Pariwisata Indonesia kembali mengukir prestasi manis di panggung dunia. Dalam ajang Global Muslim Travel Index (GMTI) Awards 2026, Indonesia sukses menyabet predikat sebagai peringkat kedua Muslim-Friendly Destination of The Year.
Capaian ini menjadi lonjakan besar bagi industri pariwisata nasional. Pasalnya, posisi Indonesia melesat tiga peringkat sekaligus dari tahun sebelumnya yang sempat tertahan di urutan kelima pada GMTI 2025.
Mewakili Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana, Sekretaris Kementerian Pariwisata Bayu Aji menerima langsung penghargaan prestisius tersebut di Balestier Ballroom, Aloft Singapore Novena, Singapura.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Atas nama Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, saya menyampaikan apresiasi kepada CrescentRating dan Mastercard atas penyelenggaraan GMTI 2026. Indonesia berhasil meraih peringkat kedua sebagai Muslim-Friendly Destination of The Year, meningkat dari posisi kelima pada tahun lalu," ujar Bayu Aji dalam sambutannya, dikutip dari laman Kemenpar, Senin (2/11/2026).
Peningkatan performa Indonesia di indeks GMTI 2026 tidak main-main. Indonesia mengantongi total skor 79, angka tertinggi yang pernah diraih sepanjang sejarah keikutsertaan Tanah Air dalam ajang penilaian pariwisata ramah muslim global tersebut.
Penilaian GMTI sendiri didasarkan pada kerangka komprehensif bertajuk ACES (Access, Communication, Environment, and Services) yang mencakup 17 indikator mendalam:
Access (Aksesibilitas)
Menilai tingkat konektivitas penerbangan, kemudahan regulasi visa, serta keandalan infrastruktur transportasi nasional.
Communication (Komunikasi)
Mengukur kecakapan bahasa lokal, penguatan promosi destinasi, hingga kesadaran pemangku kepentingan terhadap standar pariwisata ramah muslim.
Environment (Lingkungan)
Meninjau utilitas dasar, tingkat kebersihan dan keamanan destinasi, hingga komitmen terhadap pariwisata berkelanjutan.
Services (Layanan)
Berfokus pada kemudahan akses tempat ibadah, melimpahnya pilihan kuliner bersertifikat halal, fasilitas Muslim-friendly di bandara dan akomodasi, serta pengemasan atraksi warisan sejarah Islam.
Buah Manis Masifnya Sertifikasi Halal dan IMTI
Bayu Aji menegaskan bahwa lompatan peringkat ini merupakan hasil nyata dari konsistensi pemerintah dan pelaku usaha dalam membangun ekosistem wisata yang inklusif dan berdaya saing tinggi.
Beberapa langkah strategis Kementerian Pariwisata yang menjadi pendukung utama keberhasilan ini di antaranya:
1. Percepatan Sertifikasi Halal
Mendorong secara masif sertifikasi halal bagi UMKM dan pelaku kuliner di kawasan desa wisata.
2. Pengembangan Destinasi IMTI
Memperkuat 15 destinasi pariwisata ramah muslim unggulan lewat skema Indonesia Muslim Travel Index (IMTI) berkolaborasi dengan Bank Indonesia.
3. Standarisasi Layanan
Menyusun petunjuk teknis (juknis) serta pedoman resmi layanan dasar pariwisata ramah muslim bagi pengelola destinasi.
4. Promosi Global
Mengintensifkan kampanye pemasaran digital melalui platform Indonesia.travel.
Membidik Puncak Juara di Tahun Mendatang
Keberhasilan merangsek ke posisi dua besar dunia kian menebalkan optimisme Kemenpar untuk merebut kembali takhta puncak destinasi pariwisata ramah muslim nomor satu dunia pada GMTI mendatang.
"Kami optimistis dapat kembali meraih posisi sebagai Muslim-Friendly Destination of The Year pada tahun depan," tegas Bayu Aji.
Capaian ini diharapkan mampu memperkuat kolaborasi lintas sektor untuk menghadirkan pengalaman berlibur yang aman, nyaman, dan berkualitas bagi wisatawan muslim mancanegara sekaligus mendongkrak pergerakan ekonomi nasional.




































































