Paus raksasa sepanjang 25 meter yang terdampar di Pulau Kolong, depan Pulau Kelelawar, kawasan 17 Pulau Riung, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), berhasil diselamatkan. Paus tersebut ditarik ke perairan lebih dalam menggunakan 10 perahu nelayan pada Jumat (30/10/2026) sore.
Kapolsek Riung, Ipda Martinus Riang, mengatakan evakuasi dilakukan setelah air laut mulai pasang. Saat berhasil diarahkan ke laut dalam, kondisi paus masih hidup dan tidak ditemukan luka pada tubuhnya.
"Sudah dievakuasi tadi sore. Ditarik menggunakan 10 perahu," kata Martinus saat dikonfirmasi Jumat malam, dikutip dari detikBali, Minggu (1/11).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Paus hidup, sudah kembali ke laut dalam," dia menambahkan.
Paus tersebut pertama kali ditemukan warga sekitar pukul 05.30 Wita. Karena berada di perairan dangkal dan air sedang surut, proses evakuasi tidak dapat langsung dilakukan.
Kepala BBKSDA NTT Adhi Nurul Hadi mengatakan paus berada di kedalaman sekitar 2-3 meter, tepatnya di wilayah pesisir dalam blok perlindungan bahari kawasan Taman Wisata Alam Laut (TWAL) 17 Pulau Riung.
"Paus yang terdampar ditemukan pada perairan dangkal, kedalaman sekitar 2-3 meter, areal pesisir dalam blok perlindungan bahari kawasan TWAL 17 Pulau," kata Adhi dalam keterangannya, Jumat malam.
Lokasi tersebut merupakan kawasan yang dikelola Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) NTT. Selama menunggu air pasang, petugas bersama berbagai unsur terus menjaga kondisi mamalia laut tersebut.
Tim yang terlibat antara lain petugas BKSDA NTT di Resor KSDA wilayah Riung, anggota Polri dan TNI, dokter hewan dari Dinas Peternakan Kabupaten Ngada, pemerintah desa, serta warga.
Tubuh paus secara berkala disiram menggunakan air laut. Petugas juga menjaga agar lubang pernapasan atau blowhole tidak kemasukan air maupun tertutup pasir.
"Upaya penyelamatan terhadap paus dilakukan dengan menjaga stabilitas kondisi tubuh melalui penyiraman tubuh paus dengan air laut dan menjaga lubang napas (blowhole) paus tidak terendam air atau tertutup pasir," kata Adhi.
"Upaya ini tetap mempertimbangkan keselamatan petugas dan masyarakat yang terlibat," dia menambahkan.
Setelah sekitar 12 jam berada dalam kondisi terdampar, paus akhirnya dapat ditarik menuju laut lepas sekitar pukul 17.30 Wita ketika air kembali pasang.
Dari hasil identifikasi BBKSDA NTT, paus yang terdampar tersebut merupakan paus biru (Balaenoptera musculus). Pengukuran menunjukkan panjang tubuh paus mencapai 2.050 cm. Lebar kepalanya 325 cm, sedangkan lebar badan bagian tengah atau lingkar perut mencapai 430 cm.
Panjang ekornya tercatat 407 cm dengan lebar 475 cm. Sementara itu, panjang sirip mencapai 235 cm, panjang kepala 455 cm, dan lebar tubuh bagian ekor 422 cm.
Adhi mengatakan petugas juga mengamati aktivitas semburan paus selama proses penyelamatan. Semburan tercatat muncul sekitar setiap 1,7 menit.
"Aktivitas semburan setiap limit waktu 1,7 menit sekali sembur," kata Adhi.
Setelah berhasil mencapai laut lepas, tim gabungan belum langsung meninggalkan lokasi. Mereka terlebih dahulu memantau perilaku paus dan memastikan mamalia tersebut bergerak menjauh menuju laut.
"Sebelum kembali ke darat tim gabungan melakukan monitoring perilaku dan memastikan arah paus berlanjut menuju laut lepas," ujar Adhi.
Adhi menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam proses penyelamatan paus tersebut.
"Kami berterima kasih semua pihak yang bahu-membahu menyelamatkan paus ini sehingga paus tersebut dapat kembali ke habitatnya dengan selamat," kata dia.
Sebelum berhasil dievakuasi menggunakan 10 perahu, polisi dan warga sempat mencoba mendorong paus tersebut agar kembali ke perairan yang lebih dalam.
Upaya itu terkendala ukuran tubuh paus yang sangat besar dan kondisi air laut yang masih surut. Sembari menunggu air pasang, warga dan petugas terus menyiram tubuh paus dengan air laut untuk menjaga kondisinya.
Kepala Balai Pengelolaan Kelautan Kupang, Imam Fauzi, mengatakan paus tersebut termasuk kelompok mysticeti atau baleen (balin).
Paus dalam kelompok ini tidak memiliki gigi. Sebagai gantinya, terdapat serabut keratin menyerupai sikat pada rahang bagian atas yang berfungsi menyaring makanan.
"Mysticeti atau baleen yaitu paus tidak bergigi, tetapi memiliki serabut keratin seperti sikat pada rahang atas untuk menyaring makanan berupa udang kril, plankton, dan ikan kecil," kata Fauzi, Jumat.


























































