Ada bekas jalur kereta api (KA) dari Purwosari Solo hingga Giriwoyo Wonogiri yang bisa dijumpai saat air Waduk Gajah Mungkur (WGM) surut karena kemarau. Begini kisah ngototnya pemerintah kolonial Belanda saat merencanakan pembangunan jalur KA itu.
Ketua Tim Ahli Cagar Budaya Wonogiri, Dennys Pradita, mengatakan jalur KA itu menghubungkan Purwosari Solo ke Wonogiri Kota, kemudian Baturetno, lalu disambung lagi sampai ke Kakap, Giriwoyo, Wonogiri. Data itu dari laporan pemerintah kolonial dengan pihak Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM).
Menurut Dennys, ada beberapa alasan pemerintah kolonial Belanda ngotot membangun jalur KA tersebut meski menelan biaya yang fantastis. Di antaranya untuk membuka akses Pacitan setelah Perang Diponegoro tahun 1830-an.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pemerintah kolonial baru mendapatkan wilayah Pacitan setelah perang Diponegoro tahun 1830-an. Wilayah Pacitan itu dulunya terkepung dan tidak memiliki akses, sehingga bergantung pada Wonogiri. Akhir 1800-an, pemerintah kolonial ingin membuka (akses) Pacitan. Di sisi lain, Mangkunegaraan membuka perkebunan di daerah wonogiri terutama di Baturetno," ujar Dennys yang dosen Ilmu Sejarah Universitas Jambi itu saat dihubungi detikJateng, Kamis (16/10/2026).
Dennys menjelaskan, alasan lain dari Pembangunan jalur KA itu karena Wonogiri bagian selatan pada masa itu masih terisolir. Minimnya akses menuju ke kota membuat masyarakat Wonogiri selatan pada saat itu sempat mengalami krisis kelaparan.
"Wonogiri bagian selatan itu sempat mengalami masalah kelaparan, dan wilayahnya terisolir. Pemerintah Kolonial mendesak wilayah ini harus dibuka untuk mendapatkan akses, membuka daerah terisolir," ujar Dennys.
Dennys menjelaskan, pemerintah kolonial Belanda kemudian membuat kesepakatan dengan NISM untuk membuka akses pada akhir abad ke-19. Awalnya, pemerintah kolonial Belanda ingin dibukakan akses dari Solo sampai Pacitan, namun ditentang oleh NISM. Sebab, NISM berfokus pada investasi dan keuntungan.
"Muncul ide membangun jalur KA yang awalnya sampai Solo-Pacitan. Namun NISM cuma mau menyetujui sampai Wonogiri Kota saja, meski pemerintah kolonial tetap bersikukuh. Kedua belah pihak sama-sama memiliki kepentingan. Belanda ingin daerah Pacitan dibuka, sementara NISM sudah menghitung untung rugi kalau sampai Wonogiri Kota pasti untung dengan pertimbangan jumlah penduduk, jarak, topografis," jelasnya.
Akhirnya tercapai kesepakatan untuk pembangunan jalur KA sampai Giriwoyo. Pembangunan dilakukan bertahap. Tahap pertama yaitu Solo-Wonogiri Kota, kemudian dilanjutkan tahap kedua Wonogiri Kota-Baturetno.
"Ketika pembangunan sampai Baturetno itu, NISM mengeluh karena pengeluarannya sudah di luar dugaan, dan ingin membatalkan proyek sampai Kakap. Tapi melalui proses persidangan, pihak kolonial mau membatalkan sampai Kakap dengan konsekuensi NISM harus membayar biaya atau membangunkan jembatan sekian ratus golden," ujar Dennys.
Menurut Dennys, NISM yang tidak memiliki pilihan akhirnya menyetujui pembangunan jalur KA sampai Giriwoyo. Tapi dengan kesepakatan yang disesuaikan, yakni Solo-Batureno dibangun jalur KA Trem sehingga jalurnya lebih besar. Sementara Batureno-Giriwoyo merupakan jalur lori yang lebih kecil.
Jalur KA Solo-Baturetno akhirnya diresmikan pada tahun 1922. Dennys mengatakan, keberadaan jalur KA itu menjadi pusat ekonomi baru di Wonogiri. Sejumlah wilayah menjadi makmur seperti di Baturetno, Betal (Nguntoronadi), hingga Somoulun.
"Hasil perkebunan di wilayah Wonogiri selatan bisa langsung dijual ke Kota, di mana sebelumnya mereka sangat kesulitan. Akhir abad 19 dibuka besar-besar jalur darat baik KA maupun jalan. Baturetno dipilih karena waktu itu salah satu pusat pemerintahan Mangkunegaraan yang ada di sisi selatan," kata Dennys.
"Mangkunegaraan membuka perkebunan kopi, tebu, dan gamping untuk pemutihan gula. Jalur lori Kakap itu banyak digunakan mengangkut gamping dan hasil perkebunan," pungkasnya.

































































