Spekulasi dan teori tentang piramida di Mesir dan wilayah lain masih bermunculan. "Tidak peduli seberapa sering Anda melihatnya, bangunan-bangunan itu sungguh luar biasa," cetus Dr Campbell Price, kurator Mesir di Museum Manchester.
"Kita tahu lebih banyak daripada yang dipikirkan banyak orang," ujar pakar Mesir Kuno, Mark Lehner yang melakukan ekskavasi di Giza sejak akhir 1980-an. Namun, tetap ada banyak pertanyaan soal piramida. Berikut enam misteri terbesar piramida yang belum terpecahkan, dikutip detikINET dari BBC.
Apa Itu Great Void?
Di 2017, peneliti proyek ScanPyramids menemukan rongga dalam Piramida Agung Khufu di Giza. Ada rongga besar di atas Galeri Besar sepanjang setidaknya 30 meter. "Untuk apa rongga tersebut belum diketahui," ungkap Lehner.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mungkin rongga itu berfungsi secara struktural, membantu mendistribusikan beban. Kemungkinan lainnya adalah, itu merupakan ruang arsitektural yang terhubung dengan konstruksi piramida.
"Saya pikir penjelasan paling mungkin adalah, ini celah konstruksi di mana mereka sengaja membuat ruang di atas ruangan dan lorong-lorong," tutur Lehner.
Saat ini tidak ada bukti rongga tersebut berisi artefak, pemakaman, atau lainnya. Misteri berlanjut terutama karena arkeolog enggan mengebor lubang ke salah satu monumen terpenting dunia.
Piramida Tersembunyi di Amazon
Kemajuan teknologi Lidar menyingkap jaringan permukiman, jalan, benteng, dan panggung upacara di beberapa bagian Lembah Amazon dan tempat lain di Amerika Selatan. Gambaran yang kini muncul adalah ada masyarakat dan lanskap lebih rumit, dengan populasi jauh lebih padat dari perkiraan.
Di tahun 2022, peneliti menemukan piramida-piramida tersembunyi, beberapa di antaranya setinggi 22 meter di area hutan sangat lebat di Bolivia dan Ekuador. Penemuan-penemuan lainnya mencakup reruntuhan kuil di Peru.
Bukan hanya piramida menanti untuk ditemukan. "Menurut saya, kita sudah cukup banyak mengetahui hampir semua piramida di area bangsa Maya serta di Meksiko Mesoamerika," ujar Prof. Takeshi Inomata, arkeolog University of Arizona.
Di 2020, Inomata menemukan Aguada Fenix menggunakan teknologi Lidar. Tempat ini diyakini sebagai situs upacara Maya tertua dan terbesar sepanjang hampir 1,4 km.
Jadi, salah satu misteri tersisa di Amerika Selatan adalah, apa lagi yang menanti di sana. Studi memperkirakan jumlah bangunan yang belum ditemukan bisa mencapai 23.000.
Bagaimana Orang Mesir Kuno Memindahkan Batu?
Ini adalah mbah-nya misteri piramida. Jika sebuah batu seberat 100 ton atau lebih, bukankah pasti melibatkan alien atau peradaban yang hilang untuk memindahkannya? Kemungkinan besar tidak. Faktanya, masyarakat kuno sering kali jauh lebih cakap dari yang kita kira.
Arkeolog mengumpulkan banyak sekali bukti mengenai teknik penambangan, tambang tali, tenaga kerja terorganisir, jalur air, dan tanjakan landai. Situs di mana Lehner bekerja sejak 1980-an dikenal sebagai 'Kota yang Hilang', kini diyakini tempat tinggal sekitar 20.000 pekerja pembangun piramida.
Bahkan ada papirus bertajuk Diary of Merer, yang ditemukan tahun 2013. Papirus tersebut merupakan buku catatan berusia 4.500 tahun tentang sekelompok pekerja yang mengangkut batu kapur melintasi serangkaian kanal pada masa Khufu.
Meski begitu, pertanyaan tetap ada. Tidak ada kesepakatan umum tentang sistem tanjakan yang digunakan di Giza. Proses memindahkan balok-balok terberat juga masih sulit direkonstruksi, tapi sebagian besar ahli Mesir Kuno meyakini ada peran jalan landai di sana. "Bagaimana persisnya mereka berinovasi, kami tidak yakin," cetus Lehner.
Cerobong Queen's Chamber di Giza
Dalam Piramida Agung, terdapat dua poros cerobong sempit yang membentang dari ruangan yang disebut Kamar Ratu, saluran mungil yang lebarnya hampir tidak cukup untuk dimasuki robot modern. Tujuannya tetap teka-teki.
Kebanyakan akademisi meragukan cerobong itu merupakan sistem ventilasi, terlepas dari sebutan populernya sebagai saluran udara. "Saya rasa orang Mesir kuno tidak peduli soal ketersediaan udara, ini bukan penilaian risiko keselamatan dan kesehatan," jelas Price.
Pakar lebih sering menafsirkan cerobong tersebut sebagai lorong simbolis terkait kepercayaan Mesir mengenai kehidupan setelah kematian dan perjalanan raja menuju bintang-bintang. Mungkin cerobong tersebut diarahkan menuju bintang atau konstelasi penting.
Piramida di Sudan
Sudan menyimpan lebih banyak struktur kuno ini dibandingkan Mesir. Sebagian besar di antaranya berasal dari Kerajaan Kush kuno, yang pernah berjaya di Nubia, selatan Mesir. Mulai sekitar abad kedelapan SM, penguasa Kushite mengadopsi dan mengadaptasi tradisi Mesir, termasuk pembangunan piramida.
Selama berabad-abad, mereka mendirikan ratusan piramida di kompleks permakaman kerajaan seperti Nuri dan Meroë. Tentu ini memunculkan pertanyaan, untuk apa membangun begitu banyak piramida? Sebagian dari jawabannya terletak pada soal waktu.
"Mereka membangun piramida ini lebih lama daripada bangsa Mesir kuno. Meroe itu ibarat peradaban saingan Kekaisaran Romawi, di dua abad terakhir SM, serta dua abad pertama Masehi. Itulah mengapa jumlah piramidanya lebih banyak," sebut Price.
Piramida-piramida tersebut juga lebih kecil dari monumen raksasa Giza, sehingga lebih mudah dibangun dalam jumlah banyak. Dipercaya piramida serupa dahulunya pernah umum ada di Mesir, namun tidak bertahan dari penjarah atau waktu. Piramida-piramida di Sudan sebagian aman dan bertahan karena letaknya lebih terisolasi.
(fyk/fay)















































