Sebuah kapal pesiar membuat penumpangnya terlantar. Janjinya adalah perjalanan keliling dunia, tapi kini penumpang luntang-lantung di Kamboja.
CEO Villa Vie Residences, Kathy Villalba, akhirnya menyampaikan permintaan maaf kepada para penghuni kapal pesiar Odyssey setelah perjalanan keliling dunia mereka dihentikan secara mendadak.
Dalam pesan yang dikirim melalui platform komunikasi internal Circle pada Jumat (30/10/2026), Villalba mengaku menyesal atas penderitaan, kehilangan, dan ketidakpastian yang dialami para penumpang. Namun, pesan tersebut justru dihapus beberapa jam setelah diunggah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam pesannya, Villalba mengaku masih berharap perusahaan dapat diselamatkan melalui masuknya investor baru. Ia menyebut proyek tersebut bukan sekadar bisnis, melainkan bagian besar dari hidupnya.
Ia bahkan mengibaratkan kapal Odyssey seperti anaknya sendiri, sementara para penghuni telah menjadi bagian dari keluarganya. Villalba juga berharap inisiatif para penghuni untuk mempertahankan kehidupan di atas kapal dapat berhasil, seperti dilaporkan oleh Business Insider.
Odyssey sebenarnya telah berlayar keliling dunia sejak meninggalkan Belfast, Irlandia Utara, pada Oktober 2024. Kapal milik Villa Vie Residences itu menawarkan pengalaman tinggal di laut secara permanen, dengan rencana mengunjungi lebih dari 425 pelabuhan di 147 destinasi selama tiga setengah tahun.
Namun, perjalanan tersebut terhenti ketika kapal bersandar di Pelabuhan Sihanoukville, Kamboja, pada 23 Oktober 2026. Setelah tiba dari Thailand, kapal seharusnya melanjutkan perjalanan ke Vietnam pada 28 Oktober.
Rencana itu mendadak berubah setelah Villa Vie mengumumkan penghentian operasional pada 27 Oktober. Para penghuni diberi waktu hanya sekitar tujuh jam untuk mengemasi barang dan turun dari kapal.
Saat itu terdapat 203 penumpang dan 156 awak kapal di atas Odyssey. Sebagian penumpang akhirnya meninggalkan Kamboja menggunakan pesawat, sementara lainnya terpaksa mencari tempat tinggal sementara di Kota Sihanoukville.
Penghentian perjalanan tersebut dipicu oleh lonjakan biaya bahan bakar yang membuat perusahaan kesulitan membiayai operasional kapal. Villa Vie menyebut pengeluaran bahan bakar yang sebelumnya rata-rata sekitar USD 1.800 (Rp 32,8 juta) per kabin setiap bulan dan meningkat menjadi sekitar USD 6.000-8.000 (Rp 145 juta) di sejumlah wilayah Asia.
Perusahaan telah mencoba menghemat bahan bakar dengan memperlambat perjalanan dan memperlama waktu bersandar di pelabuhan, tetapi langkah tersebut belum cukup mengatasi kenaikan biaya.
Dalam memo permintaan maafnya, Villalba juga mengungkapkan bahwa perhatian media telah menjadi sangat membebani. Ia mengaku mendapat saran dari penasihat hukum untuk tidak memberikan komentar lebih lanjut kepada publik.
Tiga penumpang kapal yang memiliki akses ke Circle mengonfirmasi kepada Business Insider bahwa pesan tersebut memang diunggah dan kemudian dihapus. Hingga kini, pihak Villa Vie belum memberikan kepastian mengenai masa depan Odyssey maupun kapan para penghuni dapat kembali melanjutkan kehidupan mereka di atas kapal.


























































