Waduk Gajah Mungkur (WGM) Wonogiri mengering didera kemarau panjang. Kondisi ini menjadikan bagian dasar waduk kini kembali terlihat.
Beberapa yang telah muncul adalah kompleks permakaman yang berhias batu nisan kuno. Jembatan peninggalan era kolonial kini juga telah menampakkan diri.
Dasar Waduk Gajah Mungkur memang dulunya sebuah permukiman. Ada puluhan desa dari 7 kecamatan yang ditenggelamkan saat membangun waduk di tahun 1970-an itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagian penduduk menerima uang ganti rugi pada saat itu. Sedangkan sebagian lainnya mengikuti program transmigrasi bedhol desa.
Suparso (77), warga Kelurahan/kecamatan Wuryantoro, Kabupaten Wonogiri, menjadi saksi bagaimana warga di sekitar kampungnya melakukan transmigrasi ke sejumlah daerah di Sumatera. Mereka yang melakukan bedol desa, terkena dampak pembangunan Waduk Gajah Mungkin (WGM),
"Mulai berangkatnya (transmigrasi) tahun 1979 sampai 1982, bedol desa. Berangkatnya bertahap, tahun 1982 yang terakhir. Ke Bengkulu, Baturaja (Sumsel), Sitiung (Sumbar), Rimbo Bujang (Jambi)," kata Suparso (77), saat ditemui di rumahnya, Sabtu (10/10/2026).
WGM sendiri dibangun era Presiden Soeharto pada tahun 1976-1981. Pembangunan WGM itu menenggelamkan 51 desa di 7 Kecamatan di Kabupaten Wonogiri. Sisa-sisa kehidupan desa tersebut, nampak saat air WGM surut. Seperti munculnya sejumlah makam kuno di berbagai lokasi, seperti di wilayah Wuryantoro.
Di wilayah Wiryantoro, ada satu makam yang cukup terkenal yakni makam dusun Sentono. Lokasinya dulunya berada di Desa Ngungkingsari. Saat ini Desa Ngungkinsari sudah hilang, karena menjadi WGM.
"Ngungkingsari itu dukuhnya ada Sentono, Badran, Ngungkingsari, Sawahan, Kertan, Duwet, Klupuk, Kelowong, dan Tumpang. Mereka (transmigrasi) ke Sitiung. Yang ikut Desa Ngungkingsari ke Sitiung semua," ucapnya.
Dukuh di Ngungkingsari termasuk kampung besar. Dia mengatakan ada sekitar 150 KK per dukuhnya. Dia menceritakan dulunya, warga Desa Ngungkingsari kebanyakan petani. Namun secara kehidupan mereka dalam kategori cukup.
"Dulu tanahnya subur. Kalau seperti ini (musim kemarau) ditanami sayuran, tomat, kacangan, singkong. Kalau saat musim hujan, sawah (padi). Sayurnya dijual di Pasar Wuryantoro," jelasnya.
Suparso dulunya merupakan seorang dalang sekaligus guru bahasa jawa. Saat proyek WGM itu berjalan, dan banyak desa yang ditenggelamkan, diakuinya dia juga merasakan dampaknya.
"Tahun 1980 itu saya juga kehilangan wilayah pasaran, wayang. Pasaran saya di sekitar Desa Ngungkingsari, kalau ke timur sampai Nguntoronadi. Dulu sering ngisi acara seperti khitatan, hajatan, bersih desa, ruwahan," pungkasnya.
Lihat juga Video 'Rumah Gajah Mungkur yang Berusia Seabad Lebih di Gresik':
(apl/alg)
































































