Ternyata, selama ini perilaku makan dipengaruhi oleh hormon-hormon di dalam tubuh manusia. Keinginan untuk makan kembali meskipun baru saja makan bukan hanya soal "keinginan sesaat", tapi dipengaruhi oleh berbagai hal.
Terdapat hormon-hormon yang mengatur rasa lapar dan kenyang di dalam tubuh manusia yang berfungsi untuk menjaga tubuh mendapat asupan dengan bijak sesuai keperluan.
Penyebab Perbedaan Hormon Tiap Manusia
Namun, hormon-hormon tersebut juga dipengaruhi oleh kondisi tubuh manusia itu sendiri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dokter spesialis kesehatan jiwa, dr Putri Nugraheni, SpKJ mengatakan, terdapat kondisi yang menyebabkan hormon-hormon di dalam tubuh menjadi berbeda fungsi dan kualitasnya. Menurutnya, orang yang kondisi kesehatan mentalnya terganggu cenderung lebih mudah merasakan lapar.
"Pada orang-orang dengan kondisi kesehatan mental yang minum obat-obatan psikiatri tertentu, hormon-hormon ini menjadi berbeda fungsinya, berbeda kualitasnya juga. Sehingga akan lebih sulit untuk kenyang dan lebih mudah untuk lapar," jelasnya ketika ditemui di Jakarta, Kamis (5/11/2026).
Selanjutnya, ia menyebut orang yang sedang mengalami kondisi kesehatan mental tertentu, misalnya stres, juga dapat mengalami perasaan mudah lapar dan sulit kenyang.
Saat Stres, Otak Mencari Kepuasan dengan Cara Makan
Kondisi kesehatan mental yang memengaruhi keinginan makan tersebut akhirnya menyebabkan orang cenderung mencari kepuasan melalui makan.
"Neurotransmitter atau zat-zat kimia di otak kita, terutama itu ada dopamin, opioid, dan karabioid, itu akan mencari-cari sensasi reward dengan cara makan. Itu disebutnya perilaku hedonic eating atau makan hedon," katanya.
Ia menjelaskan, orang dengan kondisi kesehatan mental yang terganggu mencari spike atau peningkatan dopamin melalui makan. Hal tersebut setelahnya memunculkan kepuasan atau perasaan "rewarded".
Perasaan "Rewarded" Setelah Makan Perlu Diantisipasi
Ia menegaskan, perasaan terpuaskan karena makanan sebaiknya dikurangi. Sebab, hal tersebut memunculkan efek yang tidak baik untuk tubuh.
"Padahal itu justru sebenarnya nggak baik juga untuk diri kita, kalau selalu merasa diri kita harus direward dengan makanan," ungkapnya.
Solusi untuk Mencegah Hedonic Eating
Menurut dr Putri, solusi yang paling ampuh digunakan untuk mencegah hedonic eating ialah mengubah hormon-hormon di dalam tubuh.
"Solusi yang lengkap adalah mencakup semua faktor tadi, mengubah homeostatik hormon-hormon yang terkait dengan lapar dan kenyang, mengubah neurotransmitter di otak, sehingga perilaku mencari makan yang rewarding itu berkurang," paparnya.
Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara mempertahankan kondisi internal tubuh seperti suhu, kadar gula darah, dan cairan dalam tubuh (proses homeostasis).
Ia juga menyarankan untuk mengintervensi perilaku makan hedon. Artinya, seseorang perlu menahan diri untuk tidak makan secara berlebihan saat sedang berada dalam kondisi mental terganggu.
Oleh karenanya, seseorang perlu mencari respons stres lain selain makan.
"Cari respon lain. Respon itu kan nggak hanya cuma bisa satu. Biasanya memang kalau stres kita makan, tapi yang lain kan juga bisa. Misalnya, minum banyak air, duduk di kursi malas sambil pakai AC kenceng-kenceng. Apapun boleh," jelasnya.
"Yang penting, kalau respon itu cuma satu, biasanya itu tidak akan adaptif. Apapun masalahnya, masa solusinya itu saja? Kan tidak mungkin," lanjutnya.
Simak Video "Video: Diet Khusus Atlet Bisa Ditiru Warga Biasa?"
[Gambas:Video 20detik](aur/up)



























































