Bagi Umat Islam, bulan Agustus ini setidaknya ada 2 peristiwa besar yang patut dikenang dan dirayakan yakni: 81 tahun Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan Maulid Nabi Muhammad SAW. Proklamasi dan Maulid Nabi memang dirayakan secara terpisah. Namun disadari atau tidak keduanya memiliki tujuan yang sama: membangun kehidupan yang berkeadilan, beradab, dan membawa rahmat.
Proklamasi adalah nikmat kemerdekaan yang wajib disyukuri dan diwarisi. 17 Agustus 1945 bukan sekadar deretan tanggal dalam kalender. Itu hari di mana Allah SWT memberikan anugerah kemerdekaan kepada bangsa ini setelah mengalami penjajahan selama ratusan tahun. Kemerdekaan adalah nikmat besar yang tidak bisa dibayar dengan uang.
Sejenak kita mencoba membayangkan, dahulu nenek moyang kita tidak boleh pakai bendera sendiri. Tidak boleh bersuara. Sumber daya diangkut ke negeri orang. Sekarang kita bisa sholat di masjid, ngaji di pesantren, dagang di pasar, kuliah, bikin usaha tanpa takut ditangkap.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sudah semestinya kita mensyukuri nikmat kemerdekaan yang tahun ini sudah berumur 81 tahun. Syukur kepada bangsa berarti menjaga warisan para pendiri bangsa. Rasulullah SAW bersabda, "Tidak bersyukur kepada manusia berarti tidak bersyukur kepada Allah," (HR. Tirmidzi).
Allah SWT berfirman di dalam Alquran Surat Ibrahim ayat 7
وَاِذۡ تَاَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَٮِٕنۡ شَكَرۡتُمۡ لَاَزِيۡدَنَّـكُمۡ وَلَٮِٕنۡ كَفَرۡتُمۡ اِنَّ عَذَابِىۡ لَشَدِيۡدٌ
Artinya: Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat."
Kalau kita syukuri kemerdekaan dengan menjaga Indonesia, maka Allah SWT akan tambahkan bangsa ini rasa aman, adil, makmur.
Proklamasi dan Maulid Nabi, Dua Peringatan Satu Arah
Dari dua peringatan: Proklamasi dan Maulid Nabi kita belajar, bagaimana membangun peradaban rakyat. Kedua peristiwa tersebut sama sama momen lahirnya kemerdekaan.
Proklamasi 17 Agustus 1945 adalah "maulid"-nya bangsa Indonesia. Hari lahirnya bangsa yang merdeka. Deklarasi bahwa kita bebas menentukan nasib sendiri, bebas beribadah, bebas membangun negeri sesuai fitrah.
Sementara Maulid Nabi adalah hari lahirnya Nabi Muhammad SAW. Beliau lahir untuk memerdekakan manusia, dari perbudakan menuju tauhid. Dari jahiliyah menuju adab. Dari zalim menuju adil.
Jadi kalau Maulid memerdekakan manusia dari penghambaan selain Allah SWT, maka Proklamasi memerdekakan bangsa dari penghambaan kepada penjajah.
Bayangkan kalau ada akhlak Nabi tapi tidak ada negara yang merdeka. Dakwah akan selalu dibungkam.
Sebaliknya, bayangkan kalau ada negara merdeka tapi tidak ada akhlak Nabi. Kemerdekaan akan jadi ajang korupsi, serakah, dan merusak alam seperti sekarang.
Karena itu kemerdekaan bukan tujuan akhir. Ia adalah wasilah. Alat. Alat untuk apa? Untuk mewujudkan "rahmatan lil 'alamin" di bumi Indonesia.
Nabi datang membawa rahmat. Para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan agar rahmat itu bisa dijalankan tanpa gangguan.
Merayakan Maulid tanpa semangat menjaga negeri itu kosong. Dan bagi Muslim upacara 17 Agustus tanpa semangat meneladani Nabi itu hampa.
Para pendiri bangsa mewariskan tanah air yang kaya. Hutan Kalimantan, laut Nusantara, tanah pertanian di Jawa. Kemerdekaan berarti tanggung jawab mengelola titipan ini agar anak cucu masih bisa hidup layak.
Ironisnya, di usia 81 tahun kemerdekaan, kita masih berhadapan dengan banjir, kebakaran hutan, polusi, dan sampah plastik. Itu bukan sekadar masalah teknis. Itu soal amanah. Proklamasi mengingatkan: merdeka berarti berdaulat atas diri sendiri, termasuk berdaulat untuk tidak merusak rumah sendiri.
Tahun ini ada satu panggilan lagi yang makin keras terdengar: Taubat Ekologis. Bukan sekadar jargon lingkungan. Ini panggilan iman.
Di dalam Alquran Surat Al-Anbiya ayat 107 Allah SWT berfirman,
وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ
Artinya: Kami tidak mengutus engkau (Nabi Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Rahmat itu tidak berhenti pada manusia. Nabi menanam pohon, melarang merusak sumur, menyayangi hewan, dan menegakkan keadilan ekonomi. Beliau membangun Madinah bukan hanya dengan masjid, tapi juga dengan pasar yang jujur, sumur umum, dan perjanjian damai dengan alam.
Maulid bukan hanya soal membaca sholawat dan sejarah. Maulid adalah audit diri: sudahkah akhlak kita menjadi rahmat? Bagi tetangga, bagi pekerja, dan bagi sungai, hutan, serta udara yang kita hirup.
Tanpa akhlak, kemerdekaan jadi liar. Tanpa kemerdekaan, dakwah-dakwah jadi retorika. Tanpa menjaga bumi, kedua-duanya kehilangan tempat berpijak.
Dulu Nabi Muhammad SAW diuji dengan kaum Quraisy. Dulu para pejuang diuji dengan penjajah. Kini di era modern kita diuji dengan 3 hal: Konsumerisme, Korupsi, dan Kerusakan Ekologi.
Kalau kita jawab 3 ujian ini dengan akhlak Maulid dan semangat Proklamasi, maka kita benar-benar "mewarisi" kemerdekaan.
Karena sejatinya, mencintai Nabi, mencintai negeri, dan mencintai bumi adalah satu napas. Napas seorang manusia yang diutus Allah SWT sebagai khalifah di muka bumi.
"Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya"(QS. Al-A'raf: 56)
Erwin Dariyanto
Penulis adalah jurnalis, Redaktur Pelaksana detikHikmah alumni Magister Perencanaan Ekonomi dan Kebijakan Pembangunan Universitas Indonesia.
Artikel ini adalah pendapat pribadi penulis dan tidak mewakili sikap serta pandangan institusi di mana penulis berkarya. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis. (Salam - Redaksi)




































































