Jual rumah dan mobil demi tinggal di kapal pesiar, pasangan asal Amerika Serikat (AS) itu justru harus angkat kaki dari rumah terapung mereka. Kabin seharga Rp 3,2 miliar yang dibeli untuk keliling dunia ditinggalkan setelah Villa Vie Odyssey berhenti beroperasi karena masalah keuangan.
Pasangan itu, Lynn dan Paul Montoya. Mereka di antara 200-an penumpang kapal pesiar Villa Vie Odyssey. Tidak hanya membayar biaya paket liburan dalam kapal pesiar itu, mereka juga membayar iuran bulanan sekitar USD 6.000 (Rp 109 juta) pelayaran keliling dunia tersebut.
Melansir Reuters, Minggu (1/11/2026) rencana itu terhenti setelah mereka menghabiskan 17 bulan di kapal. Pekan ini, pengelola Villa Vie Residences mengumumkan penangguhan operasional dan meminta sekitar 200 penumpang turun di sebuah pelabuhan di Kamboja.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para penumpang diminta mengosongkan kabin serta membawa barang-barang dan hewan peliharaan mereka. Mereka harus meninggalkan kapal yang selama ini menjadi tempat tinggal.
"Kami sebenarnya tidak pernah bepergian ke luar Amerika Serikat sebelum naik ke kapal ini. Kami menganggap ini sebagai kesempatan emas untuk melihat dunia," ujar Paul.
Penghentian operasional itu membuat para penumpang khawatir kehilangan uang yang telah mereka keluarkan. Paul menduga perusahaan sudah tidak memiliki cukup dana untuk membeli bahan bakar dan membayar gaji awak kapal.
"Mereka kehabisan uang, itulah alasan mengapa mereka tidak bisa membeli BBM. Mereka bahkan kesulitan membayar gaji kru di kapal, jadi kami benar-benar tidak berharap uang kami kembali," dia menambahkan.
Dalam pernyataan pada Selasa (27/10), manajemen Villa Vie Residences menyebut sedang berupaya melakukan restrukturisasi modal dan mencari pendanaan baru. Namun, perusahaan tidak menjamin upaya tersebut akan berhasil.
Menurut Paul, masalah keuangan perusahaan mulai terlihat ketika konflik dengan Iran memicu kenaikan harga bahan bakar. Pengelola bahkan sempat meminta penumpang meminjamkan uang untuk membeli BBM.
Situasi semakin sulit saat kapal tiba di Kamboja. Akses internet di kapal terputus, sementara kualitas makanan disebut terus menurun selama tiga bulan terakhir.
Meski kehilangan banyak uang, Lynn dan Paul berencana melanjutkan perjalanan ke Malaysia dengan sisa anggaran bulanan mereka. Lynn mengaku lebih sedih kehilangan kebersamaan dan komunitas yang terbentuk di kapal daripada uang yang telah dikeluarkan.


























































