Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram mencatat ada 18 pekerja migran Indonesia (PMI) asal Kota Mataram dipulangkan karena nekat berangkat melalui jalur nonprosedural alias ilegal.
"Ada 18, termasuk dengan yang terakhir kemarin. Pemulangan melalui bandara ataupun pelabuhan tetap kami lakukan. Kami tetap melakukan penjemputan dan mengantar langsung ke rumah masing-masing," kata Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Mataram, Putra Ekantara saat diwawancarai, Jumat (30/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Putra menuturkan sebagian besar dari PMI yang dipulangkan mengalami kendala masalah hukum atau tak sesuai prosedur keberangkatan saat berada di bandara.
"Sebagian lainnya dipulangkan langsung dari negara penempatan. Seperti Malaysia, Arab Saudi, Singapura dan beberapa negara lainnya. Akibat terkendala masalah hukum atau tidak sesuai dengan prosedur," ungkapnya.
Dari catatan Disnaker, kasus terakhir yang ditangani Disnaker Mataram ialah memulangkan PMI asal Kota Mataram atas nama Muhammad Yanuar Fikri. Yanuar minta dipulangkan karena bermasalah saat tengah bekerja di Myanmar.
"Kami sudah fasilitas pemulangan Yanuar dari Jakarta ke Lombok. Lalu kami serahkan langsung ke keluarganya, Rabu lalu. Meski sudah dipulangkan, hak-hak sebagai PMI tidak bisa kami perjuangkan, karena (dia berangkat) secara ilegal," terangnya.
Sementara itu, selain kasus pemulangan PMI karena nonprosedural, Disnaker Kota Mataram mencatat ada dua PMI yang terkena pencegahan sebelum sampai di negara tujuan. Lalu ada satu PMI yang dipulangkan karena meninggal dunia.
"Kami mengimbau agar masyarakat selalu menggunakan jalur resmi serta memilih perusahaan penempatan yang terdaftar secara legal demi keamanan dan perlindungan selama bekerja di luar negeri. Ketika ada masalah, mereka cepat tertangani," tandasnya.
Di sisi lain, berdasarkan data Disnaker Mataram, Malaysia masih menjadi negara tujuan utama PMI asal Mataram, sebesar 482 orang atau sekitar 63 persen dari total 760 PMI hingga September 2026.
"Setelah Malaysia, Arab Saudi menjadi negara tujuan berikutnya dengan 65 PMI. Disusul Taiwan 56 orang, Singapura 45 orang, dan Jepang 22 orang," kata Kepala Bidang Pelatihan, Penempatan Tenaga Kerja dan Transmigrasi Disnaker Kota Mataram, Martha Yuli, saat dikonfirmasi, Jumat.
Jumlah PMI asal Kota Mataram yang berangkat tahun ini masih didominasi laki-laki, yakni sekitar 571 orang atau sekitar 75 persen. Sementara PMI perempuannya mencapai 189 orang, atau sekitar 24 persen.
Dari sektor pekerjaan, sektor perkebunan menjadi jenis pekerjaan yang paling banyak diminati PMI asal Mataram. Dengan rincian, sektor perkebunan sebanyak 402 orang, pekerja rumah tangga 45 orang dan 43 PMI bekerja menjadi pengasuh bayi dan lansia.
"Sebagian besar PMI masih terserap pada pekerjaan operasional. Sementara peluang pada bidang yang membutuhkan keahlian khusus perlu terus diperluas," tandasnya.

















































