Saat berwisata ke Kampung Sukagalih, Desa Cipeuteuy, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, wisatawan tak hanya diajak menikmati suasana kawasan penyangga Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS). Ada owa jawa (Hylobates moloch) yang menjadi salah satu daya tarik sekaligus bagian dari edukasi konservasi di kawasan tersebut.
Primata endemik Pulau Jawa itu berstatus Terancam Punah (Endangered) dalam Daftar Merah International Union for Conservation of Nature (IUCN). Karena itu, keberadaannya tak bisa dilepaskan dari upaya menjaga hutan yang menjadi habitatnya.
Di Sukagalih, owa jawa mulai dikenalkan sebagai bagian dari pengembangan ekowisata berbasis masyarakat. Wisatawan bisa menjelajahi jalur trekking sambil mengenal flora dan fauna yang hidup di kawasan tersebut melalui papan interpretasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengembangan ekowisata dilakukan warga, terutama kelompok perempuan dan generasi muda. Jalur trekking ditata, fasilitas wisata dibenahi, dan produk lokal dikembangkan agar kegiatan wisata juga memberi manfaat bagi masyarakat. Upaya tersebut mendapat dukungan dari Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (Kehati).
Salah satu yang dilakukan Komunitas Sawala Leuweung adalah memetakan jalur trekking dan menyiapkan enam titik untuk papan interpretasi. Informasinya akan memperkenalkan kekayaan alam di sekitar jalur, termasuk owa jawa dan habitatnya.
Sementara itu, warga membenahi fasilitas dasar di area berkemah dan mengembangkan produk olahan lokal. Kelompok perempuan membuat manisan terong panjang dan dodol waluh, sedangkan generasi muda mengembangkan ruang diskusi lingkungan dan podcast Nyawala.
Manajer Program Kehutanan Yayasan Kehati, Christian Natalie, mengatakan warga harus menjadi bagian penting dalam pengembangan wisata karena merekalah yang paling memahami kawasan tersebut.
"Yang ingin dibangun bukan sekadar tempat untuk dikunjungi, melainkan kegiatan wisata yang memberi manfaat bagi masyarakat dan tetap menjaga alam. Berbasis konservasi, bukan eksploitasi. Peran anak muda dan kelompok perempuan sangat penting agar mereka ikut menentukan serta mengembangkan potensi tersebut," ujar Christian, beberapa waktu lalu, dikutip dari situs resmi Kehati, Minggu (1/11/2026).
Upaya mengenalkan owa jawa kepada wisatawan juga berjalan bersama kegiatan konservasi di Kecamatan Kabandungan. Pemetaan sebaran dan pendugaan populasi dilakukan untuk mengetahui keberadaan primata tersebut, disertai edukasi tentang pentingnya menjaga habitatnya.
Dari pemetaan awal, ditemukan sedikitnya 39 kelompok owa jawa di delapan titik pengamatan. Data tersebut masih dalam tahap analisis lebih lanjut.
Keberadaan owa jawa tentu sangat bergantung pada kondisi hutan. Habitat yang terjaga menjadi kunci agar primata endemik ini tetap bisa bertahan.
"Informasi pemetaan Owa Jawa bisa memperkaya edukasi ekowisata. Pengunjung dapat mengenal satwa endemik yang hidup di sekitar mereka dan memahami pentingnya menjaga habitatnya. Dengan begitu, wisata menjadi sarana menumbuhkan kepedulian terhadap keanekaragaman hayati," kata Christian.


























































