Ilmuwan muslim pertama yang meraih Nobel adalah Abdus Salam. Pria asal Pakistan itu merupakan seorang fisikawan peraih Nobel Fisika pada 1979, bersama dengan Sheldon Glashow dan Steven Weinberg.
Dilansir dari BBC, Salam merupakan sosok ilmuwan yang taat beribadah. Saat bekerja sepanjang hari di rumahnya di London, ia terus memutar rekaman lantunan ayat suci Al-Qur'an.
Salam bahkan tidak pernah melihat keyakinannya sebagai halangan untuk ilmu pengetahuan. Menurutnya, agama dan ilmu pengetahuan saling berkaitan satu sama lain.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salam bahkan mengatakan kepada teman sejawatnya, sebagian besar ide-ide yang dia miliki berasal dari Tuhan. Ia bekerja keras menemukan teori dasar fisika yang bisa menjelaskan semua teori fisika partikel yang dikatakan mirip dengan keyakinannya.
Kontribusi Salam kepada fisika sangat besar. Dia mengembangkan teori neutrino, partikel subatomik yang pertama kali dicetuskan oleh Pauli pada 1930.
Salam juga meneliti teori elektrolemah yang membuatnya diganjar Hadiah Nobel. Teori tersebut jadi salah satu dasar penting dalam Model Standar fisika partikel.
Teori itu menjabarkan blok bangunan terkecil dan terlemah yang berperan menciptakan semua benda padat, yang disebut sebagai partikel dasar dan bagaimana mereka berinteraksi melalui tiga gaya berbeda: elektromanetisme, interaksi lemah, dan interaksi kuat.
Salam melakukan percobaan yang mengombinasikan elektromagnetisme dan interaksi lemah menjadi satu.
Ilmuwan Muslim yang Dilupakan dalam Sejarah Pakistan
Abdus Salam meninggal di Oxford pada 1996 dan dimakamkan di Rabwah, Pakistan. Sayangnya, otoritas Pakistan kemudian menghapus kata muslim dari makam Abdus Salam karena dianggap bertentangan dengan hukum anti-Ahmadiyah. Tragedi ini disebut menyedihkan karena seorang ilmuwan besar bisa dihapus dari sejarah bangsanya akibat politik identitas dan sekratrianisme.
Abdus Salam bukan tipe ilmuwan yang hanya sibuk dengan laboratorium dan rumus. Ia memiliki obsesi besar terhadap kebangkitan dunia Islam dan dunia ketiga melalui sains. Ia percaya ilmu pengetahuan tidak boleh menjadi monopoli Barat. Dalam banyak pidatonya, Salam sering mengkritik dunia muslim yang terlalu sibuk dengan konflik internal tetapi melupakan tradisi intelektual.
Salah satu warisan terbesar Abdus Salam bukan hanya teori fisika, melainkan juga perjuangannya membangun dunia ketiga melalui ilmu pengetahuan. Salam memahami bahwa ilmuwan dari Asia, Afrika, dan Amerika Latin sering tertinggal bukan karena mereka bodoh, melainkan karena tidak memiliki fasilitas dan akses pendidikan seperti ilmuwan Barat.




































































