Warga di sekitar Plengkung Gading, Patehan, Keraton Jogja, sempat panik pada Sabtu (24/10) malam. Penyebabnya, sirine tua atau Gauk yang berada di atas Plengkung Nirbaya itu tiba-tiba meraung selama sekitar lima menit.
Dewi, warga yang rumahnya tepat di utara Plengkung Gading, mengaku warga sempat gempar karena suara sirine tersebut muncul mendadak. Sejumlah warga bahkan keluar rumah karena khawatir terjadi sesuatu.
"Wis (sudah) gempar warga sini semua dikira ada apa, iya sempat panik, ho'o iya (warga sempat keluar)," terang Dewi saat ditemui detikJogja di rumahnya, Minggu (25/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepanikan warga juga terlihat dari pesan yang masuk ke WhatsApp Dewi. Warga bertanya-tanya mengenai penyebab sirine yang tiba-tiba berbunyi tersebut.
"Ada yang WA 'kenopo, kenopo', (dijawab) 'anu sirinene muni dewe', ngono kui, tak kira 'ono perang po plengkung gading?'," sambungnya menceritakan kepanikan warga yang menghubungi dirinya melalui aplikasi perpesanan WhatsApp.
Dewi menduga sirine tersebut berbunyi sendiri akibat korsleting listrik. Ia menyebut hujan yang sudah lama tidak mengguyur Kota Jogja mungkin turut menjadi penyebabnya.
"Kayaknya (penyebabnya) korslet terus hidup sendiri, he-e gara-gara hujan juga bisa jadi (penyebabnya)," imbuhnya.
Menurut Dewi, suaminya, Fauzi, bersama ketua RT setempat kemudian mematikan sirine tersebut. Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 21.08 WIB dan berlangsung selama kurang lebih lima menit.
"Yang matiin suamiku sama pak RT, sekitar Jam 9 lebih 8 menit lah, kira-kira (sirine berbunyi selama) 5 menit," papar Dewi.
Kasi Humas Polresta Jogja, Iptu Dani Hasan, membenarkan peristiwa tersebut. Berdasarkan keterangan saksi, Gauk yang berada di atas Plengkung Nirbaya atau Plengkung Gading itu tiba-tiba berbunyi pada Sabtu malam.
"Bahwa sekira pukul 21.08 Wib Gaung (Gauk) yang ada di atas Plengkung Nirbaya atau Plengkung Gading tiba tiba berbunyi selama kurang lebih 5 menit," jelas Dani dalam keterangannya.
Dani menduga suara sirine tersebut muncul akibat gangguan pada sistem kelistrikannya.
"Dimungkinkan penyebab Gaung (Gauk) berbunyi karena ada korsleting sistem kelistrikan Gaung tersebut," ungkap Dani.
Karena tidak ditemukan kejadian darurat, saksi kemudian berkoordinasi dengan pengurus kampung dan mematikan saklar MCB yang berada di bawah tiang gaung.
"Karena tidak ada kejadian yang darurat selanjutnya saksi berkoordinasi dengan pengurus kampung, dan kemudian saksi mematikan saklar MCB yang berada di bawah tiang gaung," sambungnya.
Gauk Plengkung Gading didirikan pada 1930, bersamaan dengan Gauk yang berada di kawasan Pasar Beringharjo, Jogja. Pada awalnya, sirine tersebut berfungsi sebagai penanda adanya serangan musuh.
Kini, Gauk digunakan sebagai penanda waktu berbuka puasa pada bulan Ramadan serta dibunyikan dalam peringatan hari-hari besar tertentu.
"Gaung Nirbaya atau Gaung Plengkung Gading berbunyi pada saat peringatan detik-detik Proklamasi dan sebagai tanda berbuka puasa saat bulan Ramadhan," pungkas Dani.
Baca juga: Zalina Azman |

































































