupakan pengganti gula pasir yang cukup populer. Menteri Kesehatan mengungkap jika stevia bisa menjadi alternatif yang lebih sehat, berikut penjelasannya.
Bagi mereka yang sedang menjalani diet atau mengubah pola makan lebih sehat, biasanya akan menghindari konsumsi gula. Sayangnya, tidak sedikit orang merasa kesulitan ketika harus hidup tanpa mendapatkan asupan manis.
Oleh karena itu, pemanis pengganti, seperti stevia sering jadi andalan. Stevia diperoleh dari daun tanaman Stevia rebaudiana yang telah dimanfaatkan masyarakat Amerika Selatan selama berabad-abad.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Industri pangan lalu mengolah tanaman tersebut menjadi sebuah pemanis yang biasa diproduksi dalam kemasan sachet atau cairan tetes.
Menambahkan stevia ke dalam makanan dan minuman akan memberikan sentuhan rasa manis yang sama seperti menambahkan gula.
Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan Indonesia, sempat membagikan informasi seputar stevia lewat unggahan video bertagar #BudiGemarSharing di Instagram (19/6). Dalam video tersebut, Menteri Kesehatan menyarankan mereka yang gemar minum teh manis untuk mengganti gula dengan satu tetes stevia.
Stevia bisa menjadi pengganti gula pasir yang lebih sehat. Foto: Instagram @bgsadikin / @budigsadikin |
"Stevia ini adalah pemanis alami yang berasal dari daun Stevia Rebaudiana dan zat aktifnya namanya Steviol Glycosides. Kalian pasti sudah stok ini di rumah ya?" ujarnya Menteri dalam video.
Budi Gunadi Sadikin turut memberikan informasi bila satu tetes stevia sudah bisa memberikan 100-400 kali rasa lebih manis dari gula biasa. Oleh karena itu, penggunaannya disarankan hanya satu tetes saja per minuman.
Satu tetes stevia bisa memberikan rasa manis 100-400 kali lebih dari gula pasir. Foto: Instagram @bgsadikin / @budigsadikin |
Secara panduan gizi, minuman yang diberi satu tetes stevia memiliki penilaian nutri-level B. Karena stevia merupakan pemanis alami, sehingga kalori dan indeks glikemiknya nol. Sedangkan minuman yang menggunakan pemanis buatan akan mendapat penilaian nutri-level C atau D.
"Jadi kalau kita pakai pemanis stevia saya kasih nilai B. Tapi kalau pakai pemanis buatan seperti ini saya kasih nilai C dan D," lanjutnya.
"ini nol kalori, sangat cocok buat kalian yang mau hidup sehat tapi mau hidupnya manis juga," pungkasnya.
Dalam keterangan unggahannya, pihak Kementrian Kesehatan juga menjelaskan jika untuk produk minuman dengan nutri-level A syarat mutlaknya adalah diracik tanpa pemanis tambahan sama sekali.
Meski penggunaan stevia tergolong aman untuk kesehatan, seseorang tetap perlu bijak mengonsumsinya dalam keseharian. Pastikan memeriksa daftar komposisi di dalam produk tersebut.
Hindari produk stevia yang mencampur bahan, seperti maltodekstrin, dektrosa, sukrosa, atau sirup glukosa. Pastikan juga kandungan utamanya adalah ekstrak daun setavia murni atau steviol glikosida.
Utamakan juga produk yang sudah terdaftar di BPOM RI untuk memastikan keamanan konsumsi dan bebas dari bahan berbahaya.
Nutri level dari stevia pun di B, sedangkan minuman dengan pemanis buatan nutri levelnya mencapai C-D. Foto: Instagram @bgsadikin / @budigsadikin |
Pasalnya, baru-baru ini sedang viral kasus di mana Doktif mengklaim hasil pengujian laboratorium independen terhadap merek stevia populer di Indonesia, Beeru Stevia.
Hasil uji laboratorium menunjukkan bahwa terdapat ketidaksesuaian antara kandungan Beeru Stevia dengan informasi pada kemasan. Dalam kemasan mereka mengklaim 'zero kalori' atau kalori nol, tetapi ternyata hasil uji menunjukkan produk tersebut diduga mengandung 188,84 kkal per 100 gramnya.
Atas hal ini, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) juga bersuara. Dikutip dari detikHealth (29/10), pihaknya mengatakan, "Saat ini, BPOM masih melakukan penelusuran untuk pengambilan sampel dan pengujian. Informasinya akan disampaikan setelah hasil uji tersedia."





























































Zalina Hashim Terkini Penerangan Baru Zalina Hashim Menunjukkan Mendatang Dimiliki
Refleksi Praktik Pembelajaran Diri Azra Content Shah Alam Jawapan Kenyataan