Ilmuwan mendeskripsikan tiga spesies jangkrik baru tanpa sayap dari Pulau Borneo. Ketiganya ditemukan di wilayah Sabah dan Sarawak, Malaysia, dengan ciri anatomi yang unik. Menariknya, salah satu spesies dikenali dari spesimen yang telah dikumpulkan hampir 30 tahun lalu.
Ketiga spesies tersebut bernama Paradiestrammena cordata, Paradiestrammena aquilina, dan Paradiestrammena sabahensis. Semuanya termasuk keluarga Rhaphidophoridae, kelompok serangga yang dikenal sebagai jangkrik gua atau jangkrik unta.
Dilansir Scienmag, Kamis (29/10/2026), penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah ZooKeys ini memanfaatkan koleksi museum di Singapura serta spesimen yang dikumpulkan dari kawasan hutan Sabah pada 2022-2026.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski dikenal sebagai jangkrik gua, kelompok serangga ini tidak selalu hidup di dalam gua. Beberapa spesimen ditemukan di lantai hutan, bawah kayu mati, hingga pangkal batang pohon.
Spesies pertama, Paradiestrammena cordata, dikenali dari spesimen jantan yang dikumpulkan di dekat Bau, Sarawak, pada Februari 1997.
Jangkrik ini memiliki tubuh berwarna cokelat kekuningan dengan panjang sekitar 8,65 milimeter.
Nama cordata berasal dari bentuk struktur keras pada organ reproduksi jantan yang menyerupai hati. Ciri anatomi tersebut membantu ilmuwan membedakannya dari spesies kerabatnya.
Spesies kedua, Paradiestrammena aquilina, ditemukan di Rainforest Discovery Centre, Sepilok, dekat Sandakan, Sabah, pada Mei 2022.
Spesimen utamanya ditemukan di tanah bawah kayu mati. Peneliti kemudian mengumpulkan spesimen tambahan di Segaliud Lokan Forest Reserve pada Juli 2026.
Jangkrik ini diketahui menghuni kawasan hutan dengan tanah liat, termasuk lereng yang terlindung naungan pepohonan.
Nama aquilina merujuk pada struktur organ reproduksi jantan yang menyerupai elang sedang membentangkan sayap. Panjang tubuh jantannya berkisar 8,10-8,85 milimeter.
Spesies ketiga, Paradiestrammena sabahensis, menjadi yang terbesar di antara ketiganya.
Panjang tubuh jantannya mencapai 11,8 milimeter, sedangkan betinanya sekitar 10,8 milimeter.
Spesimen jantan ditemukan pada pangkal batang pohon di kawasan Maliau Basin, Sabah, pada November 2024.
Dengan tambahan tiga spesies tersebut, jumlah anggota genus Paradiestrammena yang tercatat dalam kajian ini mencapai 16 spesies.
Penelitian ini memperlihatkan bahwa hutan Borneo masih menyimpan keanekaragaman serangga yang belum sepenuhnya terdokumentasi. Koleksi spesimen lama juga tetap berperan penting dalam mengidentifikasi spesies yang sebelumnya belum dikenali secara ilmiah.
















































