Air mani merupakan cairan kental berwarna putih yang keluar dari kelamin karena adanya dorongan syahwat tinggi. Keluarnya air mani ini membuat seseorang lemas.
Diterangkan dalam buku Fiqih Praktis Sehari-hari yang ditulis Farid Nu'man Hasan, muslim harus melaksanakan mandi wajib atau junub setelah mengeluarkan air mani sebelum mengerjakan ibadah. Air mani berbeda dengan madzi.
Menurut buku Shalatul Mu'min susunan Sa'id bin 'Ali bin Wahf Al-Qahtani terjemahan Abu Khadijah, madzi warnanya putih tipis dan keluar saat berahi bergejolak tetapi tidak disertai kenikmatan. Warna madzi transparan atau putih tipis bergetah. Berbeda dengan mani yang berwarna putih kental.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lantas, apakah air mani termasuk najis dalam Islam?
Air Mani Najis atau Bukan?
Ulama berbeda pendapat terkait najis atau tidaknya air mani. Dinukil dari buku Ensiklopedia Fikih Indonesia 2: Taharah karya Ahmad Sarwat dan buku Tasirul-Allam Syarh Umdatul-Ahkam oleh Abdullah bin Abdurrahman Alu Bassam terjemahan Kathur Suhardi, berikut penjelasannya.
1. Najis
Mazhab Hanafi dan Maliki menyatakan air mani hukumnya najis. Dalilnya merujuk pada hadits shahih dari Aisyah RA yang menceritakan pernah mencuci bekas sisa air mani Nabi SAW yang sudah mengering di pakaian beliau.
"Aku mencuci bekas air mani pada pakaian Rasulullah SAW, lalu beliau keluar untuk salat meskipun masih ada bekas pada bajunya." (HR Bukhari dan Muslim)
Selain itu, ada atsar dari Abu Hurairah RA yang menyatakan:
"Kalau kamu melihat air mani, cucilah bagian yang terkena saja, tetapi kalau tidak terlihat, cucilah baju itu seluruhnya."
Kemudian, Al Hasan bin Ali bin Abi Thalib RA juga berpendapat air mani termasuk najis. Menurutnya, air mani sederajat dengan air kencing.
Adapun, mazhab Malikiyah berpendapat air mani najis karena asal-muasalnya dari darah yang juga najis. Darah itu mengalami istihalah (perubahan wujud) sehingga menjadi mani, tetapi hukumnya tetap ikut asalnya yaitu najis.
2. Bukan Najis
Mazhab yang berpendapat air mani bukan najis adalah ulama Syafi'i, Hambali, para ahli hadits, Ibnu Hazm dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah serta lain-lainnya dari kalangan muhaqqiq. Mazhab Syafi'i menilai benda yang keluar dari kemaluan depan atau belakang termasuk najis, tetapi air mani dan turunannya dikecualikan dalam hal ini.
Pendapat itu merujuk pada hadits Rasulullah SAW dari Ibnu Abbas RA:
"Rasulullah SAW ditanya soal hukum air mani yang terkena pakaian, beliau menjawab, 'Air mani itu hukumnya seperti dahak atau lendir, cukup bagi kamu untuk mengelapnya dengan kain'." (HR Al Baihaqi)
Selain itu, ada juga dalil lainnya dari hadits berikut:
"Dari Aisyah RA bahwa beliau mengerik bekas air mani Rasulullah SAW yang telah kering dan beliau SAW salat dengan mengenakan baju itu." (HR Bukhari dan Muslim)
Yang dikatakan Aisyah RA bukan mencuci baju, tetapi mengerik bekas air mani yang telah kering. Jika hanya mengerik, maka air mani itu tidak hilang sepenuhnya. Jika sampai Rasulullah SAW salat mengenakan baju yang masih ada bekas mani, maka itu menunjukkan air mani bukan najis.
Menurut mereka, hadits-hadits terkait mencuci mani tidak menunjukkan kenajisannya, sebagaimana mencuci dan membersihkan ingus tidak menunjukkan kenajisannya. Sementara itu, membersihkan najis dan kotoran diperintahkan menurut syariat, jika mani najis maka sudah ditetapkan cara menyucikannya oleh Rasulullah SAW.
Wallahu a'lam.




































































