Semarang, anak orang utan yang tinggal di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah, mulai belajar hidup mandiri. Memasuki usia empat tahun, ia perlahan dibiasakan lepas dari gendongan induknya, Suryati.
Suryati kini mulai memberikan lebih banyak kesempatan kepada Semarang untuk bergerak dan menjelajahi lingkungan sekitarnya. Salah satunya dengan membiarkan anaknya belajar memanjat pohon tanpa terus bergantung pada gendongan sang induk.
Momen tersebut terekam dalam video yang diabadikan aktivis lingkungan, Khoirul, di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam rekaman itu, Suryati terlihat seperti sedang membimbing Semarang memanjat pohon. Meski mulai berani bergerak sendiri, Semarang sesekali masih ingin kembali ke pelukan induknya.
"Di tengah suasana alam tersebut kami melihat Semarang terus menjalani proses belajar bersama induknya. Keinginannya untuk sesekali kembali ke gendongan Suryati menunjukkan bahwa proses menuju kemandirian membutuhkan waktu," ujar Khoirul, Rabu (4/11/2026), dikutip dari detikKalimantan.
Proses belajar itu berlangsung ketika kondisi hutan Tanjung Puting mulai kembali sejuk. Hujan yang mengguyur kawasan tersebut selama beberapa hari terakhir membuat lingkungan hutan lebih basah dan segar.
Namun, di balik momen Suryati dan Semarang, ada persoalan besar yang masih membayangi kehidupan orang utan di Tanjung Puting, yakni ancaman kebakaran hutan dan lahan.
Khoirul mengingatkan bahwa kebakaran yang pernah melanda kawasan taman nasional tersebut telah merusak sebagian habitat satwa liar. Padahal, hutan merupakan tempat orang utan mencari makan, berlindung, dan membesarkan anak-anaknya secara alami.
"Karhutla telah merusak sebagian habitatnya di TNTP. Ini pembelajaran besar buat seluruh pemangku kepentingan untuk selalu menjaga hutan di mana tempat berlindung banyak satwa. Semoga ke depan karhutla di TNTP tak terulang lagi," katanya.



























































