Kanal air di Busan Korea Selatan ini tiba-tiba ramai dikunjungi orang. Bukan karena ada atraksi manusia tapi gegara kehadiran seekor ikan hiu berukuran cukup besar sepanjang 3,5 meter!
Hiu yang kini dijuluki masyarakat setempat Bukangi itu sudah 17 hari terjebak di kanal. Petugas berwenang sudah beberapa kali mencoba mengembalikan hiu itu ke lautan lepas, namun upaya mereka sampai saat ini belum membuahkan hasil.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengutip Reuters, Senin (5/10/2026), tim penyelamat sudah mencoba menggiring hiu itu menggunakan jaring. Namun, operasi yang berlangsung selama sekitar dua jam pada Jumat (2/10/2026) terpaksa dihentikan karena khawatir jaring berukuran besar tersangkut di bebatuan.
Kini, pihak berwenang berharap hiu tersebut dapat menemukan jalan keluar sendiri menuju laut lepas.
Jaring tetap dipasang di kanal untuk membatasi ruang gerak hiu agar tidak kembali berenang ke arah hulu. Dengan begitu, hiu tersebut hanya memiliki area sekitar 100 meter yang mengarah ke laut.
"Seiring perubahan ketinggian air dan pergeseran arus, kami berharap hiu itu pada akhirnya bisa menemukan jalan keluar sendiri," kata Kim Hyun-woo, peneliti senior di Institut Nasional Ilmu Perikanan yang memimpin operasi tersebut.
"Begitu kami memastikan hiu itu telah sepenuhnya meninggalkan kanal dan menuju laut lepas, kami dapat menganggap operasi ini berhasil," ujarnya.
Dua Kali Upaya Evakuasi
Hiu tersebut pertama kali terlihat di saluran air sempit di kawasan North Port, Busan, pada 18 September 2026. Kemunculannya langsung menarik perhatian warga. Diperkirakan sekitar 600.000 orang datang ke lokasi untuk melihat hiu tersebut.
Pada upaya pertama, pihak berwenang menggunakan kapal yang dilengkapi penyemprot air bertekanan tinggi (water jet) untuk menggiring hiu menuju laut. Namun, bukannya bergerak ke arah laut, hiu justru berenang menjauhi semprotan air dan tetap berada di dalam kanal.
Upaya kedua dilakukan pada Jumat dengan menggunakan jaring sepanjang 50 meter dan tinggi 6,8 meter.
Sebuah kapal menarik bagian tengah jaring, sementara lima orang di masing-masing sisi bergerak menyusuri tepi kanal. Mereka berusaha menjaga kecepatan agar jaring dapat menggiring hiu perlahan menuju laut.
Namun, upaya tersebut kembali tidak membuahkan hasil. Hiu tetap berada di dalam kanal.
Menurut Kim, kondisi kanal yang penuh dengan berbagai rangsangan dari lingkungan sekitar kemungkinan membuat hiu kesulitan menemukan jalan keluar.
"Kebisingan, cahaya, dan sinyal listrik mungkin menyulitkan hiu untuk menemukan jalan keluar. Bagi hiu tersebut, ada terlalu banyak rangsangan fisik eksternal yang datang dari berbagai arah," katanya.
Para ahli memperkirakan hiu tersebut merupakan jenis bronze whaler, spesies yang umumnya hidup di perairan beriklim hangat dan sebelumnya juga pernah ditemukan di perairan sekitar Korea Selatan.
Keberadaan hiu di kanal tersebut menjadi perhatian karena lokasinya yang tidak biasa. North Port berada di kawasan perkotaan Busan, dekat gedung-gedung tinggi dan stasiun kereta cepat utama.
Pada Jumat kemarin, ratusan warga kembali berkumpul di sepanjang kanal untuk menyaksikan upaya penyelamatan Bukangi.
Sebagian warga mengaku akan merasa sedih jika hiu tersebut akhirnya meninggalkan Busan. Namun, ada pula yang berharap hewan itu segera kembali ke laut dan habitat alaminya.
"Saya sangat berharap hiu itu akhirnya kembali ke laut lepas. Tapi sepertinya ia juga menyukai Busan, karena ia masih berada di sini," kata warga Busan, Jo Won-ho.
Kemunculan Bukangi juga memicu perhatian terhadap perubahan kondisi perairan di sekitar Korea Selatan. Para ahli menyebut peningkatan suhu laut sebagai salah satu faktor yang mungkin menyebabkan semakin seringnya penampakan hiu berukuran besar.
Analisis Institut Nasional Ilmu Perikanan mencatat terdapat 46 penampakan hiu besar di sepanjang pantai timur Korea Selatan selama paruh pertama tahun ini. Angka tersebut meningkat signifikan dibandingkan 12 penampakan pada periode yang sama tahun lalu.


























































